MENGENAL LINGKUNGAN SOSIAL
PENDAHULUAN
Hidup dalam masyarakat dan berinteraksi dengan
orang lain merupakan sifat alamiah manusia. Mereka tidak dipaksa atau
mendapatkan pengetahuan melalui pengalaman terlebih dahulu bahwa ia merupakan
makhluk sosial yang tidak dapat hidup dalam kesendirian secara total. Manusia
dari segi batiniyah diciptakan dengan berbagai naluri yang bermacam-macam,
diantaranya ada potensi untuk menjadi baik dan juga menjadi jahat. Naluri baik
manusia sebagai makhluk sosial itulah yang termasuk fitrah yang sepatutnya
diikuti, dikembangkan, dan menjadi penuntun dalam perbuatan. Sedangkan naluri
sebagai makhluk ekonomis (memanfaatkan demi meraih keuntungan pribadi) akan
menjadi potensi negatif apabila tidak dituntun dengan fitrah kebaikan dan
tuntunan agama.
Namun dalam perjalanannya hingga saat ini, umat
Islam khususnya di Indonesia seakan banyak yang tidak tahu bahkan tidak mau
tahu dengan tuntunan agamanya dalam berperilaku sosial. Hal ini bukanlah Islamnya yang dipersalahkan akan tetapi umatlah yang harus
mengintrospeksi diri dengan kembali menengok sejarah bagaimana para generasi
awal dapat menjadi wajah perwakilan nilai-nilai substansi Islam. Maka kita
sebagai muslimah sejati hendaknya memiliki azam yang kuat untuk bisa merubah
fenomena diatas dengan mulai menerapkan dan menanamkan dalam diri kita
nilai-nilai islam dalam berperiliaku sosial.
Allah menciptakan manusia dengan berbagai
kemampuan fisik, intelektual, dan emosional yang berbeda. Sebagiannya diciptakan
unggul dalam suatu bidang dan yang lain unggul dalam bidang lain. Di sinilah
sisi hikmah dari penciptaan berbagai macamnya makhluk Allah di dunia. Agar
saling memberikan manfaat satu sama lain. Hingga pada akhirnya setiap manusia
mempunyai peluang yang sama dalam berlomba-lomba dalam kebaikan dan untuk
menjadi manusia terbaik.
Oleh karena dalam lingkungan sosial terdapat
begitu banyaknya variasi karakter manusia dan berbagai kondisi yang
berbeda-beda, maka sangat penting bagi kita untuk mengenali terlebih dahulu
kondisi lingkungan yang mana disitulah kita akan mengambil peran.
TUNTUNAN ISLAM DALAM HIDUP BERMASYARAKAT
Rasulullah Salallahu’alahi wasallam bersabda:
خيرالناس أنفعهم
للناس
“Insan terbaik ialah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.” [1]
Hadits di atas secara jelas mengisyaratkan
bahwa Islam datang membawa suatu ajaran yang mengajarkan manusia suatu
pandangan dan tujuan hidup di dunia. Untuk membangun keseimbangan sosial dengan
memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Pentingnya berperilaku
baik dalam masyarakat sosial tergambar pula dalam beberapa hadits lain yang
memerintahkan umat Islam untuk menyambung tali persaudaraan dan kasih sayang.
Bahkan kedudukan silaturahim ini merupakan hal paling utama setelah takwa yang
menjadikan manusia insan terbaik.
Dalam suatu riwayat, salah satu sahabat
bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baiknya manusia itu?” Beliau
menjawab, “Orang yang paling takwa, paling baik dalam silaturrahim, paling
sering mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan .”[2]
Dari kedua hadits di atas, Islam mengajarkan
kita untuk tetap hidup berdampingan dengan masyarakat dan berupaya untuk
menjadi manusia yang banyak dapat memberikan manfaat untuk yang lainnya. Manfaat
disini meliputi manfaat yang bagi kehidupan di dunia maupun di akhirat.
Mengajak pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar itu juga merupakan
tugas kita yang dapat memberikan manfaat di masyarakat baik di dunia maupun
akhirat. Saling membantu antar warga saat ada yang mengalami kesusahan itu juga
tugas kita dalam hidup bermasyarakat. Sehingga, kita hidup di dunia ini tidak
sekedar menjalankan rutinitas pribadi dan menutup diri dari lingkungan
masyarakat. Meskipun kita hidup dalam masyarakat jahiliyah pun, sebaiknya kita
tidak menutup diri untuk mengambil peran dalam dakwah atau hidup bermasyarakat
dengan mengajarkan mereka nilai-nilai agama yang sebenarnya mereka sendiri pun
membutuhkan itu.
Hendaknya seorang muslim selalu tampil dalam
kepribadian Islamnya saat berinteraksi dengan manusia. Tidak memisahkan diri
dengan mereka, namun tidak larut dalam pemikiran dan keburukan mereka,
sebaliknya sangat sensitive terhadap penyakit-penyakit jiwa mereka kemudian
berusaha untuk menyembuhkannya. Rasulullah bersabda, ”Seorang mukmin yang
bergaul dengan manusia dan bersabar atas kedzaliman mereka akan mendapatkan
pahala yang lebih besar daripada seorang mukmin yang tidak mau bergaul dengan
mereka dan tidak sabar atas kedzaliman mereka.”[3]
Masyarakat memiliki peran yang besar dalam
pembinaan individu, kehidupan bermasyarakat dapat mempengaruhi individu dalam
hal pemikiran, tingkah laku, maupun perasaan. Maka setiap individu akan terpola
dalam masyarakat dan terpengaruhi oleh apa yang ada di dalamnya. Sehingga,
setiap individu ibarat batu bata yang baik bagi bangunan masyarakat apabila
tarbiyah kemasyarakatan berpola kepada tarbiyah Islamiyyah, sebaliknya ia akan
menjadi batu bata yang buruk dalam bangunan masyarakat apabila tarbiyah
masyarakatnya tidak dilandasi ruh Islam sedikit pun. Dalam hidup bermasyarakat,
mereka dapat mempengaruhi kita, atau kita yang dapat mempengaruhi mereka.
Untuk dapat mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat,
kita harus mengenali kondisi masyarakat serta lingkungan terlebih dahulu agar
apa yang kita lakukan itu tepat sesuai dengan apa yang kita cita-citakan.
MACAM DAN CORAK
LINGKUNGAN SOSIAL
Lingkungan sosial adalah hubungan interaksi antara masyarakat dengan
lingkungan. Lingkungan adalah tempat kita berhubungan dengan orang lain, berbaur
dan bersosialisasi dengan masyarakat. Adapun masyarakat adalah kumpulan sekian
banyak individu, kecil atau besar yang terikat oleh satuan, adat, aturan, dan
hidup bersama. Keberagaman masyarakat
meliputi status social
yang didapat sejak lahir (jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan,
suku), status sosial yang didapat seseorang
yang berkaitan dengan kerja keras dan usaha yang dilakukannya (seperti harta kekayaan,
tingkat pendidikan,
pekerjaan), status sosial yang diperoleh seseorang
di dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat
sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan kepercayaan
masyarakat. Sehingga dari
keberagaman ini ada yang kaya dan ada yang miskin, ada golongan bangsawan dan
ada rakyat jelata, ada lulusan sarjana dan ada yang tidak sekolah.
Dari segi kedekatan satu sama lain,
masing-masing anggota masyarakat memiliki kedekatan yang berbeda-beda dengan
individu lainnya. Ada yang dekat karena
memiliki hubungan kekerabatan, ada yang dekat karena rekan bisnis, dan
ada kedekatan karena keimanan.
"Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal."[4]
Perlu kita ketahui bahwa
setiap individu atau perorangan memiliki tingkat kecerdasan, kemampuan dan status
sosial yang berbeda ditambah lagi macam dan coraknya beragam yang mana
masing-masing butuh perlakuan dan sikap yang berbeda. Misalnya,
bersosialisasi dengan masyarakat kota tentunya berbeda ketika bersosialisasi
dengan masyarakat desa. Ada juga masyarakat yang berstatus sosial tinggi
adapula yang rendah, ada yang berpendidikan tinggi adapula yang rendah dan
seterusnya, sehingga ketika kita mengenal jenis lingkungan sosial dengan
beragam macam dan coraknya yang ada disekitar kita, maka kita bisa berperan aktif didalam masyarakat sesuai
dengan kondisi lingkungan yang ada dan dengan cara yang tepat pula, agar
manusia dengan berbagai keberagamannya dapat di arahkan untuk menjadi pribadi
yang bertaqwa.
PERAN MUSLIMAH DALAM LINGKUNGAN SOSIAL
Seorang muslimah di lingkungan
sosial memiliki peran yg sangat penting, terlebih lingkungan sekitar.
Seorang muslimah yang baik itu tak sekedar berdiam di dalam rumah
dengan tidak mau tau urusan sekitarnya. Akan tetapi muslimah yang baik diantaranya yaitu berupaya
menjadi pribadi muslimah yang bermanfaat, sopan, santun, tawadhu’ dan luwes
dalam bergaul dengan tetap menjaga adab dan norma-norma syar’i dan menjadikan
hal itu sebagai bagian dari dakwah serta ber-amar ma'ruf nahi munkar.
Seorang muslimah dalam
bersosialisasi memiliki peranan yang sangat penting, mewarnai lingkungan
sekitar dengan nilai-nilai syar’i, senantiasa berperilaku sosial dengan muatan
syiar dalam mengenalkan substansi Islam yang sebenarnya, juga merupakan upaya
muslimah dalam menjaga dan membentengi keluarga dari hal-hal yang tidak baik di
lingkungan sekitar.
MACAM TEMAN DAN CARA BERGAUL DENGANNYA
Manusia
adalah bagian dari lingkungan yang tidak akan pernah lepas dari pola interaksi
dengan sesama. Terlebih seorang wanita yang memiliki dominasi perasaan yang
melekat, membuatnya membutuhkan teman tempat mengadu, tempat bertukar pikiran
dan bermusyawarah. Berbagai problem hidup yang di alami menjadikannya berfikir
bahwa meminta pendapat, saran dan nasihat teman adalah suatu hal yang perlu. Sehingga,
teman sangat vital bagi kehidupannya.
Wanita
muslimah adalah wanita yang dipupuk dengan keimanan dan dididik dengan pola
interaksi Islami. Maka pandangan Islam dalam memilih teman adalah barometernya, karena dirinya sadar teman
yang shalihah memiliki pengaruh besar dalam menjaga keistiqomahan agamanya.
Selain itu teman yang shalihah adalah sebenar-benar teman yang akan membawa
mashlahat dan manfaat. Maka dalam pergaulannya dia akan memilih teman yang baik
dan shalihah,yang benar-benar memberikan kecintaan yang tulus,selalu memberi
nasehat, tidak curang dan senantiasa menunjukkan kebaikan. Karena bergaul
dengan wanita-wanita shalihah dan menjadikannya sebagai teman
selalu mendatangkan manfaat dan pahala yang besar, juga akan membuka hati untuk
menerima kebenaran, maka kebanyakan teman akan jadi teladan bagi temannya yang
lain dalam akhlaq dan tingkah laku. Sebagaimana ungkapan seorang ulama,
“Janganlah kau tanyakan seseorang pada orangnya,tapi tanyakan pada temannya,karena
setiap orang mengikuti temannya.” [5]
Bertolak
dari sinilah maka wanita muslimah senantiasa dituntut untuk dapat memilih teman
juga lingkungan pergaulan yang tak akan menambah dirinya melainkan ketaqwaan
dan keluhuran jiwa. Sesungguhnya Rosululloh juga telah menganjurkan untuk
memilih teman yang shalihah dan berhati hati dari teman yang buruk.
Macam
Teman
Rosulloh bersabda dalam sebuah hadist
yang masyhur,
“Sesungguhnya
perumpamaan teman yang baik(shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti
pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin
akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau membeli darinya atau engkau
hanya akan mencium aroma harmznya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin
akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap”.[6]
Dari hadist di atas,wanita muslimah
akan mengetahui bahwa teman itu ada dua
macam:
1.
Teman
yang Shalihah
Teman yang shalihah senantiasa mengingatkan kita pada kehidupan
akhirat, dia laksana pembawa minyak yang menyebarkan aroma harum dan wewangian.
Kriteria Teman Pilihan
Orang
yang diharapkan menjadi teman hendaklah memenuhi lima kriteria, diantaranya[7]:
a.
Orang
yang Cerdas (berakal), yaitu orang yang mengetahui segala urusan sesuai dengan
porsinya secara proporsional,sehingga kita bisa mengambil manfaat darinya atau
dari pemahaman yang diberikannya.
b.
Baik
Akhlaqnya,sebab orang yang berakal saja tanpa dibarengi dengan akhlaq yang
mulia,akan membawa kita pada kehidupan yang penuh dengan nafsu angkara murka.
c.
Bukan
Orang fasiq,sebab orang fasiq itu tidak
pernah takut kepada Alloh sewaktu waktu dapat mencelakakan kita dengan tipu
dayanya.
d.
Bukan
Ahli Bid’ah, karena ia bisa menularkan bidah yang dilakukannya.
e.
Tidak
rakus dunia yang akan membuat kita lupa pada kehidupan akhirat.
Seperti dikutip
dari nasehat Syaikh Ahmad bin ‘Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi atau terkenal
dengan nama Ibnu Qudamah Al Maqdisi:
“Ketahuilah,bahwasanya tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap
orang jadi sahabatnya,tetapi dia harus mampu memilih kriteria-kriteria orang
yang dijadikannya teman,baik dari segi sifat-sifatnya,perangai-perangainya atau
lainnya yang bisa menimbulkan gairah berteman sesuai pula dengan manfaatnya
yang bisa diperolehdari persahabatan tersebut itu. Ada manusia yang berteman
karena tendensi dunia seperti karena harta,kedudukan atau sekedar senang
melihat-lihat dan bisa ngobrol saja tetapi itu bukan tujuan kita.
Ada pula orang yang berteman karena kepentingan Dien (agama), dalam
hal inipun ada yang karena ingin mengambil Faedah dari ilmu dan amalnya karena
kemuliaannya atau karena mengharap pertolongan dalam berbagai kepentingannya.
Tapi kesimpulan dari semua itu orang yang diharapkan jadi teman hendaklah
memenuhi lima kriteria berikut; Dia cerdas (berakal),berakhlaq baik,tidak
fasiq,bukan ahli Bid’ah dan tidak rakus dunia. Mengapa harus
demikian????....karena kecerdasan adalah sebagai modal utama,tak ada kebaikan
jika berteman dengan orang yang dungu,karena terkadang ia ingin menolongmu tapi
malah mencelakakanmu. Adapun orang yang berakhlak baik,itu harus. Karena
terkadang orang yang cerdaspun kalau sedang marah atau dikuasai emosi,dia akan
menuruti hawa nafsunya. Maka tak baik pula berteman dengan orang cerdas tetapi
tidak berakhlaq. Sedangkan orang Fasiq,dia tidak punya rasa takut kepada
Alloh,dan barangsiapa tidak takut pada Alloh,maka kamu tidak akan aman dari
tipu daya dan kedengkiannya,dia juga tidak dipercaya. Kalau Ahli Bid’ah jika
kita bergaul dengannya dikhawatirkan kita akan terpengaruh dengan jeleknya
kebid’ahannya itu”.[8]
2.
Teman
yang buruk
Seperti teman yang suka mengumpat, ahli bid’ah, ahli maksiat dan
fasiq,dia laksana peniup api pandai besi,orang yang di sisinya akan terkena
asap,percikan api atau sesak nafas karena bau yang tak enak.
Teman yg buruk ada contoh atau hadits pandai besi, ahlu
bid'ah. Yg dikatakan ahlu bid'ah fasik kayak apa dg dilengkapi dalilnyaa
ADAB
BERGAUL
Diantara adab-adab bergaul dengan
teman, sebagai berikut[9]:
1.
Mengucap
salam bila bertemu
2.
Menjenguk
bila sakit
3.
Mendoakan
ketika bersin
4.
Bersilaturrohmi/menziarahi
dijalan Alloh
5.
Menolong
ketika dalam kesulitan
6.
Memenuhi
Undangan
7.
Saling
memberi hadiah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar