HAK ANAK YANG HARUS
DIPENUHI ORANG TUA
Tulisan ini dimulai dengan kisah ini terjadi saat Umar bin Khattab menjadi
khalifah. Seorang bapak melaporkan kenakalan yang dilakukan oleh anaknya. Ayah
tersebut sedih memiliki anak yang durhaka, ini biasa terjadi dikalangan kita,
kita sering mengeluh dengan kenakalan anak kita (dan pada masa pemerintahan
Rasulullah dan para shahabatnya sudah biasa seorang kepala Negara mendengar
keluhan rakyatnya dalam segala aspek kehidupan).
Umar : Seperti apa kelakuan anakmu?Bapak : Anakku berbicara kasar dan membentak. Dia pernah menendangku. Dia juga tak segan-segan memukul. Dan masih banyak perbuatan durhaka yang lain.
Umar : Baiklah, kami akan bawa anakmu ke sini.
Selang beberapa waktu, sang anak hadir dalam ‘persidangan’ tersebut.
Umar : Anak muda! Kenapa kamu berani bertindak kasar kepada Ayahmu. Apakah kamu tidak tahu kalau Allah memerintahkan anak berbakti kepada orang tuanya.
Anak : Wahai Amirul Mukminin, jangan buru-buru menilaiku buruk. Aku akan jelaskan kepada Anda apa yang terjadi sebenarnya.
Umar : Katakan sekarang!
Anak : Wahai Amirul Mukminin, saya tahu bahwa seorang ayah memiki hak yang harus ditunaikan buah hatinya. Tapi, bukankah seorang anak juga memiliki hak yang harus dipenuhi ayahnya?
Umar : Benar.
Bapak : Lalu apa hak anak yang wajib ditunaikan ayahnya?
Umar : Ada tiga kewajiban. Pertama, memilihkan calon ibu yang baik, jangan sampai memilih wanita yang sifatnya tercela dan suka berbuat maksiat. Kedua, memberi nama yang indah dan baik. Ketiga, mengajarinya menghafalkan Al-Quran.
Anak : Amirul Mukminin! Demi Allah! Ayahku tidak menunaikan kewajiban tersebut satu pun!
Umar : Kenapa?
Anak : Ibu saya adalah budak hitam yang ayahku beli dengan harga hanya 2 dirham. Kemudian ibu saya hamil. Ketika saya lahir, ayah menamiku Ju’al (si hitam). Selain itu, ayahku tidak pernah mengajarkan Al-Quran kepadaku. Di sini saya ingin menjelaskan bahwa saya terlahir dari rahim seorang budak wanita dan ayahku tidak menghendaki aku terlahir ke dunia ini. Dia tidak mau memberiku nama yang baik seperti Abdullah atau Ahmad. Juga tidak pernah mengajarkan Al-Quran.
Perkataan itu membuat Umar menyimpulkan bahwa yang durhaka sebenarnya bukan sang anak, melainkan sang ayah.
Umar : Masalah kalian ini terjadi bukan karena ulah sang anak. Yang sebenarnya salah adalah engkau, sang Ayah. Engkau tidak bisa mendidik anakmu dengan benar sejak ia lahir. Kamu juga tidak memikirkan akibatnya nanti. Inilah akibat yang harus kamu tanggung.
1.
KENAPA HARUS MEMILIH IBU YANG BAIK
a. Ketika Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu
bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah,
harta apakah yang sebaiknya kita miliki?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab:
لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا
وَلِسَاناً ذَاكِرًا وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ
الآخِرَةِ
“Hendaklah salah seorang dari kalian
memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan istri
mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat.” (HR. Ibnu Majah no.
1856, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah no.
1505)
b.
Seorang ibu mempunyai kewajibana mengandung dan menjaga janin sampai melahirkan.
Ibu tidak hanya membesarkan fisik seorang bayi, tapi juga membentuk jiwa dan
psikisnya. Kondisi dan perilaku ibu pada masa-masa itu sangat berpengaruh pada
karakter anak di masa sekarang dan di masa depan.
c.
Ibu diciptakan memiliki karakter yang siap untuk
menerima tanggung jawab mendidik anak. .
d.
Proses pemberian ASI kepada bayi merupakan sebuah
bentuk interaksi penuh kasih sayang antara
ibu dan anak. Perilaku dan sifat-sifat ibu akan tertular secara intensif kepada
anak melalui cara ini. Oleh karena itu, Rasulullah Saw bersabda, yang artinya "Tidak
ada susu yang lebih baik bagi anak dari susu ibu." Dalam pendidikan
akhlak, Islam memberi kedudukan istimewa kepada ibu dan mengingatkan manusia
tentang jerih payah yang mereka tanggung sepanjang hidupnya. Surat Luqman ayat
14 berbunyi, "Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu
bapaknya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan
(dari awal mengandung hingga akhir menyusuinya), dan menyapihnya dalam dua
tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu."
e.
Pengajaran anak terjadi dengan meniru perilaku
kedua orang tuanya, terutama ibu. Orang-orang yang memiliki interaksi dengan
anak, mereka akan menjadi teladan bagi anak tersebut. Anak-anak akan
menyesuaikan perilakunya dengan orang-orang di sekitar mereka. Untuk itulah, kehadiran
seorang ibu mendampingi anaknya akan membantu mereka menjalani kehidupan.
2.
MEMILIHKAN NAMA YANG BAIK
Adalah menjadi hak anak dan
kewajiban yang mesti dipenuhi oleh orang tua memberikan nama yang baik
kepada bayi yang baru dilahirkan.
a.
Seorang Muslim wajib percaya kepada hari kebangkitan dan perlu
mengakui bahawa nama yang diberikan kepada anak di dunia akan kekal digunakan
di akhirat. Abu Darda ada meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda:
إنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيامَةِ
بأسْمائكُمْ وأسماءِ آبائِكُمْ فأحْسِنُوا أسْماءَكُمْ
Sesungguhnya kamu akan
diseru/dipanggil pada hari Kiamat nanti dengan nama-nama kamu dan juga nama
bapa-bapa kamu, maka perelokkanlah nama-nama kamu.” (Riwayat Imam Abu Daud dari Abu Dardak r.a.)
b.
Disunatkan
memberi nama kepada bayi pada hari ketujuh kelahirannya sebagaimana yang
terdapat dalam sabda Rasulullah SAW;
كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينٌ بِعَقِيقَةٍ تُذْبَحُ
عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ، وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى
“
Setiap anak kecil (bayi) dipertaruhkan dengan suatu aqiqah; disembelih
untuknya pada hari ke tujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama”. (Riwayat Imam Abu Daud, Tirmizi, an-Nasai dan
Ibnu Majah dari Hasan r.a. dari Samurah bin Jundub r.a.)
Rasulullah SAW juga pernah memberi nama kepada bayi pada hari
dilahirkan. Antaranya ialah hadis dari Abu Musa al-Asy’ari r.a. yang
menceritakan;
وُلِدَ لِي غُلاَمٌ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ
-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَسَمَّاهُ: إِبْرَاهِيمَ، وَحَنَّكَهُ
بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ
“Telah dilahirkan untukku seorang anak, lalu aku membawanya kepada
Rasulullah SAW, maka baginda menamakannya Ibrahim dan baginda mentahniknya
dengan sebiji buah tamar serta baginda mendoakan keberkatan untuknya.” (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim).
Maka, adalah menjadi sunnah,
menamakan bayi pada hari ketujuh atau pada hari ia dilahirkan. Imam Nawawi
dalam al-Azkar menegaskan; “Yang menjadi sunnah ialah menamakan bayi pada
hari ketujuh dari hari kelahirannya atau menamakannya pada hari kelahirannya”.
Manakala Imam Bukhari menjelaskan; “Hadis-hadis yang menyebutkan hari
kelahiran dimengertikan bagi orang yang tidak berniat melakukan aqiqah dan
adapun hadis-hadis yang menyebutkan hari ketujuh, maka dimengertikan bagi orang
yang ingin melakukan aqiqah bagi anaknya..
c. Disunatkan memberi nama-nama yang baik kerana
Rasulullah SAW bersabda;
إنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيامَةِ
بأسْمائكُمْ وأسماءِ آبائِكُمْ فأحْسِنُوا أسْماءَكُمْ
“ Sesungguhnya kamu semua akan
diseru/dipanggil pada hari Kiamat dengan nama-nama kamu dan nama-nama bapa
kamu. Oleh demikian, perelokkanlah nama-nama kamu.” (Riwayat Imam Abu Daud dari Abu Dardak r.a.)
d. Nama yang paling baik ialah Abdullah dan
Abdurrahman sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW;
إنَّ أحَبَّ أسْمائكُمْ إلى اللّه عَزَّ وَجَلَّ
عَبْدُ اللّه، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ
“
Sesungguhnya nama yang paling disukai oleh Allah dari nama-nama kamu
ialah Abdullah dan Abdurrahman.” (Riwayat Imam Muslim dari Abdullah bin Umar r.a.)
e. Menamai seperti nama
para Nabi seperti Ibrahim, Hud, Soleh, Muhammad dan sebagainya. Sebagaimana
sedia dimaklumi bahawa, Rasulullah SAW telah menamakan salah seorang anaknya
dengan nama Ibrahim.
تَسَمَّوا بأسْماءِ الأنْبِياءِ، وَأحَبُّ
الأسْماءِ إلى اللّه تَعالى عَبْدُ اللّه وَعَبْدُ الرَّحْمَن، وأصْدَقُها:
حَارِثٌ وَهمَّامٌ، وأقْبَحُها: حَرْبٌ وَمُرَّةُ
“
Berilah nama dengan nama-nama para Nabi. Nama yang paling disukai oleh
Allah ialah Abdullah dan Abdurrahman. Nama yang paling tepat (dengan hakikat
manusia) ialah Harith dan Hammam, dan nama yang paling buruk ialah Harb dan
Murrah.” (Riwayat Abu Daud,
an-Nasai dan lain-lain dari Abi Wahb al-Jusyami r.a.)
3. MENDIDIK ANAK DENGAN AL QUR’AN
Pendidikan anak adalah perkara
yang sangat penting di dalam Islam. Di dalam Al-Quran kita dapati bagaimana
Allah menceritakan petuah-petuah Luqman yang merupakan bentuk pendidikan bagi
anak-anaknya. Begitu pula dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam, kita temui banyak juga bentuk-bentuk pendidikan terhadap anak, baik
dari perintah maupun perbuatan beliau mendidik anak secara langsung.
Seorang pendidik, baik orangtua
maupun guru hendaknya mengetahui betapa besarnya tanggung-jawab mereka di
hadapan Allah ‘azza wa jalla terhadap pendidikan putra-putri islam.
Tentang perkara ini, Allah azza wa jalla
berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)
Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban”
Untuk itu -tidak bisa tidak-, seorang guru atau orang tua harus tahu apa saja yang harus diajarkan kepada seorang anak serta bagaimana metode yang telah dituntunkan oleh junjungan umat ini, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa tuntunan tersebut antara lain:
a.
Menanamkan
Tauhid dan Aqidah yang Benar kepada Anak
Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa tauhid
merupakan landasan Islam. Apabila seseorang benar tauhidnya, maka dia akan
mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, tanpa tauhid dia
pasti terjatuh ke dalam kesyirikan dan akan menemui kecelakaan di dunia serta
kekekalan di dalam adzab neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni yang lebih ringan daripada itu bagi orang-orang yang Allah kehendaki” (An- Nisa: 48)
Oleh karena itu, di dalam Al-Quran pula Allah kisahkan nasehat Luqman kepada anaknya. Salah satunya berbunyi,
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”.(Luqman: 13)
b.
Mengajari Anak
untuk Melaksanakan Ibadah
Hendaknya sejak kecil putra-putri kita diajarkan
bagaimana beribadah dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam. Mulai dari tata cara bersuci, shalat, puasa serta beragam
ibadah lainnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Al-Bukhari).
“Ajarilah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun (bila tidak mau shalat-pen)” (Shahih. Lihat Shahih Shahihil Jami’ karya Al-Albani).
Bila mereka telah bisa
menjaga ketertiban dalam shalat, maka ajak pula mereka untuk menghadiri shalat
berjama’ah di masjid. Dengan melatih mereka dari dini, insya Allah ketika
dewasa, mereka sudah terbiasa dengan ibadah-ibadah tersebut.
c.
Mengajarkan
Al-Quran, Hadits serta Doa dan Dzikir yang Ringan kepada Anak-anak
Dimulai dengan surat Al-Fathihah dan surat-surat
yang pendek serta doa tahiyat untuk shalat. Dan menyediakan guru khusus bagi
mereka yang mengajari tajwid, menghapal Al-Quran serta hadits. Begitu pula
dengan doa dan dzikir sehari-hari. Hendaknya mereka mulai menghapalkannya,
seperti doa ketika makan, keluar masuk WC dan lain-lain.
d.
Mendidik Anak
dengan Berbagai Adab dan Akhlaq yang Mulia
Ajarilah anak dengan berbagai adab Islami seperti
makan dengan tangan kanan, mengucapkan basmalah sebelum makan, menjaga
kebersihan, mengucapkan salam, dll.Begitu pula dengan akhlak. Tanamkan kepada mereka akhlaq-akhlaq mulia seperti berkata dan bersikap jujur, berbakti kepada orang tua, dermawan, menghormati yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda, serta beragam akhlaq lainnya.
e.
Membiasakan
Anak dengan Pakaian yang Syar’i
Hendaknya anak-anak dibiasakan menggunakan pakaian
sesuai dengan jenis kelaminnya. Anak laki-laki menggunakan pakaian laki-laki
dan anak perempuan menggunakan pakaian perempuan. Jauhkan anak-anak dari
model-model pakaian barat yang tidak syar’i, bahkan ketat dan menunjukkan
aurat.Tentang hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang meniru sebuah kaum, maka dia termasuk mereka.” (Shahih, HR. Abu Daud).
Uraian di atas hanya
sebagian kecil kewajiban orang tua yang harus ditunaikan untuk anknya. Janganlah
kita selulu menuntut anak untuk melaksankan kewajibananya secara baik, tetapi
penuhilah hak anak dahulu. Semoga bisa bermanfaat, terutama bagi orangtua dan
para pendidik. Wallahu a’lam bishsawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar