EMOSI
I.
PENDAHULUAN
Pada pembahsan terdahulu telah diuraikan
tentang tiga unsur pada manusia yaitu ruh, akal dan jasad. Begitu juga pembahasan
tentang hati, dimana kita ketahui bahwa ruh dan akal terletak di hati. Selanjutnya
kita akan membahas tentang emosi yang artinya keadaan jiwa yang menampakkan diri
dengan suatu perubahan yang jelas pada tubuh jadi emosi adalah suatu perasaan dan
pikiran yang mendorong sesorang untuk bertindak. Maka emosi bisa menjadi
motivator buat kita dalam meningkatkan kualitas amal, tapi juga bisa menjadi penghambat,
semuanya tergantung pada kemampuan diri dalam mengelola emosi itu sendiri. (Spirit Muslimah Sejati, Siswati Ummu
Ahmad< Pustaka Arafah, cetaka I/2012, hal 33)
Dari uraian di atas dan
pembahasan selanjutnya akan terlihat bahwa sesorang bisa mengontrol emosi
dipengaruhi keadaan hati saat tersebut apabila berada dalam hati yang salim
maka tentu akan dapat mengontrol emosinya dengan benar, begitu juga sebaliknya
ketika hatinya sakit. Dan akal yang memerintah jasad untuk bertindak juga
dipengaruhi oleh kondisi hati.
Dalam kehidupan manusia sehari-hari
tidakakan pernah terlepas dari berbagai emosi. Seringkali di kalangan
masyarakat memahami makna emosi hanya terbatas pada sikap dan perilaku marah
saja, padahal cakupan emosi amatlah luas karena makna emosi seperti di atas.
Emosi di sini dibagi dua yaitu emosi positip (emosi yang berdampak pada perasan
yang menguntungkan) seperti rasa senang,
cinta, takjub, dan emosi negatif(emosi yang berdampak pada perasaan yang tidak
menguntungkan) seperti sedih, marah, takut, terkejut. Allah menganugerahi beberapa
emosi kepada manusia agar mereka mampu membentengi diri dari bahaya yang
mengancam keselamatannya dan mampu melindungi kehidupannya serta mengatur aktivitasnya.
Emosi manusia adalah penggerak, pendorong dan penunjuk bagi tingkah lakunya
yang secararflek akan menggerakkan mereka dan emosi ini sangat dipengaruhi oleh
keadaan hati dan akal, seperti yang akan diuraikan dalam jenis emosi dan pengendaliaannya
di bawah ini.
II.
Sebab-sebab Bergejolaknya Emosi
rasa mual.
Ada beberapa sebab-sebab bergejolaknya sebuah emosi yang
melibatkan faktor ‘psikologis dan fisiologis , di antaranya:
1.
Kepribadian
Kepribadian memberi
kecenderungan kepada orang untuk mengalami suasana hati dan emosi
tertentu, contohnya beberapa orang merasa bersalah dan merasakan kemarahan
dengan lebih mudah dibandingkan orang lain, sedangkan orang lain mungkin merasa
tenang dan rileks dalam situasi apa pun. Intinya, beberapa orang memiliki
kecenderungan untuk memiliki emosi apa pun secara lebih intens atau memiliki
intensitas afek (perbedaan individual dalam kekuatan di mana individu-individu
mengalami emosi mereka) tinggi. Kepribadian orang sangat dipengaruhi oleh
karakter masing-masing, macam-macam karakter manusia :
Macam-Macam
Karakter Manusia
Dalam
dunia psikologi mengenal empat macam-macam karakter atau temperamen manusia.
Empat karakter tersebut ialah:
a.
Sanguinis
Karakter ini mempunyai ciri yaitu periang, suka bergaul, punya banyak teman, suka keramaian, suka tampil atau istilahnya suka diperhatiin orang. Kelebihan: mudah bergaul pemberi semangat, suasana jadi lebih ceria kalau ada sanguinis. Kelemahan: cenderung bawel, maunya ngomong terus. Ciri sanguinis : "lihat aku"
Karakter ini mempunyai ciri yaitu periang, suka bergaul, punya banyak teman, suka keramaian, suka tampil atau istilahnya suka diperhatiin orang. Kelebihan: mudah bergaul pemberi semangat, suasana jadi lebih ceria kalau ada sanguinis. Kelemahan: cenderung bawel, maunya ngomong terus. Ciri sanguinis : "lihat aku"
b. Kholerik
Karakter ini mempunyai ciri berjiwa pemimpin yang inginnya memimpin dalam suatu organisasi, mampu melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Kelebihan: kholerik selalu punya ide-ide baru, berjiwapemimpin, tegas, percaya diri kelemahan: cenderung maunya memerintah, egois, galak, cepat marah. ciri kholerik : "hargai aku"
Karakter ini mempunyai ciri berjiwa pemimpin yang inginnya memimpin dalam suatu organisasi, mampu melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Kelebihan: kholerik selalu punya ide-ide baru, berjiwapemimpin, tegas, percaya diri kelemahan: cenderung maunya memerintah, egois, galak, cepat marah. ciri kholerik : "hargai aku"
c. Melankolis
Karakter ini mempunyai ciri sebagai orang yang perasa, selalu inginnya sempurna dalam melakukan segala sesuatu, selalu melakukan perhitungan dalam melakukan segala sesuatu dan melihat resiko-resikonya. Kelebihan: selalu ingin sempurna sehingga melakukan segala sesuatunya dengan detail dan terperinci, ekonomis, hidup dalam keteraturan, berbakat, suka meneliti, hemat. Kelemahan: pesimis, pemalu dan pendiam, cepat putus asa bila rencananya tidak sempurna, selalu memikirkan yang negatif dahulu dalam segala sesuatu. Ciri melankolis : "pahami aku"
Karakter ini mempunyai ciri sebagai orang yang perasa, selalu inginnya sempurna dalam melakukan segala sesuatu, selalu melakukan perhitungan dalam melakukan segala sesuatu dan melihat resiko-resikonya. Kelebihan: selalu ingin sempurna sehingga melakukan segala sesuatunya dengan detail dan terperinci, ekonomis, hidup dalam keteraturan, berbakat, suka meneliti, hemat. Kelemahan: pesimis, pemalu dan pendiam, cepat putus asa bila rencananya tidak sempurna, selalu memikirkan yang negatif dahulu dalam segala sesuatu. Ciri melankolis : "pahami aku"
d. Phlegmatis
Karakter ini mempunyai ciri yang cenderung santai dan cuek, berusaha tidak terlibat dalam pekerjaan apapun yang membuatnya repot. Kelebihan: cinta damai, dapat menjadi penengah dalam suatu konflik, santai, pekerja yang rajin dan bertanggung jawab. Kelemahan: cuek dengan sekitar, tidak suka bergaul, lambat dalam melakukan sesuatu ciri phlegmatis : "hormati aku".
Karakter ini mempunyai ciri yang cenderung santai dan cuek, berusaha tidak terlibat dalam pekerjaan apapun yang membuatnya repot. Kelebihan: cinta damai, dapat menjadi penengah dalam suatu konflik, santai, pekerja yang rajin dan bertanggung jawab. Kelemahan: cuek dengan sekitar, tidak suka bergaul, lambat dalam melakukan sesuatu ciri phlegmatis : "hormati aku".
Itulah ke empat temperamen manusia.Secara umum
biasanya seseorang mempunyai 2 temperamen yang dominan dalam dirinya, namun
tetap ada satu temperamen yang paling mendominasi di antara semuanya. Nah
setelah kita mengetahui macam-macam karakter manusia, tugas kita selanjutnya
adalah mengenal karakter kita untuk menemukan cara dan metode yang pas untuk
mencapai tujuan. Mengenal keunggulan memudahkan untuk kita menggali dan
melejitkan potensi, sedang mengenali kelemahan memudahkan kita untuk
meminimalkan kesalahan yang sama. Bukan hanya itu, kita juga harus
mengkombinasikan berbagai karakter untuk membentuk suatu kepribadian yang unik,
menarik, dan special bernama pribadi muslimah yang matang (Spirit Muslimah Sejati< Siswati Ummu Ahmad, Pustaka Arofah<
cetakan I, hal 47-51)
2.
Hari dalam
seminggu dan waktu dalam sehari
Orang-orang cenderung berada dalam suasanan hati terburuk di awal
minggu dan berada daam suasana hati terbaik di akhir minggu.
3.
Cuaca
Cuaca menjadi
sebuah peristiwa yang luar biasa sedikit pengaruh terhadap suasana hati.Seorang
ahli menyimpulkanStres
Sebuah penelitian menghasilkan pernyataan,
"Adanya peristiwa yang terus-menerus terjadi yang menimbulkan stres tingkat
rendah menyebabkan para pekerja mengalami tingkat ketegangan yang semakin lama
seiring berjalannya waktu semakin meningkat.
4.
Aktivitas
sosial
Orang-orang dengan suasana hati positif
biasanya mencari interaksi sosial dan sebaliknya, interaksi sosial
menyebabkan orang-orang mempunyai suasana hati yang baik.Jenis aktivitas sosial
juga berpengaruh.Penelitian
mengungkap bahwa aktivitas sosial yang bersifat fisik, informal, atau Epicurean
lebih diasosiasikan secara kuat dengan peningkatan suasana hati yang positif
dibandingkan dengan kejadian-kejadian formal atau yang bersifat duduk
terus-menerus.[4]
5.
Tidur
Kualitas tidur
memengaruhi suasana hati.Para sarjana dan pekerja dewasa yang tidak memperoleh
tidur yang cukup melaporkan adanya perasaan kelelahan yang lebih besar,
kemarahan, dan ketidakramahan.Satu dari alasan mengapa tidur yang lebih
sedikit, atau kualitas tidur yang buruk, menempatkan orang dalam suasana hati
yang buruk karena hal tersebut memperburuk pengambilan keputusan dan membuatnya
sulit untuk mengontrol emosi.
6.
Olahraga
7.
Usia
Suatu penelitian atas orang-orang yang berusia
18 hingga 94 tahun mengungkapkan bahwa emosi negatif tampaknya semakin jarang
terjadi seiring bertambahnya usia
seseorang.
8.
Gender
Dalam perbandingan antargender, wanita
menunjukkan ekspresi emosional yang lebih besar dibandingkan pria.Mereka megalami emosi secara lebih
intens dan mereka menunjukkan ekspresi emosi positif maupun negatif yang lebih
sering, kecuali kemarahan.Tidak seperti pria, wanita juga menyatakan lebih
nyaman dalam mengekpresikan emosi dan mampu membaca petunjuk nonverbal dan
paralinguistik secara lebih baik..
9.
Cuaca
Cuaca menjadi
sebuah peristiwa yang luar biasa sedikit pengaruh terhadap suasana hati.Seorang
ahli menyimpulkan, " Stres
Sebuah penelitian menghasilkan pernyataan,
"Adanya peristiwa yang terus-menerus terjadi yang menimbulkan stres tingkat
rendah menyebabkan para pekerja mengalami tingkat ketegangan yang semakin lama
seiring berjalannya waktu semakin meningkat.
10.
Aktivitas
sosial
Orang-orang dengan suasana hati positif
biasanya mencari interaksi sosial dan sebaliknya, interaksi sosial
menyebabkan orang-orang mempunyai suasana hati yang baik.Jenis aktivitas sosial
juga berpengaruh.Penelitian
mengungkap bahwa aktivitas sosial yang bersifat fisik, informal, atau Epicurean
lebih diasosiasikan secara kuat dengan peningkatan suasana hati yang positif
dibandingkan dengan kejadian-kejadian formal atau yang bersifat duduk
terus-menerus.[4]
11.
Tidur
Kualitas tidur
memengaruhi suasana hati.Para sarjana dan pekerja dewasa yang tidak memperoleh
tidur yang cukup melaporkan adanya perasaan kelelahan yang lebih besar,
kemarahan, dan ketidakramahan.Satu dari alasan mengapa tidur yang lebih
sedikit, atau kualitas tidur yang buruk, menempatkan orang dalam suasana hati
yang buruk karena hal tersebut memperburuk pengambilan keputusan dan membuatnya
sulit untuk mengontrol emosi.
12.
Olahraga
13.
Usia
Suatu penelitian atas orang-orang yang berusia
18 hingga 94 tahun mengungkapkan bahwa emosi negatif tampaknya semakin jarang
terjadi seiring bertambahnya usia
seseorang.
14.
Gender
Dalam perbandingan antar, wanita
menunjukkan ekspresi emosional yang lebih besar dibandingkan pria.Mereka megalami emosi secara lebih
intens dan mereka menunjukkan ekspresi emosi positif maupun negatif yang lebih
sering, kecuali kemarahan.Tidak seperti pria, wanita juga menyatakan lebih
nyaman dalam mengekpresikan emosi dan mampu membaca petunjuk nonverbal dan
paralinguistik secara lebih baik.
Jadi proses kemunculan emosi melibatkan faktor psikologis maupun
fisiologis, diantaranya kepribadian, hari dalam seminggu waktu dalam sehari,
cuaca, stress, aktivitas sosial, tidur, olahraga, usia, dan gender. Tapi ini
semua tidak mutlak mempengaruhi emosi seseorang. Karena ini semua hanya teori
manusia dan yang behak membolak-balikkan hati sehingga bisa menentukan tindakan
manusia hanyalah Allah semata.
III.
Jenis-jenis emosi dan pengendaliannya.
a. Emosi
gembira/senang
Emosi senang umumnya didefinisikan sebagai segala sesuatu yang membuat
kepuasan dalam hidup. Perasaan senang (cinta, gembira, puas, bahagia) adalah
kondisi-kondisi yang senantiasa didambakan oleh setiap individu apa pun latar
belakangnya. Sebagian menjadikan ukuran
kesenangan itu pada harta yang melimpah, kesehatan yang prima, jabatan yang
bergengsi, atau keluarga yang rukun dan sejahtera, sementara yang lain pada
hal-hal di luar itu. Oleh karena itu, objek yang dapat membuat orang senang
atau bahagia tidak bisa diukur sama untuk semua individu. Namun, secara umum
al-Qur’ân menyatakan bahwa manusia memiliki rasa senang kepada wanita (lawan
jenis), anak cucu, harta yang melimpah, kendaraan mewah, dan kekayaan lainnya
(Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 14).
Ekspresi emosi senang dijumpai dalam beberapa ayat al-Qur’ân yang
dengan jelas mengungkapkan terjadinya perubahan-perubahan pada wajah menjadi
berseri-seri yang dapat diamati oleh orang lain yang menyaksikannya. Ayat-ayat
al-Qur’ân tersebut misalnya Q.S. al-Insân [76]: 11; ‘Abasa [80]: 38-39;
al-Muthaffifîn [83]: 22-24; al-Insyiqâq [84]: 7-9. Q.S. ‘Abasa [80]: 38-39:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ 0 ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ
“Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria.” (Q.S. ‘Abasa [80]: 38-39)
Ungkapan Senang
dalam al Qur’an meraih kenikmatan dan terhindar dari kesulitan misalnya
dijumpai dalam Q.S. Hûd [11]: 10; al-Rûm [30]: 36; al-Syûrâ [42]: 48; Âlu
‘Imrân [3]: 170; Yûnus [10]: 58; Yûsuf [12]: 33-34. Senang terhadap lawan jenis
(Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 14; al-Rûm [30]: 21; Yûsuf [12]: 30-32), senang terhadap
harta (al-Fajr [89]: 20; al-‘Âdiyât [100]: 8; al-Kahf [18]: 34; al-Ra‘d [13]:
26), senang memberi atau menerima (al-Hasyr [59]: 9; al-Naml [27]: 36;
al-Tawbah [9]: 58-59; al-Insân [76]: 8-9; al-Nisâ’ [4]: 4). Sementara senang
terhadap hasil usaha (prestasi) dapat dilihat misalnya dalam Q.S. al-Rûm [30]:
2-4; al-An‘âm [6]: 135; Âlu ‘Imrân [3]: 188; Ghâfir [40]: 83. Ada pula bentuk
kesenangan yang menyimpang dari fitrah kemanusiaan, yaitu jika seseorang senang
terhadap kesulitan orang lain (Âlu ‘Imrân [3]: 120; al-Tawbah [9]: 50). Jenis
yang terakhir ini tentu harus dihindari karena bertentangan dengan ajaran
agama.
Sedangkan Q.S. al-Hasyr [59]: 9 turun dalam kasus Abu Thalhah
(yang lain menyebut Tsâbit ibn Qays, atau Abû Nashr Abd al-Rahîm) yang
begitu berempati kepada tamunya ‘pengungsi’ dari kaum Muhajirin. Ia sendiri
kesulitan dalam hidupnya tetapi masih tetap mengutamakan tamunya meski harus
memberikan makanan yang tadinya untuk anak balitanya. Walaupun ayat ini turun
untuk apresiasi terhadap emosi senang yang ditunjukkan seorang Ansar kepada
Muhajirin, namun kondisi itu merata pada hampir semua kaum Anshar. Faktor
senang membantu tamu-tamu itu merupakan gejala umum di masyarakat Madinah.
Mereka memberi apa yang dibutuhkan oleh tamu-tamunya meskipun sebenarnya mereka
juga butuh, termasuk mereka yang memiliki istri lebih dari satu dengan rela
diberikan kepada tamu-tamu Muhajirin. Ini suatu contoh bagaimana orang yang
berhati sehat bisa mengelola rasa senangnya.
Berbeda dengan apa yang dijelaskan dalam Q.S. al-Taubah [9]: 58-59.
Ayat ini turun pada kasus Ibn Dzu al-Khuwaysharah al-Tamimi (atau pada Abu
al-Jawaz, atau Abu al-Jawth–ada yang menyebutnya, munafik), ia memprotes
keadilan Rasulullah ketika membagi sedekah dan harta rampasan perang (ghanîmah,
al-fay’) karena ia tidak mendapat bagian. Orang-orang munafik ketika
mendapat bagian mereka meluapkan kesenangan, tetapi ketika tidak, serta-merta
mereka menggerutu dan marah. Atau, ketika mendapat banyak amat senang, tapi
ketika sedikit mereka jengkel “إن أعطوا كثيرا فرحوا وإن أعطوا قليلا سخطوا”. Dan
inilah contoh orang yang hatinya sakit dalam mengelola emosinya.
Al-Qur’ân melarang manusia melampiaskan emosi senangnya dengan
berlebih-lebihan, cara-cara yang tak lazim, atau akibat kesombongan dan maksiat
(Q.S. al-Qashash [28]: 76; Ghâfir [40]: 75-76; al-Hadîd [57]: 23).
Larangan mengungkapkan emosi senang yang terdapat pada 28:76 hendaklah dipahami
sebagai emosi senang yang berlebihan dan yang membawa pada kebanggaan terhadap diri
sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh Qarun ibn Yushar ibn Qahits ibn Lawi.
Karena ternyata harta kekayaan dan pernik-pernik duniawi dapat membangkitkan
emosi senang berlebihan dan dapat menjauhkan manusia dari Allah. Allah tidak
suka kepada orang yang mengungkapkan kegembiraannya (seperti dapat dibaca pada
Q.S. al-Qashash [28]: 76) adalah jika dilakukan secara berlebih-lebihan dan
semata-mata dalam hal keduniawian yang menyebabkan manusia lupa pada
eksistensi Tuhan sebagai sumber kesenangan itu. Apalagi jika ungkapan emosi
senang itu terjadi karena kemaksiatan yang dilakukan, sebagaimana dijelaskan
Q.S. Ghâfir [40]: 75.
b.
Emosi Takjub
Emosi takjub sama dengan heran dan kaget, diperlukan dalam kehidupan
manusia, karena hal itu memberi peringatan dan pewaspadaan terhadap sesuatu
yang dapat mengancam kehidupan. Sesuatu yang tak lazim sekonyong-konyong muncul
atau dijumpai di sekitar kita perlu diwaspadai kalau-kalau hal itu berbahaya
bagi kehidupan.
Emosi kaget (heran, takjub) yang dialami oleh manusia pada umumnya
diekspresikan dengan berteriak spontan, terperanjat, mata membelalak,
merinding, merunduk, latah, meneteskan air mata, menertawai, diam seribu
bahasa, termangu, terpesona, dan sebagainya. Ekspresi heran dan kaget ini juga
telah digambarkan di dalam al-Qur’ân dengan sangat spektakuler, misalnya Q.S.
Yûsuf [12]: 31:
فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَءَاتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلاَّ مَلَكٌ كَرِيمٌ
“Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka,
diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk,
dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong
jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): ‘Keluarlah (nampakkanlah dirimu)
kepada mereka.’ Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada
(keelokan rupa) nya dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: ‘Maha
sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah
malaikat yang mulia.”
Ayat-ayat yang menerangkan tentang adanya peristiwa yang mengherankan
(menakjubkan) terjadi di luar kebiasaan antara lain: emosi heran berkenaan
dengan malaikat (Q.S. Hûd [11]: 70), berkenaan dengan jin (Q.S. al-Jinn [72]:
1), berkenaan dengan manusia (Q.S. Shâd [38]: 22), berkenaan dengan hewan (Q.S.
al-Kahf [18]: 63), berkenaan dengan tumbuh-tumbuhan (Q.S. al-Wâqi‘ah [56]:
63-65, lihat lebih lanjut 68:17-33), dan emosi heran berkenaan dengan sejarah
masa lalu (misalnya Q.S. al-Kahf [18]: 9; al-Baqarah [2]: 258).
Kemampuan dan kehebatan luar biasa yang dimiliki seseorang dapat
mengundang keheranan (takjub, ta‘ajjub) dari orang lain. Kehebatan itu,
sebagaimana dapat dibaca dari ayat-ayat al-Qur’ân, misalnya para pembawa risalah
Allah yang memiliki kemampuan lebih dibanding dengan manusia pada umumnya
(komunikasi melalui wahyu dengan Allah, mukjizat, integritas pribadi yang
prima). Kelebihan lain yang juga dapat membuat orang heran adalah bentuk fisik,
harta kekayaan, dan anak keturunan, jika hal itu tidak lazim dari biasanya
menurut ukuran normal. Q.S. Qâf [50]: 2 merujuk pada ekspresi keheranan yang
ditunjukkan orang yang tak percaya atau ragu tentang kemungkinan seorang
manusia menjadi pembawa risalah dari Allah.. Ekspresi heran terhadap kemampuan
diri sendiri tergambar dalam Q.S. Hûd [11]: 72-73 ketika istri Nabi Ibrahim
yang sudah menopause diberitakan akan melahirkan seorang anak. Kata ‘ajûz
dalam bahasa Arab diartikan sebagai nenek yang telah renta.
c.
Cinta
Cinta menggerakkan seorang pencinta untuk mencari yang dicintainya,dan
kecintaannya akan sempurna manakal ia telah mendapatkannya. Maka cinta itulah
pencinta Ar Rahman, pencinta Al Qur’an, pencinta ilmu dan iman, pencinta materi
dan uang, pencinta berhala-berhala, pencinta wanita dan anak-anak, pencinta
tanah ar . Hatinya akan digerakkan kepada yang dicintainya. Ighostatul Lahfan fi Mashayidisy Syaithan
Ibnu Qoyyim (edisi Indonesia, hal 346)
Semua kecintaan itu adalah batil kecuali kecintaan kepada Allah. Qs At
Taubah:24,
a. Mempersiapkan
yang matang bila terkait dalam masalah sesuatu yang ditampilkan.
iv. Mengelola rasa cinta.
Cinta itu qodrat (sudah menjadi taqdir
bagi setiap insan).Ia adalah sebuah kekuatan dan energy yang selalu hidup. Ia
akan menjadikan pemiliknya baik dan sukses dalam mengarungi kehidupan dunia
maupun akhirat. Dan ia yang bisa menghancurkan masa depan pemiliknya, karena ia
merupakan sebuah kekuatan, sebuah energy dan motivasi yang kuat maka butuh
menegement yang kuat dalam menngelaknya. Oleh karena itu islam menaruh
perhatian dalam persoalan cinta sampai-sampai para ulama berkesimpulan nyawa
dalam sebuah ibadah adalah cinta. Bahkan ia bagi ibadah ibarat kepala bagi
badan. Demikian juga kesyirikan yang kronis terjadi karena virus cinta, oleh
sebab itu para ulama mencatat syirk mahabbah (cinta) pada urutan pertama dalam
sekian syirik yang ada..
cara mengelola cinta:
a. berusahalah
untuk mencari cinta yang hakiki Qs At Taubah:24.
b. Buktikanlah
cintamu, Qs Al Baqarah:165. Dan berusahalah menempatkan kecintaan kepada Allah
dan kecintaan kepada RasulNya di atas kecintaan kepada yang lainnya, dan
buktikanlah rasa cinta itu denga bersegera memenuhin perintahNya dan mnjauhi
laranghanNya.
c. Membaca
kisah-kisah para pecinta. Al Qur’an membahas kisah orang yang benar kecintaannya
kepada Allah dan kisah orang yang salah dalam masalah cinta, srta akibatnya
mendapat pahala atau siksaan.
d. Berdoa
kepada Allah, karena Allah yang menguasai hati manusia.
e. Rela
meninggalkan cinta yang batil. Seperti Hadits yang artinya barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan
menggantikannya dengan yang lebih baik.
d.
Emosi sedih
Yaitu terlepasnya diri dari
kegembiraan karena dirundung dukacita, meratapi sesuatu yang telah hilang atau
merasa sakit karena sesutau yang hilang tersebut.( ManhajTarbiyah (edisi Indonesia)m IbnuQoyyim, Pustaka Al Kautsar,
I/2001 hal 177)
Dalam kenyataan hidup sehari-hari tidak selamanya manusia bergembira,
adakalanya juga bersedih. Sedih karena gagal meraih sukses, mendapat kesulitan,
ditinggal orang yang dicintai, atau sebab yang lain. Begitulah kehidupan
terjadi silih berganti (Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 140). Tertawa atau menangis sudah
merupakan bawaan (naluri, gharîzah) karunia dari Allah. Dari sejak lahir
manusia sudah pandai menangis dan tersenyum. Setelah mulai menapaki kehidupan
orang belajar dari lingkungannya kapan tempatnya tertawa dan kapan pula
menangis. Q.S. al-Najm [53]: 43 menjelaskan:
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
“Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.”
Kesedihan memang sesuatu yang tidak diharapkan, tetapi senang atau
tidak senang, pasti ada dalam perjalanan hidup manusia. Rasulullah saw. sendiri
pernah mengalami kesedihan bertubi-tubi, antara lain ditinggalkan oleh
orang-orang yang dikasihinya dalam selang waktu relatif singkat, sehingga tahun
kejadian itu dikenal dalam sejarah sebagai âm al-huzn (tahun
kesedihan, tahun 619 H). Cobaan yang dialaminya cukup berat sampai tiba
saatnya mendapat kelapangan. Kesedihan berganti dengan kebahagiaan, beban
berat terlewati, dan memang sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Sungguh!
(Q.S. al-Insyirâh [94]: 1-8).
Pada umumnya, yang kita kenali dalam ekspresi emosi sedih
adalah tangis. Akan tetapi, tidak berarti bahwa
setiap orang yang menangis pasti bersedih, karena ternyata ada tangis bahagia,
tangis haru, atau bahkan ada tangis pura-pura seperti terjadi pada kisah
saudara-saudara Yusuf. Ekspresi lain adalah raut wajah yang menggambarkan
suasana hati ketika sedang bersedih: dingin, pucat, pandangan lesu, tanpa
senyum, tidak bergairah.
Beberapa ayat al-Qur’ân menjelaskan model-model ekspresi emosi sedih
yang diperankan oleh manusia. Pertama, ekspresi emosi sedih dengan
cucuran air mata yang memancarkan perasaan yang dialami (Q.S. al-Tawbah [9]:
92); kedua, tangis yang dibuat-buat untuk memberi kesan kesedihan atau
sandiwara (Q.S. Yûsuf [12]: 15-16); ketiga, ekspresi sedih dalam bentuk
perilaku menarik diri (withdrawal, tawallâ) disertai mata yang
berkaca-kaca (Q.S. Yûsuf [12]: 84-86).
Pada umumnya, kesedihan muncul ketika seseorang ditimpa kesulitan,
kemalangan, atau kondisi-kondisi yang sangat tak diharapkan lainnya. Kesedihan
pasti ada dalam setiap kehidupan manusia, hanya tinggal bagaimana orang itu
memaknai setiap peristiwa yang dialaminya, lihat Q.S. Fushshilat [41]: 49;
al-Ma‘ârij [70]: 19-22; Ghâfir [40]: 18; al-Zukhruf [43]: 17; Shâd [38]: 27;
Âlu ‘Imrân [3]: 191. Orang mukmin sejati yang senantiasa memelihara
ketakwaannya sangat pandai memaknai setiap peristiwa yang terjadi sehingga
mereka tidak mudah larut dalam kesedihan atau keputusasaan (Q.S. al-An‘âm [6]:
48; Yûnus [10]: 62-63; al-Ahqâf [46]: 13; al-Zumar [39]: 61; al-A‘râf
[7]: 35; al-Baqarah [2]: 122, 277). Kalaupun ada orang mukmin bersedih, hal itu
karena ia tidak mampu memaksimalkan kebaikan yang seharusnya bisa dilakukannya
(Q.S. al-Tawbah [9]: 92) seperti pada Kelompok Tujuh atau Kelompok al-Bakkâ’ûn
(orang-orang yang mencucurkan air mata sedih karena gagal berpartisipasi
dalam suatu perang jihad yang mereka rindukan).
Cara Mengatasi kesedihan:
i.
Tidak menyerah terhadap kesedihan, sehingga kesedihan
tersebut tidak mampu menguasainya.
ii.
Mencari jalan keluar dari jerat kesedihannya dan
memikirkan hal-hal yang mampu dijadikan sebagai penawar dan penolak kesedihan.
iii.
Kmbali kepada Allah seraya memohon kepadaNYa
agar dijauhkan dari kesedihan dangundah gulana.
iv.
Menanamkan ma’rifatullah dan kasih saying Allah
kepada hambaNYa kedalam hati, QS AT Taubah:40
( ManhajTarbiyah Ibnu Qoyyim
(edisi Indonesia), Pustaka Al Kautsar, I/2001 hal 179)
e.
Emosi Takut
Emosi takut merupakan salah satu emosi yang sangat penting dalam
kehidupan manusia, karena berperan untuk mempertahankan diri dari berbagai
masalah yang dapat mengancam kehidupan itu sendiri. Emosi takut manusia dalam
penuturan al-Qur’ân mempunyai cakupan yang luas. Bukan hanya gambaran ketakutan
di dunia ini seperti ketakutan pada kelaparan, kehilangan jiwa dan harta,
bencana alam, melainkan juga menyangkut ketakutan pada kesengsaraan hidup di
akhirat. Hal ini menjadi pembeda yang tegas antara orang beriman yang percaya
pada kehidupan akhirat dengan yang tidak. Ketakutan pada orang beriman juga
menjadi ajang promosi baginya untuk mencapai suatu predikat tertentu dalam
pandangan Allah. Firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 155 (juga Q.S. al-Nahl
[16]: 112)
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah
berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Manfaat emosi takut menurut al-Qur’ân tidak hanya untuk menjaga
manusia dari berbagai bahaya yang mengancam kehidupannya di dunia ini, tetapi
juga mendorong setiap mukmin untuk memelihara dirinya dari azab Allah di
akhirat.
Perubahan tingkah laku karena emosi takut umumnya diekspresikan dalam
bentuk perubahan pada raut muka menjadi pucat pasih, berteriak histeris (scream),
loncat dan berlari, merunduk, menutup telinga, menghindar, atau tindakan lain.
Perubahan dapat terjadi berupa denyut nadi meningkat, jantung berdebar-debar,
pandangan mata kabur, keluar keringat dingin, persendian terasa lemas.
Ekspresi berupa tingkah laku antara lain seperti menutup telinga ketika
mendengar petir dan kilat yang menyambar-nyambar (Q.S. al-Baqarah [2]: 19),
mengungsi karena takut perang (Q.S. al-Baqarah [2]: 243). Ketakutan yang muncul
pada hubungan intrapersonal biasanya terjadi ketika mengingat peristiwa masa
lampau yang tersimpan di dalam memori (Q.S. al-Syu‘arâ’ [26]: 14; al-Qashash
[28]: 18; Âlu ‘Imrân [3]: 151; al-Rûm [30]: 28). Sedangkan emosi takut yang
muncul pada hubungan dengan orang lain (interpersonal) baik perorangan maupun
kelompok (Q.S. Thaha [20]: 67-68; al-Syu‘arâ’ [26]: 21; Shâd [38]: 22; Thaha
[20]: 40-46, 77; al-Nisâ’ [4]: 77,101; al-Anfâl [8]: 26; al-Mâ’idah [5]: 21-22;
Yûnus [10]: 83).
f.
Emosi benci
Untuk mempertahanan
hidup manusia melahirkan berbagai tingkah laku dan berbagai jenis emosi. Emosi
benci, seperti halnya emosi takut, dapat mengantar manusia untuk melestarikan
hidupnya. Hanya saja, emosi benci itu kadang-kadang tidak tepat sasaran jika
terarah pada hal-hal yang seharusnya tidak dibenci. Bahkan, menurut al-Qur’ân
ada hal-hal yang sering dibenci oleh manusia, tetapi ternyata sangat bermanfaat
baginya. Atau sebaliknya, disenangi tetapi membawa efek negatif baginya (Q.S.
al-Baqarah [2]: 216; al-Nisâ’ [4]: 19).
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan
atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi
(pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui.”
Ekspresi
emosi benci yang digambarkan oleh al-Qur’ân adakalanya bersifat spontanitas
dan adakalanya pula tidak spontanitas. Ekspresi yang tidak spontanitas itu
sejatinya hanya tertunda karena mungkin ada faktor takut atau hal lain jika
diekspresikan pada saat itu juga. Emosi benci yang spontan dan yang tidak
spontan masing-masing dapat dilihat dalam Q.S. al-Isrâ’ [17]: 46 dan Âlu ‘Imrân
[3]: 119-120.
Kebenaran
dari Allah digambarkan oleh al-Qur’ân dalam banyak ayat sering kali mendapat
penolakan dengan ekspresi kebencian dan ketidaksenangan dari sebagian manusia.
Selalu ada upaya sistematis dan terus-menerus untuk menghancurkan kebenaran
dari Allah itu. Dalam ungkapan al-Qur’ân misalnya disebutkan ‘mereka ingin
memadamkan cahaya dari Allah’, dan sebagainya (Q.S. al-Tawbah [9]: 32-33;
al-Shaff [61]: 8-9; Yûnus [10]: 82; al-Anfâl [8]: 8; al-Mu’minûn [23]: 70;
al-Zukhruf [43]: 78; Muhammad [47]: 9, 26, 28; al-Zumar [39]: 45).
Demikian juga ketidaksenangan pada perilaku kebaikan misalnya pada infak (Q.S.
al-Tawbah [9]: 53-54), pada jihad (Q.S. al-Anfâl [8]: 5; al-Baqarah [2]: 216;
al-Tawbah [9]: 81-82), ketaatan beribadah (Q.S. al-Ra‘d [13]: 15), keikhlasan
dalam mengabdi (Q.S. Ghâfir [40]: 14).
Emosi benci
terhadap perilaku seseorang kadang-kadang sulit dipisahkan dengan pelakunya.
Ketika kita benci pada perilaku menggunjing (ghîbah), maka kita pun tak
senang pada orang yang suka ghîbah itu. Atau sebaliknya, sering kali
orang benci pada seseorang membawa pula ketidaksenangan pada segala yang
berhubungan dengan orang itu. Tertawanya orang yang tak kita senangi terdengar
pula tak enak di telinga. Ketidaksenangan orang kafir pada ajaran Allah
berdampak kebencian kepada pembawa risalah (rasul). Hal ini yang dialami oleh
para rasul sebagaimana banyak disinyalir oleh al-Qur’ân, seperti dijelaskan
Q.S. al-A‘râf [7]: 88 dalam kasus Nabi Syu‘aib.
g.
Marah
Adalah salah satu penutup, yaitu menutupi kebaikan dan niat,
jadi orang yang marah, amal baik dan niat baiknya menjadi tertutup sehingga tidak
heran kalau kita menyaksikan banyak orang yang marah tidak bisa berpikir normal. ( ManhajTarbiyah
Ibnu Qoyyim (edisi Indonesia), Pustaka Al Kautsar, I/2001 hal 186)
Emosi marah
adalah emosi yang paling dikenal. Tingkah laku yang menyertai emosi marah
sangat beragam mulai dari tindakan diam atau menarik diri (withdrawal)
hingga tindakan agresif yang dapat mencederai atau mengancam nyawa orang lain.
Pemicunya juga sangat beragam, dari hal-hal yang sangat sepele sampai pada
pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia. Pada umumnya emosi marah pada
manusia dikenali dengan terjadinya perubahan pada raut muka (tegang, merah
padam), nada suara yang berat, anggota badan bergetar, atau sikap siap
menyerang. Atau, agresivitas itu tidak menggejala karena disembunyikan dengan
alasan-alasan tertentu.
Gejala-gejala
emosi marah yang muncul dalam sikap dan perilaku manusia yang direkam oleh
al-Qur’ân dalam berbagai peristiwa, ekspresi, dan tindakan. Salah satu di
antaranya, Q.S. al-A‘râf [7]: 150:
وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلاَ تُشْمِتْ بِيَ الأَعْدَاءَ وَلاَ تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Dan
tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati
berkatalah dia: ‘Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah
kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?’ Dan Musa pun
melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya
(Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: ‘Hai anak ibuku,
sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka
membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku,
dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim.”
Ekspresi emosi marah dalam penuturan al-Qur’ân dijumpai dalam semua
bentuk ekspresi. Pertama, ekspresi marah dengan perubahan pada raut muka
dijumpai misalnya dalam Q.S. al-Nahl [16]: 58-59; al-Zukhruf [43]: 7
(ketika orang-orang jahiliah mendapatkan bayi perempuan). Kedua,
ekspresi marah dengan kata-kata diungkapkan Q.S. Thaha [20]: 86; al-Qalam [68]:
48; al-Anbiyâ’ [21]: 87-88 (peristiwa Nabi Musa yang kesal kepada saudaranya,
Harun; dan peristiwa Nabi Yunus yang kesal kepada kaumnya lalu pergi menjauh
dan kemudian ditelan ikan–kekesalan berganda). Ketiga, ekspresi emosi
dengan tindakan dapat dibaca pada Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 119; al-A‘râf [7]: 150
(orang-orang kafir musyrik menggigit jari-jemarinya karena marah yang bercampur
benci kepada kaum Muslimin; dan peristiwa Nabi Musa melempar prasasti/alwâh
ketika menjumpai kaumnya menyembah al-‘ijl). Keempat, ekspresi
marah dengan diam digambarkan misalnya oleh Q.S. Yûsuf [12]: 84-85; 12:77 (Nabi
Ya’qub berpaling dari anak-anaknya yang bersekongkol ‘membunuh’ Yusuf; dan
Yusuf menahan marah atas fitnah saudara-saudaranya kepada dirinya).
Betapa banyak peristiwa emosi marah yang selalu kita saksikan dalam
kehidupan sehari-hari akibat dari tidak tercapainya sesuatu yang diinginkan.
Orang bisa berteriak, memaki, membentak, menendang, menempeleng, menggebrak
meja, membanting gelas, menggerutu, melotot, atau tindakan lainnya hanya karena
harapannya tak kesampaian. Rekaman peristiwa di dalam al-Qur’ân telah mencatat
aneka macam tingkah laku manusia ketika berbagai keinginannya gagal tercapai.
Ada yang memutarbalikkan fakta untuk mencelakakan orang yang menjadi
penghalang harapan-harapannya itu (Q.S. Yûsuf [12]: 25-28). Ada yang mengajak
perang tanding untuk menampilkan kehebatan yang dimilikinya agar dapat
disaksikan oleh khalayak (Q.S. Thaha [20]: 63-70). Ada pula yang berusaha
mengusir orang yang menjadi perintang keinginan-keinginan mereka dengan
deportasi ke luar negeri mereka (Q.S. al-Naml [27]: 54-56). Dan, aneka respons
emosional yang muncul di saat harapan tak kesampaian: menggerutu kalau hanya
mendapat sedikit bagian zakat (Q.S. al-Tawbah [9]: 58); kesal kalau dzikrullâh
mendominasi percakapan (Q.S. al-Zumar [39]: 45); jengkel yang melanda orang
kafir ketika tak mampu memperdayakan dan mengalahkan orang mukmin padahal
jumlah personel dan teknologi perang
Cara
mengendalikan diri ketika sedang marah, di antaranya:
a. Segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan
membaca ta’awudz:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
b. Diam dan jaga lisan
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Jika kalian
marah, diamlah.”(HR. Ahmad dan
Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).
Ucapan kekafiran,
celaan berlebihan, mengumpat takdir, dan seterusnya, bisa saja dicatat oleh
Allah sebagai tabungan dosa baginya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
إِنَّ العَبْدَ
لَيَتَكَلَّمُ
بِالكَلِمَةِ،
مَا
يَتَبَيَّنُ
فِيهَا،
يَزِلُّ
بِهَا
فِي
النَّارِ
أَبْعَدَ
مِمَّا
بَيْنَ
المَشْرِقِ
Sesungguhnya
ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya
ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat. (HR. Bukhari dan Muslim)
Di saat kesadaran
kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik jangan
sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan kita ke dasar neraka.
c.
Mengambil posisi
lebih rendah
Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menasehatkan,
إِذَا غَضِبَ
أَحَدُكُمْ
وَهُوَ
قَائِمٌ
فَلْيَجْلِسْ،
فَإِنْ
ذَهَبَ
عَنْهُ
الْغَضَبُ
وَإِلَّا
فَلْيَضْطَجِعْ
Apabila
kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk.Karena dengan
itu marahnya bisa hilang.Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi
tidur.(HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan
perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).
d.
Ingatlah hadits ini
ketika sedang marah
Dari Muadz bin Anas
Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ
كَظَمَ
غَيْظاً
وَهُوَ
قادرٌ
على
أنْ
يُنفذهُ
دعاهُ
اللَّهُ
سبحانهُ
وتعالى
على
رءوس
الخَلائِقِ
يَوْمَ
القيامةِ
حتَّى
يُخيرهُ
مِنَ
الحورِ
العين
ما
شاءَ
“Siapa
yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan
Allah panggil
di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk
memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)
Hadis dari Ibnu
Umar,
من
كف
غضبه
ستر
الله
عورته
ومن
كظم
غيظه
ولو
شاء
أن
يمضيه
أمضاه
ملأ
الله
قلبه
يوم
القيامة
رضا
Siapa yang menahan emosinya maka
Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan marah, padahal jika dia
mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan
pada hari kiamat. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan
dinilai hasan oleh Al-Albani).
e.
Berwudhu atau mandi
f.
Berdoa :
(ManhajTarbiyah Ibnu Qoyyim (edisi Indonesia), Pustaka Al Kautsar, I/2001
hal
PENUTUP
Dalam kehidupan, manusia kadang mendapatkan kenikmatan lalu merasa bahagia,
tetapi di saat yang lain mengalami musibah lalu bersedih. Berbagai perasaan yang muncul dalam menanggapi situasi yang dialami itu sesungguhnya
memperkaya kehidupan itu sendiri. Tak terbayangkan dalam pikiran seandainya
pada semua yang dialami manusia muncul hanya satu jenis ekspresi emosi,
misalnya bahagia terus-menerus atau sedih sepanjang masa, tentu tidak nikmat.
Emosi memang menjadi bumbu kehidupan, tetapi
ketika emosi memuncak tak terkendali dan atau berlangsung dalam waktu lama,
maka kemungkinan timbul masalah. Al-Qur’ân mengidentifikasi berbagai
kemungkinan penyebab emosi yang dapat merusak tatanan mekanisme fisik dan
psikis itu, misalnya: ketakutan yang amat dahsyat (fobia), kelaparan,
kehilangan harta dan anggota keluarga secara tiba-tiba (Q.S. al-Baqarah [2]:
155), terlampau gembira (euforia) karena memperoleh harta melimpah (Q.S.
al-Qashash [28]:76), berputus ada dari rahmat Allah (Q.S. al-Zumar [39]: 53,
12: 87),
DAFTAR PUSTAKA
1.
Al Qur’an dan Terjemah.
2.
Shiron Nabawiyah, Ramdhan Al Buthy.
3.
Spirit Muslimah Sejati, Siswati Ummu Ahmad,
Pustaka Ar rofah.
4.
Manhaj Tarbiyah Ibnu Qoyyim (edisi Indonesia)
Pustaka Al Kautsar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar