Sabtu, 28 Februari 2015



EMOSI

I.                    PENDAHULUAN
Pada pembahsan terdahulu telah diuraikan tentang tiga unsur pada manusia yaitu ruh, akal dan jasad. Begitu juga pembahasan tentang hati, dimana kita ketahui bahwa ruh dan akal terletak di hati. Selanjutnya kita akan membahas tentang emosi yang artinya keadaan jiwa yang menampakkan diri dengan suatu perubahan yang jelas pada tubuh jadi emosi adalah suatu perasaan dan pikiran yang mendorong sesorang untuk bertindak. Maka emosi bisa menjadi motivator buat kita dalam meningkatkan kualitas amal, tapi juga bisa menjadi penghambat, semuanya tergantung pada kemampuan diri dalam mengelola emosi itu sendiri. (Spirit Muslimah Sejati, Siswati Ummu Ahmad< Pustaka Arafah, cetaka I/2012, hal 33)
Dari uraian di atas dan pembahasan selanjutnya akan terlihat bahwa sesorang bisa mengontrol emosi dipengaruhi keadaan hati saat tersebut apabila berada dalam hati yang salim maka tentu akan dapat mengontrol emosinya dengan benar, begitu juga sebaliknya ketika hatinya sakit. Dan akal yang memerintah jasad untuk bertindak juga dipengaruhi oleh kondisi hati.
Dalam kehidupan manusia sehari-hari tidakakan pernah terlepas dari berbagai emosi. Seringkali di kalangan masyarakat memahami makna emosi hanya terbatas pada sikap dan perilaku marah saja, padahal cakupan emosi amatlah luas karena makna emosi seperti di atas. Emosi di sini dibagi dua yaitu emosi positip (emosi yang berdampak pada perasan yang menguntungkan)   seperti rasa senang, cinta, takjub, dan emosi negatif(emosi yang berdampak pada perasaan yang tidak menguntungkan) seperti sedih, marah, takut, terkejut. Allah menganugerahi beberapa emosi kepada manusia agar mereka mampu membentengi diri dari bahaya yang mengancam keselamatannya dan mampu melindungi kehidupannya serta mengatur aktivitasnya. Emosi manusia adalah penggerak, pendorong dan penunjuk bagi tingkah lakunya yang secararflek akan menggerakkan mereka dan emosi ini sangat dipengaruhi oleh keadaan hati dan akal, seperti yang akan diuraikan dalam jenis emosi dan pengendaliaannya di bawah ini.
II.                  Sebab-sebab Bergejolaknya Emosi
rasa mual.
Ada beberapa sebab-sebab bergejolaknya sebuah emosi yang melibatkan faktor ‘psikologis dan fisiologis , di antaranya:
1.       Kepribadian
Kepribadian memberi kecenderungan kepada orang untuk mengalami suasana hati dan emosi tertentu, contohnya beberapa orang merasa bersalah dan merasakan kemarahan dengan lebih mudah dibandingkan orang lain, sedangkan orang lain mungkin merasa tenang dan rileks dalam situasi apa pun. Intinya, beberapa orang memiliki kecenderungan untuk memiliki emosi apa pun secara lebih intens atau memiliki intensitas afek (perbedaan individual dalam kekuatan di mana individu-individu mengalami emosi mereka) tinggi. Kepribadian orang sangat dipengaruhi oleh karakter masing-masing, macam-macam karakter manusia :
Macam-Macam Karakter Manusia
Dalam dunia psikologi mengenal empat macam-macam karakter atau temperamen manusia. Empat karakter tersebut ialah:
a.            Sanguinis
Karakter ini mempunyai ciri yaitu periang, suka bergaul, punya banyak teman, suka keramaian, suka tampil atau istilahnya suka diperhatiin orang. Kelebihan: mudah bergaul  pemberi semangat, suasana jadi lebih ceria kalau ada sanguinis. Kelemahan: cenderung bawel, maunya ngomong terus. Ciri sanguinis : "lihat aku"
b.      Kholerik
Karakter ini mempunyai ciri berjiwa pemimpin yang inginnya memimpin dalam suatu organisasi, mampu melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Kelebihan: kholerik selalu punya ide-ide baru, berjiwapemimpin, tegas, percaya diri kelemahan: cenderung maunya memerintah, egois, galak, cepat marah. ciri kholerik : "hargai aku"
c.      Melankolis
Karakter ini mempunyai ciri sebagai orang yang perasa, selalu inginnya sempurna dalam melakukan segala sesuatu, selalu melakukan perhitungan dalam melakukan segala sesuatu dan melihat resiko-resikonya. Kelebihan: selalu ingin sempurna sehingga melakukan segala sesuatunya dengan detail dan terperinci, ekonomis, hidup dalam keteraturan, berbakat, suka meneliti, hemat. Kelemahan: pesimis, pemalu dan pendiam, cepat putus asa bila rencananya tidak sempurna, selalu memikirkan yang negatif dahulu dalam segala sesuatu. Ciri melankolis : "pahami aku"
d.      Phlegmatis
Karakter ini mempunyai ciri yang cenderung santai dan cuek, berusaha tidak terlibat dalam pekerjaan apapun yang membuatnya repot. Kelebihan: cinta damai, dapat menjadi penengah dalam suatu konflik, santai, pekerja yang rajin dan bertanggung jawab. Kelemahan: cuek dengan sekitar, tidak suka bergaul, lambat dalam melakukan sesuatu ciri phlegmatis : "hormati aku".
Itulah ke empat temperamen manusia.Secara umum biasanya seseorang mempunyai 2 temperamen yang dominan dalam dirinya, namun tetap ada satu temperamen yang paling mendominasi di antara semuanya. Nah setelah kita mengetahui macam-macam karakter manusia, tugas kita selanjutnya adalah mengenal karakter kita untuk menemukan cara dan metode yang pas untuk mencapai tujuan. Mengenal keunggulan memudahkan untuk kita menggali dan melejitkan potensi, sedang mengenali kelemahan memudahkan kita untuk meminimalkan kesalahan yang sama. Bukan hanya itu, kita juga harus mengkombinasikan berbagai karakter untuk membentuk suatu kepribadian yang unik, menarik, dan special bernama pribadi muslimah yang matang (Spirit Muslimah Sejati< Siswati Ummu Ahmad, Pustaka Arofah< cetakan I, hal 47-51)
2.       Hari dalam seminggu dan waktu dalam sehari
Orang-orang cenderung berada dalam suasanan hati terburuk di awal minggu dan berada daam suasana hati terbaik di akhir minggu.
3.       Cuaca
Cuaca menjadi sebuah peristiwa yang luar biasa sedikit pengaruh terhadap suasana hati.Seorang ahli menyimpulkanStres
Sebuah penelitian menghasilkan pernyataan, "Adanya peristiwa yang terus-menerus terjadi yang menimbulkan stres tingkat rendah menyebabkan para pekerja mengalami tingkat ketegangan yang semakin lama seiring berjalannya waktu semakin meningkat.
4.       Aktivitas sosial
Orang-orang dengan suasana hati positif biasanya mencari interaksi sosial dan sebaliknya, interaksi sosial menyebabkan orang-orang mempunyai suasana hati yang baik.Jenis aktivitas sosial juga berpengaruh.Penelitian mengungkap bahwa aktivitas sosial yang bersifat fisik, informal, atau Epicurean lebih diasosiasikan secara kuat dengan peningkatan suasana hati yang positif dibandingkan dengan kejadian-kejadian formal atau yang bersifat duduk terus-menerus.[4]
5.       Tidur
Kualitas tidur memengaruhi suasana hati.Para sarjana dan pekerja dewasa yang tidak memperoleh tidur yang cukup melaporkan adanya perasaan kelelahan yang lebih besar, kemarahan, dan ketidakramahan.Satu dari alasan mengapa tidur yang lebih sedikit, atau kualitas tidur yang buruk, menempatkan orang dalam suasana hati yang buruk karena hal tersebut memperburuk pengambilan keputusan dan membuatnya sulit untuk mengontrol emosi.
6.       Olahraga
Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa olahraga meningkatkan suasana hati positif.
7.       Usia
Suatu penelitian atas orang-orang yang berusia 18 hingga 94 tahun mengungkapkan bahwa emosi negatif tampaknya semakin jarang terjadi seiring bertambahnya usia seseorang.
8.       Gender
Dalam perbandingan antargender, wanita menunjukkan ekspresi emosional yang lebih besar dibandingkan pria.Mereka megalami emosi secara lebih intens dan mereka menunjukkan ekspresi emosi positif maupun negatif yang lebih sering, kecuali kemarahan.Tidak seperti pria, wanita juga menyatakan lebih nyaman dalam mengekpresikan emosi dan mampu membaca petunjuk nonverbal dan paralinguistik secara lebih baik..
9.       Cuaca
Cuaca menjadi sebuah peristiwa yang luar biasa sedikit pengaruh terhadap suasana hati.Seorang ahli menyimpulkan, " Stres
Sebuah penelitian menghasilkan pernyataan, "Adanya peristiwa yang terus-menerus terjadi yang menimbulkan stres tingkat rendah menyebabkan para pekerja mengalami tingkat ketegangan yang semakin lama seiring berjalannya waktu semakin meningkat.
10.   Aktivitas sosial
Orang-orang dengan suasana hati positif biasanya mencari interaksi sosial dan sebaliknya, interaksi sosial menyebabkan orang-orang mempunyai suasana hati yang baik.Jenis aktivitas sosial juga berpengaruh.Penelitian mengungkap bahwa aktivitas sosial yang bersifat fisik, informal, atau Epicurean lebih diasosiasikan secara kuat dengan peningkatan suasana hati yang positif dibandingkan dengan kejadian-kejadian formal atau yang bersifat duduk terus-menerus.[4]
11.   Tidur
Kualitas tidur memengaruhi suasana hati.Para sarjana dan pekerja dewasa yang tidak memperoleh tidur yang cukup melaporkan adanya perasaan kelelahan yang lebih besar, kemarahan, dan ketidakramahan.Satu dari alasan mengapa tidur yang lebih sedikit, atau kualitas tidur yang buruk, menempatkan orang dalam suasana hati yang buruk karena hal tersebut memperburuk pengambilan keputusan dan membuatnya sulit untuk mengontrol emosi.
12.   Olahraga
Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa olahraga meningkatkan suasana hati positif.
13.   Usia
Suatu penelitian atas orang-orang yang berusia 18 hingga 94 tahun mengungkapkan bahwa emosi negatif tampaknya semakin jarang terjadi seiring bertambahnya usia seseorang.
14.   Gender
Dalam perbandingan antar, wanita menunjukkan ekspresi emosional yang lebih besar dibandingkan pria.Mereka megalami emosi secara lebih intens dan mereka menunjukkan ekspresi emosi positif maupun negatif yang lebih sering, kecuali kemarahan.Tidak seperti pria, wanita juga menyatakan lebih nyaman dalam mengekpresikan emosi dan mampu membaca petunjuk nonverbal dan paralinguistik secara lebih baik.
Jadi proses kemunculan emosi melibatkan faktor psikologis maupun fisiologis, diantaranya kepribadian, hari dalam seminggu waktu dalam sehari, cuaca, stress, aktivitas sosial, tidur, olahraga, usia, dan gender. Tapi ini semua tidak mutlak mempengaruhi emosi seseorang. Karena ini semua hanya teori manusia dan yang behak membolak-balikkan hati sehingga bisa menentukan tindakan manusia hanyalah Allah semata.

III.                Jenis-jenis emosi dan pengendaliannya.

a.       Emosi gembira/senang

Emosi senang umumnya didefinisikan sebagai segala sesuatu yang membuat kepuasan dalam hidup. Perasaan senang (cinta, gembira, puas, bahagia) adalah kondisi-kondisi yang senantiasa didambakan oleh setiap individu apa pun latar belakangnya.  Sebagian menjadikan ukuran kesenangan itu pada harta yang melimpah, kesehatan yang prima, jabatan yang bergengsi, atau keluarga yang rukun dan sejahtera, sementara yang lain pada hal-hal di luar itu. Oleh karena itu, objek yang dapat membuat orang senang atau bahagia tidak bisa diukur sama untuk semua individu. Namun, secara umum al-Qur’ân menyatakan bahwa manusia memi­liki rasa senang kepada wanita (lawan jenis), anak cucu, harta yang melimpah, kendaraan mewah, dan kekayaan lainnya (Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 14).
Ekspresi emosi senang dijumpai dalam beberapa ayat al-Qur’ân yang dengan jelas mengung­kapkan terjadinya perubahan-perubahan pada wajah menjadi berseri-seri yang dapat diamati oleh orang lain yang menyaksikannya. Ayat-ayat al-Qur’ân tersebut misalnya Q.S. al-Insân [76]: 11; ‘Abasa [80]: 38-39; al-Muthaffifîn [83]: 22-24; al-Insyiqâq [84]: 7-9. Q.S. ‘Abasa [80]: 38-39:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ 0 ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ 
“Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria.” (Q.S. ‘Abasa [80]: 38-39)
 Ungkapan Senang dalam al Qur’an meraih kenikmatan dan terhindar dari kesulitan misalnya dijumpai dalam Q.S. Hûd [11]: 10; al-Rûm [30]: 36; al-Syûrâ [42]: 48; Âlu ‘Imrân [3]: 170; Yûnus [10]: 58; Yûsuf [12]: 33-34. Senang terhadap lawan jenis (Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 14; al-Rûm [30]: 21; Yûsuf [12]: 30-32), senang terhadap harta (al-Fajr [89]: 20; al-‘Âdiyât [100]: 8; al-Kahf [18]: 34; al-Ra‘d [13]: 26), senang memberi atau menerima (al-Hasyr [59]: 9; al-Naml [27]: 36; al-Tawbah [9]: 58-59; al-Insân [76]: 8-9; al-Nisâ’ [4]: 4). Sementara senang terhadap hasil usaha (prestasi) dapat dilihat misalnya dalam Q.S. al-Rûm [30]: 2-4; al-An‘âm [6]: 135; Âlu ‘Imrân [3]: 188; Ghâfir [40]: 83. Ada pula bentuk kesenangan yang menyimpang dari fitrah kemanusiaan, yaitu jika seseorang senang terhadap kesulitan orang lain (Âlu ‘Imrân [3]: 120; al-Tawbah [9]: 50). Jenis yang terakhir ini tentu harus dihindari karena bertentangan dengan ajaran agama.
Sedangkan Q.S. al-Hasyr [59]: 9 turun dalam kasus Abu Thalhah (yang lain menyebut Tsâbit ibn Qays, atau Abû Nashr Abd al-Rahîm) yang begitu berempati kepada tamunya ‘pengungsi’ dari kaum Muhajirin. Ia sendiri kesulitan dalam hidupnya tetapi masih tetap mengutamakan tamunya meski harus memberikan makanan yang tadinya untuk anak balitanya. Walaupun ayat ini turun untuk apresiasi terhadap emosi senang yang ditunjukkan seorang Ansar kepada Muhajirin, namun kondisi itu merata pada hampir semua kaum Anshar. Faktor senang membantu tamu-tamu itu merupakan gejala umum di masyarakat Madinah. Mereka memberi apa yang dibutuhkan oleh tamu-tamunya meskipun sebenarnya mereka juga butuh, termasuk mereka yang memiliki istri lebih dari satu dengan rela diberikan kepada tamu-tamu Muhajirin. Ini suatu contoh bagaimana orang yang berhati sehat bisa mengelola rasa senangnya.
Berbeda dengan apa yang dijelaskan dalam Q.S. al-Taubah [9]: 58-59. Ayat ini turun pada kasus Ibn Dzu al-Khuway­sharah al-Tamimi (atau pada Abu al-Jawaz, atau Abu al-Jawth–ada yang menyebutnya, munafik), ia memprotes keadilan Rasulullah ketika mem­bagi sedekah dan harta rampasan perang (ghanîmah, al-fay’) karena ia tidak mendapat bagian. Orang-orang munafik ketika mendapat bagian mereka meluapkan kesenangan, tetapi ketika tidak, serta-merta mereka menggerutu dan marah. Atau, ketika mendapat banyak amat senang, tapi ketika sedikit mereka jengkel “إن أعطوا كثيرا فرحوا وإن أعطوا قليلا سخطوا”.  Dan inilah contoh orang yang hatinya sakit dalam mengelola emosinya.
Al-Qur’ân melarang manusia melampiaskan emosi senangnya dengan berlebih-lebihan, cara-cara yang tak lazim, atau akibat kesombongan dan maksiat (Q.S. al-Qashash [28]: 76; Ghâfir [40]: 75-76; al-Hadîd [57]: 23). Larangan mengungkapkan emosi senang yang terdapat pada 28:76 hendaklah dipahami sebagai emosi senang yang berlebihan dan yang membawa pada kebanggaan terhadap diri sendiri sebagai­mana yang dilaku­kan oleh Qarun ibn Yushar ibn Qahits ibn Lawi. Karena ternyata harta kekayaan dan pernik-pernik duniawi dapat membangkitkan emosi senang berlebihan dan dapat men­jauhkan manusia dari Allah. Allah tidak suka kepada orang yang mengungkapkan kegembiraannya (seperti dapat dibaca pada Q.S. al-Qashash [28]: 76) adalah jika dilaku­kan secara berlebih-lebihan dan semata-mata dalam hal keduniawian yang menye­bab­kan manusia lupa pada eksistensi Tuhan sebagai sumber kesenangan itu. Apalagi jika ungkapan emosi senang itu terjadi karena kemaksiatan yang dilakukan, sebagaimana dijelaskan Q.S. Ghâfir [40]: 75.
b.      Emosi Takjub

Emosi takjub sama dengan heran dan kaget, diperlukan dalam kehidupan manusia, karena hal itu memberi peringatan dan pewaspadaan terhadap sesuatu yang dapat mengancam kehidupan. Sesuatu yang tak lazim sekonyong-konyong muncul atau dijumpai di sekitar kita perlu diwaspadai kalau-kalau hal itu berbahaya bagi kehi­dupan.
Emosi kaget (heran, takjub) yang dialami oleh manusia pada umumnya diekspresi­kan dengan berteriak spontan, terperanjat, mata membelalak, merinding, merunduk, latah, meneteskan air mata, menertawai, diam seribu bahasa, termangu, terpesona, dan sebagainya. Ekspresi heran dan kaget ini juga telah digambarkan di dalam al-Qur’ân dengan sangat spektakuler, misalnya Q.S. Yûsuf [12]: 31:
فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَءَاتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلاَّ مَلَكٌ كَرِيمٌ
“Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): ‘Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.’ Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: ‘Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.”
Ayat-ayat yang menerangkan tentang adanya peristiwa yang mengherankan (menakjubkan) terjadi di luar kebiasaan antara lain: emosi heran berkenaan dengan malaikat (Q.S. Hûd [11]: 70), berkenaan dengan jin (Q.S. al-Jinn [72]: 1), berkenaan dengan manusia (Q.S. Shâd [38]: 22), berkenaan dengan hewan (Q.S. al-Kahf [18]: 63), berkenaan dengan tumbuh-tumbuhan (Q.S. al-Wâqi‘ah [56]: 63-65, lihat lebih lanjut 68:17-33), dan emosi heran berkenaan dengan sejarah masa lalu (misalnya Q.S. al-Kahf [18]: 9; al-Baqarah [2]: 258).
Kemampuan dan kehebatan luar biasa yang dimiliki seseorang dapat mengun­dang keheranan (takjub, ta‘ajjub) dari orang lain. Kehebatan itu, sebagai­mana dapat dibaca dari ayat-ayat al-Qur’ân, misalnya para pembawa risalah Allah yang memiliki kemampuan lebih dibanding dengan manusia pada umumnya (komunikasi melalui wahyu dengan Allah, mukjizat, integritas pribadi yang prima). Kelebihan lain yang juga dapat membuat orang heran adalah bentuk fisik, harta kekayaan, dan anak keturunan, jika hal itu tidak lazim dari biasanya menurut ukuran normal. Q.S. Qâf [50]: 2 merujuk pada ekspresi keheranan yang ditunjukkan orang yang tak percaya atau ragu tentang kemungkinan seorang manusia menjadi pembawa risalah dari Allah.. Ekspresi heran terhadap kemampuan diri sendiri tergambar dalam Q.S. Hûd [11]: 72-73 ketika istri Nabi Ibrahim yang sudah menopause diberitakan akan melahirkan seorang anak. Kata ‘ajûz dalam bahasa Arab diartikan sebagai nenek yang telah renta.
c.       Cinta
Cinta menggerakkan seorang pencinta untuk mencari yang dicintainya,dan kecintaannya akan sempurna manakal ia telah mendapatkannya. Maka cinta itulah pencinta Ar Rahman, pencinta Al Qur’an, pencinta ilmu dan iman, pencinta materi dan uang, pencinta berhala-berhala, pencinta wanita dan anak-anak, pencinta tanah ar . Hatinya akan digerakkan kepada yang dicintainya. Ighostatul Lahfan fi Mashayidisy Syaithan Ibnu Qoyyim (edisi Indonesia, hal 346)
Semua kecintaan itu adalah batil kecuali kecintaan kepada Allah. Qs At Taubah:24,
a.       Mempersiapkan yang matang bila terkait dalam masalah sesuatu yang ditampilkan.
iv. Mengelola rasa cinta.
Cinta itu qodrat (sudah menjadi taqdir bagi setiap insan).Ia adalah sebuah kekuatan dan energy yang selalu hidup. Ia akan menjadikan pemiliknya baik dan sukses dalam mengarungi kehidupan dunia maupun akhirat. Dan ia yang bisa menghancurkan masa depan pemiliknya, karena ia merupakan sebuah kekuatan, sebuah energy dan motivasi yang kuat maka butuh menegement yang kuat dalam menngelaknya. Oleh karena itu islam menaruh perhatian dalam persoalan cinta sampai-sampai para ulama berkesimpulan nyawa dalam sebuah ibadah adalah cinta. Bahkan ia bagi ibadah ibarat kepala bagi badan. Demikian juga kesyirikan yang kronis terjadi karena virus cinta, oleh sebab itu para ulama mencatat syirk mahabbah (cinta) pada urutan pertama dalam sekian syirik yang ada..
cara mengelola cinta:
a.       berusahalah untuk mencari cinta yang hakiki Qs At Taubah:24.
b.      Buktikanlah cintamu, Qs Al Baqarah:165. Dan berusahalah menempatkan kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada RasulNya di atas kecintaan kepada yang lainnya, dan buktikanlah rasa cinta itu denga bersegera memenuhin perintahNya dan mnjauhi laranghanNya.
c.       Membaca kisah-kisah para pecinta. Al Qur’an membahas kisah orang yang benar kecintaannya kepada Allah dan kisah orang yang salah dalam masalah cinta, srta akibatnya mendapat pahala atau siksaan.
d.      Berdoa kepada Allah, karena Allah yang menguasai hati manusia.
e.      Rela meninggalkan cinta yang batil. Seperti Hadits yang artinya barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik.

d.      Emosi sedih
Yaitu terlepasnya diri dari kegembiraan karena dirundung dukacita, meratapi sesuatu yang telah hilang atau merasa sakit karena sesutau yang hilang tersebut.( ManhajTarbiyah (edisi Indonesia)m IbnuQoyyim, Pustaka Al Kautsar, I/2001 hal 177)
Dalam kenyataan hidup sehari-hari tidak selamanya manusia bergem­bira, adakalanya juga bersedih. Sedih karena gagal meraih sukses, mendapat kesulitan, ditinggal orang yang dicintai, atau sebab yang lain. Begitulah kehi­dup­an terjadi silih berganti (Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 140). Tertawa atau menangis sudah merupakan bawaan (naluri, gharîzah) karunia dari Allah. Dari sejak lahir manusia sudah pandai menangis dan tersenyum. Setelah mulai menapaki kehidupan orang belajar dari lingkungannya kapan tempatnya tertawa dan kapan pula menangis. Q.S. al-Najm [53]: 43 menjelaskan:
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
“Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.”
Kesedihan memang sesuatu yang tidak diharapkan, tetapi senang atau tidak senang, pasti ada dalam perjalanan hidup manusia. Rasulullah saw. sendiri pernah mengalami kesedihan bertubi-tubi, antara lain ditinggalkan oleh orang-orang yang dikasihinya dalam selang waktu relatif singkat, sehingga tahun kejadian itu dikenal dalam sejarah sebagai âm al-huzn (tahun kesedih­an, tahun 619 H). Cobaan yang dialaminya cukup berat sampai tiba saatnya men­dapat kelapangan. Kesedihan berganti dengan kebahagiaan, beban berat terlewati, dan memang sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Sungguh! (Q.S. al-Insyirâh [94]: 1-8).
Pada umumnya, yang kita kenali dalam ekspresi emosi sedih adalah tangis. Akan tetapi, tidak berarti bahwa setiap orang yang menangis pasti bersedih, karena ternyata ada tangis bahagia, tangis haru, atau bahkan ada tangis pura-pura seperti terjadi pada kisah saudara-saudara Yusuf. Ekspresi lain adalah raut wajah yang menggambarkan suasana hati ketika sedang bersedih: dingin, pucat, pandangan lesu, tanpa senyum, tidak bergairah.
Beberapa ayat al-Qur’ân menjelaskan model-model ekspresi emosi sedih yang diperankan oleh manusia. Pertama, ekspresi emosi sedih dengan cucuran air mata yang memancarkan perasaan yang dialami (Q.S. al-Tawbah [9]: 92); kedua, tangis yang dibuat-buat untuk memberi kesan kesedihan atau sandiwara (Q.S. Yûsuf [12]: 15-16); ketiga, ekspresi sedih dalam bentuk perilaku menarik diri (withdrawal, tawallâ) disertai mata yang berkaca-kaca (Q.S. Yûsuf [12]: 84-86).
Pada umumnya, kesedihan muncul ketika seseorang ditimpa kesulitan, kemalangan, atau kondisi-kondisi yang sangat tak diharapkan lainnya. Kesedihan pasti ada dalam setiap kehidupan manusia, hanya tinggal bagaimana orang itu memaknai setiap peristiwa yang dialaminya, lihat Q.S. Fushshilat [41]: 49; al-Ma‘ârij [70]: 19-22; Ghâfir [40]: 18; al-Zukhruf [43]: 17; Shâd [38]: 27; Âlu ‘Imrân [3]: 191. Orang mukmin sejati yang senantiasa memelihara ketakwaannya sangat pandai memaknai setiap peristiwa yang terjadi sehingga mereka tidak mudah larut dalam kesedihan atau keputusasaan (Q.S. al-An‘âm [6]: 48; Yûnus [10]: 62-63; al-Ahqâf [46]: 13; al-Zumar [39]: 61; al-A‘râf [7]: 35; al-Baqarah [2]: 122, 277). Kalaupun ada orang mukmin bersedih, hal itu karena ia tidak mampu memaksimalkan kebaikan yang seharusnya bisa dilakukannya (Q.S. al-Tawbah [9]: 92) seperti pada Kelompok Tujuh atau Kelompok al-Bakkâ’ûn (orang-orang yang mencu­cur­kan air mata sedih karena gagal berpartisipasi dalam suatu perang jihad yang mereka rindukan).
Cara Mengatasi kesedihan:
i.                     Tidak menyerah terhadap kesedihan, sehingga kesedihan tersebut tidak mampu menguasainya.
ii.                   Mencari jalan keluar dari jerat kesedihannya dan memikirkan hal-hal yang mampu dijadikan sebagai penawar dan penolak kesedihan.
iii.                  Kmbali kepada Allah seraya memohon kepadaNYa agar dijauhkan dari kesedihan dangundah gulana.
iv.                 Menanamkan ma’rifatullah dan kasih saying Allah kepada hambaNYa kedalam hati, QS AT Taubah:40
                ( ManhajTarbiyah Ibnu Qoyyim  (edisi Indonesia), Pustaka Al Kautsar, I/2001 hal 179)
e.      Emosi Takut

Emosi takut merupakan salah satu emosi yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena berperan untuk mempertahankan diri dari berbagai masalah yang dapat mengancam kehidupan itu sendiri. Emosi takut manusia dalam penuturan al-Qur’ân mempunyai cakupan yang luas. Bukan hanya gambaran ketakutan di dunia ini seperti ketakutan pada kelaparan, kehilangan jiwa dan harta, bencana alam, melainkan juga menyangkut ketakutan pada kesengsaraan hidup di akhirat. Hal ini menjadi pembeda yang tegas antara orang beriman yang percaya pada kehidupan akhirat dengan yang tidak. Ketakutan pada orang beriman juga menjadi ajang promosi baginya untuk mencapai suatu predikat tertentu dalam pandangan Allah. Firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 155 (juga Q.S. al-Nahl [16]: 112)
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Manfaat emosi takut menurut al-Qur’ân tidak hanya untuk menjaga manusia dari berbagai bahaya yang mengancam kehidupannya di dunia ini, tetapi juga mendorong setiap mukmin untuk memelihara dirinya dari azab Allah di akhirat.
Perubahan tingkah laku karena emosi takut umumnya diekspresikan dalam bentuk perubahan pada raut muka menjadi pucat pasih, berteriak histeris (scream), loncat dan berlari, merunduk, menutup telinga, menghindar, atau tindakan lain. Perubahan dapat terjadi berupa denyut nadi meningkat, jantung berdebar-debar, pandangan mata kabur, keluar keringat dingin, persen­dian terasa lemas. Ekspresi berupa tingkah laku antara lain seperti menutup telinga ketika mendengar petir dan kilat yang menyambar-nyambar (Q.S. al-Baqarah [2]: 19), mengungsi karena takut perang (Q.S. al-Baqarah [2]: 243). Ketakutan yang muncul pada hubungan intra­personal biasanya terjadi ketika mengingat peristiwa masa lampau yang tersimpan di dalam memori (Q.S. al-Syu‘arâ’ [26]: 14; al-Qashash [28]: 18; Âlu ‘Imrân [3]: 151; al-Rûm [30]: 28). Sedangkan emosi takut yang muncul pada hubungan dengan orang lain (interpersonal) baik perorangan maupun kelompok (Q.S. Thaha [20]: 67-68; al-Syu‘arâ’ [26]: 21; Shâd [38]: 22; Thaha [20]: 40-46, 77; al-Nisâ’ [4]: 77,101; al-Anfâl [8]: 26; al-Mâ’idah [5]: 21-22; Yûnus [10]: 83).

f.        Emosi benci
Untuk mempertahanan hidup manusia melahirkan berbagai tingkah laku dan berbagai jenis emosi. Emosi benci, seperti halnya emosi takut, dapat mengan­tar manusia untuk melestarikan hidupnya. Hanya saja, emosi benci itu kadang-kadang tidak tepat sasaran jika terarah pada hal-hal yang seharusnya tidak dibenci. Bahkan, menurut al-Qur’ân ada hal-hal yang sering dibenci oleh manusia, tetapi ternyata sangat bermanfaat baginya. Atau sebaliknya, disenangi tetapi mem­bawa efek negatif baginya (Q.S. al-Baqarah [2]: 216; al-Nisâ’ [4]: 19).
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Ekspresi emosi benci yang digambarkan oleh al-Qur’ân adakalanya bersi­fat spontanitas dan adakalanya pula tidak spontanitas. Ekspresi yang tidak spon­tani­tas itu sejatinya hanya tertunda karena mungkin ada faktor takut atau hal lain jika diekspresikan pada saat itu juga. Emosi benci yang spontan dan yang tidak spontan masing-masing dapat dilihat dalam Q.S. al-Isrâ’ [17]: 46 dan Âlu ‘Imrân [3]: 119-120.
Kebenaran dari Allah digambarkan oleh al-Qur’ân dalam banyak ayat sering kali mendapat penolakan dengan ekspresi kebencian dan ketidaksenangan dari seba­gian manusia. Selalu ada upaya sistematis dan terus-menerus untuk meng­hancurkan kebenaran dari Allah itu. Dalam ungkapan al-Qur’ân misalnya disebutkan ‘mereka ingin memadamkan cahaya dari Allah’, dan sebagainya (Q.S. al-Tawbah [9]: 32-33; al-Shaff [61]: 8-9; Yûnus [10]: 82; al-Anfâl [8]: 8; al-Mu’minûn [23]: 70; al-Zukhruf [43]: 78; Muhammad [47]: 9, 26, 28; al-Zumar [39]: 45). Demikian juga ketidaksenangan pada perilaku kebaikan misalnya pada infak (Q.S. al-Tawbah [9]: 53-54), pada jihad (Q.S. al-Anfâl [8]: 5; al-Baqarah [2]: 216; al-Tawbah [9]: 81-82), ketaatan beribadah (Q.S. al-Ra‘d [13]: 15), keikhlasan dalam mengabdi (Q.S. Ghâfir [40]: 14).
Emosi benci terhadap perilaku seseorang kadang-kadang sulit dipisahkan dengan pelakunya. Ketika kita benci pada perilaku menggunjing (ghîbah), maka kita pun tak senang pada orang yang suka ghîbah itu. Atau sebaliknya, sering kali orang benci pada seseorang membawa pula ketidaksenangan pada segala yang berhubungan dengan orang itu. Tertawanya orang yang tak kita senangi terde­ngar pula tak enak di telinga. Ketidak­senangan orang kafir pada ajaran Allah berdampak kebencian kepada pembawa risalah (rasul). Hal ini yang dialami oleh para rasul sebagaimana banyak disinyalir oleh al-Qur’ân, seperti dijelaskan Q.S. al-A‘râf [7]: 88 dalam kasus Nabi Syu‘aib.

g.       Marah
Adalah salah satu penutup, yaitu menutupi kebaikan dan niat, jadi orang yang marah, amal baik dan niat baiknya menjadi tertutup sehingga tidak heran kalau kita menyaksikan banyak orang yang marah tidak bisa berpikir normal. ( ManhajTarbiyah Ibnu Qoyyim (edisi Indonesia), Pustaka Al Kautsar, I/2001 hal 186)
Emosi marah adalah emosi yang paling dikenal. Tingkah laku yang menyertai emosi marah sangat beragam mulai dari tindakan diam atau menarik diri (withdrawal) hingga tindakan agresif yang dapat mence­derai atau mengancam nyawa orang lain. Pemicunya juga sangat beragam, dari hal-hal yang sangat sepele sampai pada pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia. Pada umumnya emosi marah pada manusia dikenali dengan terjadinya perubahan pada raut muka (tegang, merah padam), nada suara yang berat, anggota badan bergetar, atau sikap siap menyerang. Atau, agresivitas itu tidak menggejala karena disembunyikan dengan alasan-alasan tertentu.
Gejala-gejala emosi marah yang muncul dalam sikap dan perilaku manusia yang direkam oleh al-Qur’ân dalam berbagai peristiwa, ekspresi, dan tindakan. Salah satu di antaranya, Q.S. al-A‘râf [7]: 150:
وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلاَ تُشْمِتْ بِيَ الأَعْدَاءَ وَلاَ تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: ‘Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?’ Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: ‘Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim.”
Ekspresi emosi marah dalam penuturan al-Qur’ân dijumpai dalam semua bentuk ekspresi. Pertama, ekspresi marah dengan perubahan pada raut muka dijumpai misalnya dalam Q.S. al-Nahl [16]: 58-59; al-Zukhruf [43]: 7 (ketika orang-orang jahiliah mendapatkan bayi perempuan). Kedua, ekspresi marah dengan kata-kata diungkapkan Q.S. Thaha [20]: 86; al-Qalam [68]: 48; al-Anbiyâ’ [21]: 87-88 (peristiwa Nabi Musa yang kesal kepada saudara­nya, Harun; dan peristiwa Nabi Yunus yang kesal kepada kaumnya lalu pergi menjauh dan kemudian ditelan ikan–kekesalan berganda). Ketiga, ekspresi emosi dengan tindakan dapat dibaca pada Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 119; al-A‘râf [7]: 150 (orang-orang kafir musyrik menggigit jari-jemarinya karena marah yang bercampur benci kepada kaum Muslimin; dan peristiwa Nabi Musa melempar prasasti/alwâh ketika menjumpai kaumnya menyembah al-‘ijl). Keempat, ekspresi marah dengan diam digambarkan misalnya oleh Q.S. Yûsuf [12]: 84-85; 12:77 (Nabi Ya’qub berpaling dari anak-anaknya yang bersekongkol ‘membunuh’ Yusuf; dan Yusuf menahan marah atas fitnah saudara-saudaranya kepada dirinya).
Betapa banyak peristiwa emosi marah yang selalu kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari akibat dari tidak tercapainya sesuatu yang diinginkan. Orang bisa berteriak, memaki, membentak, menendang, menempeleng, menggebrak meja, membanting gelas, menggerutu, melotot, atau tindakan lainnya hanya karena harapannya tak kesampaian. Rekaman peristiwa di dalam al-Qur’ân telah mencatat aneka macam tingkah laku manusia ketika berbagai keinginannya gagal tercapai. Ada yang memutarbalik­kan fakta untuk mencelakakan orang yang menjadi penghalang harapan-harapannya itu (Q.S. Yûsuf [12]: 25-28). Ada yang meng­ajak perang tanding untuk menampil­kan kehebat­an yang dimilikinya agar dapat disaksikan oleh khalayak (Q.S. Thaha [20]: 63-70). Ada pula yang berusaha mengusir orang yang menjadi perintang keinginan-keinginan mereka dengan deportasi ke luar negeri mereka (Q.S. al-Naml [27]: 54-56). Dan, aneka respons emosional yang muncul di saat harapan tak kesampaian: menggerutu kalau hanya mendapat sedikit bagian zakat (Q.S. al-Tawbah [9]: 58); kesal kalau dzikrullâh mendominasi percakapan (Q.S. al-Zumar [39]: 45); jengkel yang melanda orang kafir ketika tak mampu memperdayakan dan mengalahkan orang mukmin padahal jumlah personel dan teknologi perang
Cara mengendalikan diri ketika sedang marah, di antaranya:
a.       Segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan membaca ta’awudz:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
b.      Diam dan jaga lisan
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Jika kalian marah, diamlah.”(HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).
Ucapan kekafiran, celaan berlebihan, mengumpat takdir, dan seterusnya, bisa saja dicatat oleh Allah sebagai tabungan dosa baginya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ
Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat. (HR. Bukhari dan Muslim)
Di saat kesadaran kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik jangan sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan kita ke dasar neraka.
c.              Mengambil posisi lebih rendah
Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk.Karena dengan itu marahnya bisa hilang.Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur.(HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).
d.             Ingatlah hadits ini ketika sedang marah
Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قادرٌ على أنْ يُنفذهُ دعاهُ اللَّهُ سبحانهُ وتعالى على رءوس الخَلائِقِ يَوْمَ القيامةِ حتَّى يُخيرهُ مِنَ الحورِ العين ما شاءَ
“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)
Hadis dari Ibnu Umar,
من كف غضبه ستر الله عورته ومن كظم غيظه ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه يوم القيامة رضا
Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
e.             Berwudhu atau mandi
f.               Berdoa :
(ManhajTarbiyah Ibnu Qoyyim  (edisi Indonesia), Pustaka Al Kautsar, I/2001 hal
PENUTUP
Dalam kehidupan, manusia kadang mendapatkan kenikmatan lalu merasa bahagia, tetapi di saat yang lain mengalami musibah lalu bersedih. Berbagai perasaan  yang muncul dalam menang­gapi  situasi yang dialami itu sesungguhnya memperkaya kehidupan itu sendiri. Tak terbayangkan dalam pikiran seandainya pada semua yang dialami manusia muncul hanya satu jenis ekspresi emosi, misalnya bahagia terus-menerus atau sedih sepanjang masa, tentu tidak nikmat.
Emosi memang menjadi bumbu kehidupan, tetapi ketika emosi memuncak tak terkendali dan atau berlangsung dalam waktu lama, maka kemungkinan timbul masalah. Al-Qur’ân mengidentifikasi berbagai kemungkinan penyebab emosi yang dapat merusak tatanan mekanisme fisik dan psikis itu, misalnya: ketakutan yang amat dahsyat (fobia), kelaparan, kehilangan harta dan anggota keluarga secara tiba-tiba (Q.S. al-Baqarah [2]: 155), terlampau gembira (euforia) karena memperoleh harta melimpah (Q.S. al-Qashash [28]:76), berputus ada dari rahmat Allah (Q.S. al-Zumar [39]: 53, 12: 87), 
DAFTAR PUSTAKA
1.                   Al Qur’an dan Terjemah.
2.                   Shiron Nabawiyah, Ramdhan Al Buthy.
3.                   Spirit Muslimah Sejati, Siswati Ummu Ahmad, Pustaka Ar rofah.
4.                   Manhaj Tarbiyah Ibnu Qoyyim (edisi Indonesia) Pustaka Al Kautsar.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar