Sabtu, 28 Februari 2015



MENGENAL LINGKUNGAN SOSIAL

PENDAHULUAN
Hidup dalam masyarakat dan berinteraksi dengan orang lain merupakan sifat alamiah manusia. Mereka tidak dipaksa atau mendapatkan pengetahuan melalui pengalaman terlebih dahulu bahwa ia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup dalam kesendirian secara total. Manusia dari segi batiniyah diciptakan dengan berbagai naluri yang bermacam-macam, diantaranya ada potensi untuk menjadi baik dan juga menjadi jahat. Naluri baik manusia sebagai makhluk sosial itulah yang termasuk fitrah yang sepatutnya diikuti, dikembangkan, dan menjadi penuntun dalam perbuatan. Sedangkan naluri sebagai makhluk ekonomis (memanfaatkan demi meraih keuntungan pribadi) akan menjadi potensi negatif apabila tidak dituntun dengan fitrah kebaikan dan tuntunan agama.
Namun dalam perjalanannya hingga saat ini, umat Islam khususnya di Indonesia seakan banyak yang tidak tahu bahkan tidak mau tahu dengan tuntunan agamanya dalam berperilaku sosial. Hal ini bukanlah Islamnya yang dipersalahkan akan tetapi umatlah yang harus mengintrospeksi diri dengan kembali menengok sejarah bagaimana para generasi awal dapat menjadi wajah perwakilan nilai-nilai substansi Islam. Maka kita sebagai muslimah sejati hendaknya memiliki azam yang kuat untuk bisa merubah fenomena diatas dengan mulai menerapkan dan menanamkan dalam diri kita nilai-nilai islam dalam berperiliaku sosial.
Allah menciptakan manusia dengan berbagai kemampuan fisik, intelektual, dan emosional yang berbeda. Sebagiannya diciptakan unggul dalam suatu bidang dan yang lain unggul dalam bidang lain. Di sinilah sisi hikmah dari penciptaan berbagai macamnya makhluk Allah di dunia. Agar saling memberikan manfaat satu sama lain. Hingga pada akhirnya setiap manusia mempunyai peluang yang sama dalam berlomba-lomba dalam kebaikan dan untuk menjadi manusia terbaik.
Oleh karena dalam lingkungan sosial terdapat begitu banyaknya variasi karakter manusia dan berbagai kondisi yang berbeda-beda, maka sangat penting bagi kita untuk mengenali terlebih dahulu kondisi lingkungan yang mana disitulah kita akan mengambil peran.
TUNTUNAN ISLAM DALAM HIDUP BERMASYARAKAT
Rasulullah Salallahu’alahi wasallam bersabda:
خيرالناس أنفعهم للناس

“Insan terbaik ialah  yang paling bermanfaat bagi sesamanya.” [1]
Hadits di atas secara jelas mengisyaratkan bahwa Islam datang membawa suatu ajaran yang mengajarkan manusia suatu pandangan dan tujuan hidup di dunia. Untuk membangun keseimbangan sosial dengan memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Pentingnya berperilaku baik dalam masyarakat sosial tergambar pula dalam beberapa hadits lain yang memerintahkan umat Islam untuk menyambung tali persaudaraan dan kasih sayang. Bahkan kedudukan silaturahim ini merupakan hal paling utama setelah takwa yang menjadikan manusia insan terbaik.
 Dalam suatu riwayat, salah satu sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baiknya manusia itu?” Beliau menjawab, “Orang yang paling takwa, paling baik dalam silaturrahim, paling sering mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan .”[2]
Dari kedua hadits di atas, Islam mengajarkan kita untuk tetap hidup berdampingan dengan masyarakat dan berupaya untuk menjadi manusia yang banyak dapat memberikan manfaat untuk yang lainnya. Manfaat disini meliputi manfaat yang bagi kehidupan di dunia maupun di akhirat. Mengajak pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar itu juga merupakan tugas kita yang dapat memberikan manfaat di masyarakat baik di dunia maupun akhirat. Saling membantu antar warga saat ada yang mengalami kesusahan itu juga tugas kita dalam hidup bermasyarakat. Sehingga, kita hidup di dunia ini tidak sekedar menjalankan rutinitas pribadi dan menutup diri dari lingkungan masyarakat. Meskipun kita hidup dalam masyarakat jahiliyah pun, sebaiknya kita tidak menutup diri untuk mengambil peran dalam dakwah atau hidup bermasyarakat dengan mengajarkan mereka nilai-nilai agama yang sebenarnya mereka sendiri pun membutuhkan itu.
Hendaknya seorang muslim selalu tampil dalam kepribadian Islamnya saat berinteraksi dengan manusia. Tidak memisahkan diri dengan mereka, namun tidak larut dalam pemikiran dan keburukan mereka, sebaliknya sangat sensitive terhadap penyakit-penyakit jiwa mereka kemudian berusaha untuk menyembuhkannya. Rasulullah bersabda, ”Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas kedzaliman mereka akan mendapatkan pahala yang lebih besar daripada seorang mukmin yang tidak mau bergaul dengan mereka dan tidak sabar atas kedzaliman mereka.”[3]
Masyarakat memiliki peran yang besar dalam pembinaan individu, kehidupan bermasyarakat dapat mempengaruhi individu dalam hal pemikiran, tingkah laku, maupun perasaan. Maka setiap individu akan terpola dalam masyarakat dan terpengaruhi oleh apa yang ada di dalamnya. Sehingga, setiap individu ibarat batu bata yang baik bagi bangunan masyarakat apabila tarbiyah kemasyarakatan berpola kepada tarbiyah Islamiyyah, sebaliknya ia akan menjadi batu bata yang buruk dalam bangunan masyarakat apabila tarbiyah masyarakatnya tidak dilandasi ruh Islam sedikit pun. Dalam hidup bermasyarakat, mereka dapat mempengaruhi kita, atau kita yang dapat mempengaruhi mereka.
Untuk dapat mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus mengenali kondisi masyarakat serta lingkungan terlebih dahulu agar apa yang kita lakukan itu tepat sesuai dengan apa yang kita cita-citakan.

MACAM DAN CORAK LINGKUNGAN SOSIAL
Lingkungan sosial adalah hubungan interaksi antara masyarakat dengan lingkungan. Lingkungan adalah tempat kita berhubungan dengan orang lain, berbaur dan bersosialisasi dengan masyarakat. Adapun masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu, kecil atau besar yang terikat oleh satuan, adat, aturan, dan hidup bersama. Keberagaman masyarakat meliputi status social yang didapat sejak lahir (jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, suku), status sosial yang didapat seseorang yang berkaitan dengan kerja keras dan usaha yang dilakukannya  (seperti harta kekayaan, tingkat pendidikan, pekerjaan), status sosial yang diperoleh seseorang di dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat. Sehingga dari keberagaman ini ada yang kaya dan ada yang miskin, ada golongan bangsawan dan ada rakyat jelata, ada lulusan sarjana dan ada yang tidak sekolah.
Dari segi kedekatan satu sama lain, masing-masing anggota masyarakat memiliki kedekatan yang berbeda-beda dengan individu lainnya. Ada yang dekat karena  memiliki hubungan kekerabatan, ada yang dekat karena rekan bisnis, dan ada kedekatan karena keimanan.
"Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal."[4]
Perlu kita ketahui bahwa setiap individu atau perorangan memiliki tingkat kecerdasan, kemampuan dan status sosial yang berbeda ditambah lagi macam dan coraknya beragam yang mana masing-masing butuh perlakuan dan sikap yang berbeda. Misalnya, bersosialisasi dengan masyarakat kota tentunya berbeda ketika bersosialisasi dengan masyarakat desa. Ada juga masyarakat yang berstatus sosial tinggi adapula yang rendah, ada yang berpendidikan tinggi adapula yang rendah dan seterusnya, sehingga ketika kita mengenal jenis lingkungan sosial dengan beragam macam dan coraknya yang ada disekitar kita, maka kita  bisa berperan aktif didalam masyarakat sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada dan dengan cara yang tepat pula, agar manusia dengan berbagai keberagamannya dapat di arahkan untuk menjadi pribadi yang bertaqwa.



PERAN MUSLIMAH DALAM LINGKUNGAN SOSIAL
Seorang muslimah di lingkungan sosial memiliki peran yg sangat penting, terlebih lingkungan sekitar. Seorang  muslimah yang  baik itu tak sekedar berdiam di dalam rumah dengan tidak mau tau urusan sekitarnya. Akan tetapi  muslimah yang baik diantaranya yaitu berupaya menjadi pribadi muslimah yang bermanfaat, sopan, santun, tawadhu’ dan luwes dalam bergaul dengan tetap menjaga adab dan norma-norma syar’i dan menjadikan hal itu sebagai bagian dari dakwah serta ber-amar ma'ruf nahi munkar.
Seorang muslimah dalam bersosialisasi memiliki peranan yang sangat penting, mewarnai lingkungan sekitar dengan nilai-nilai syar’i, senantiasa berperilaku sosial dengan muatan syiar dalam mengenalkan substansi Islam yang sebenarnya, juga merupakan upaya muslimah dalam menjaga dan membentengi keluarga dari hal-hal yang tidak baik di lingkungan sekitar.

MACAM TEMAN DAN CARA BERGAUL DENGANNYA
Manusia adalah bagian dari lingkungan yang tidak akan pernah lepas dari pola interaksi dengan sesama. Terlebih seorang wanita yang memiliki dominasi perasaan yang melekat, membuatnya membutuhkan teman tempat mengadu, tempat bertukar pikiran dan bermusyawarah. Berbagai problem hidup yang di alami menjadikannya berfikir bahwa meminta pendapat, saran dan nasihat teman adalah suatu hal yang perlu. Sehingga, teman sangat vital bagi kehidupannya.
Wanita muslimah adalah wanita yang dipupuk dengan keimanan dan dididik dengan pola interaksi Islami. Maka pandangan Islam dalam memilih teman adalah barometernya, karena dirinya sadar teman yang shalihah memiliki pengaruh besar dalam menjaga keistiqomahan agamanya. Selain itu teman yang shalihah adalah sebenar-benar teman yang akan membawa mashlahat dan manfaat. Maka dalam pergaulannya dia akan memilih teman yang baik dan shalihah,yang benar-benar memberikan kecintaan yang tulus,selalu memberi nasehat, tidak curang dan senantiasa menunjukkan kebaikan. Karena bergaul dengan wanita-wanita shalihah dan menjadikannya sebagai teman selalu mendatangkan manfaat dan pahala yang besar, juga akan membuka hati untuk menerima kebenaran, maka kebanyakan teman akan jadi teladan bagi temannya yang lain dalam akhlaq dan tingkah laku. Sebagaimana ungkapan seorang ulama,
“Janganlah kau tanyakan seseorang pada orangnya,tapi tanyakan pada temannya,karena setiap orang mengikuti temannya.” [5]
Bertolak dari sinilah maka wanita muslimah senantiasa dituntut untuk dapat memilih teman juga lingkungan pergaulan yang tak akan menambah dirinya melainkan ketaqwaan dan keluhuran jiwa. Sesungguhnya Rosululloh juga telah menganjurkan untuk memilih teman yang shalihah dan berhati hati dari teman yang buruk.

Macam Teman
Rosulloh bersabda dalam sebuah hadist yang masyhur,
“Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik(shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau membeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harmznya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap”.[6]

Dari hadist di atas,wanita muslimah akan mengetahui bahwa teman itu ada  dua macam:
1.        Teman yang Shalihah
Teman yang shalihah senantiasa mengingatkan kita pada kehidupan akhirat, dia laksana pembawa minyak yang menyebarkan aroma harum dan wewangian.
Kriteria Teman Pilihan
Orang yang diharapkan menjadi teman hendaklah memenuhi lima kriteria, diantaranya[7]:
a.    Orang yang Cerdas (berakal), yaitu orang yang mengetahui segala urusan sesuai dengan porsinya secara proporsional,sehingga kita bisa mengambil manfaat darinya atau dari pemahaman yang diberikannya.
b.    Baik Akhlaqnya,sebab orang yang berakal saja tanpa dibarengi dengan akhlaq yang mulia,akan membawa kita pada kehidupan yang penuh dengan nafsu angkara murka.
c.    Bukan Orang  fasiq,sebab orang fasiq itu tidak pernah takut kepada Alloh sewaktu waktu dapat mencelakakan kita dengan tipu dayanya.
d.   Bukan Ahli Bid’ah, karena ia bisa menularkan bidah yang dilakukannya.
e.    Tidak rakus dunia yang akan membuat kita lupa pada kehidupan akhirat.

Seperti dikutip dari nasehat Syaikh Ahmad bin ‘Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi atau terkenal dengan nama Ibnu Qudamah Al Maqdisi:
“Ketahuilah,bahwasanya tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya,tetapi dia harus mampu memilih kriteria-kriteria orang yang dijadikannya teman,baik dari segi sifat-sifatnya,perangai-perangainya atau lainnya yang bisa menimbulkan gairah berteman sesuai pula dengan manfaatnya yang bisa diperolehdari persahabatan tersebut itu. Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia seperti karena harta,kedudukan atau sekedar senang melihat-lihat dan bisa ngobrol saja tetapi itu bukan tujuan kita.
Ada pula orang yang berteman karena kepentingan Dien (agama), dalam hal inipun ada yang karena ingin mengambil Faedah dari ilmu dan amalnya karena kemuliaannya atau karena mengharap pertolongan dalam berbagai kepentingannya. Tapi kesimpulan dari semua itu orang yang diharapkan jadi teman hendaklah memenuhi lima kriteria berikut; Dia cerdas (berakal),berakhlaq baik,tidak fasiq,bukan ahli Bid’ah dan tidak rakus dunia. Mengapa harus demikian????....karena kecerdasan adalah sebagai modal utama,tak ada kebaikan jika berteman dengan orang yang dungu,karena terkadang ia ingin menolongmu tapi malah mencelakakanmu. Adapun orang yang berakhlak baik,itu harus. Karena terkadang orang yang cerdaspun kalau sedang marah atau dikuasai emosi,dia akan menuruti hawa nafsunya. Maka tak baik pula berteman dengan orang cerdas tetapi tidak berakhlaq. Sedangkan orang Fasiq,dia tidak punya rasa takut kepada Alloh,dan barangsiapa tidak takut pada Alloh,maka kamu tidak akan aman dari tipu daya dan kedengkiannya,dia juga tidak dipercaya. Kalau Ahli Bid’ah jika kita bergaul dengannya dikhawatirkan kita akan terpengaruh dengan jeleknya kebid’ahannya itu”.[8]

2.        Teman yang buruk
Seperti teman yang suka mengumpat, ahli bid’ah, ahli maksiat dan fasiq,dia laksana peniup api pandai besi,orang yang di sisinya akan terkena asap,percikan api atau sesak nafas karena bau yang tak enak.
Teman yg buruk ada contoh atau hadits pandai besi, ahlu bid'ah. Yg dikatakan ahlu bid'ah fasik kayak apa dg dilengkapi dalilnyaa

ADAB BERGAUL
Diantara adab-adab bergaul dengan teman, sebagai berikut[9]:
1.        Mengucap salam bila bertemu
2.        Menjenguk bila sakit
3.        Mendoakan ketika bersin
4.        Bersilaturrohmi/menziarahi dijalan Alloh
5.        Menolong ketika dalam kesulitan
6.        Memenuhi Undangan
7.        Saling memberi hadiah



[1]  HR. At Tabrani
[2]  HR. Al Baihaqi
[3] Musnad Ahmad, 2/43
[4] QS. Al Hujurot :13
[5] Tarbiyatul Aulad fil Islam 1,Dr.Abd.Nashih Ulwan hal 514
[6] Riwayat Bukhori, kitab Buyu’, Fathul Baari 4/323 dan Muslim, Kitab Al Biir 4/2026
[7] Ukhty Tetaplah Sholihah,Ustadzah Siswati hal 206
[8] Mukhtashor Minhajul Qasidin,Ibnu Qudamah hal 99
[9] Pendidikan Anak dalam Islam jilid 1,Dr.Abd.Nashih Ulwan hal 516-524

Tidak ada komentar:

Posting Komentar