Jumat, 30 Januari 2015

KESEIMBANGAN  RUH, JASAD DAN AKAL
A.     PENDAHULUAN

Pada tulisan tentang kepribadian yang matang disebutkan bahwa, muslimah yang mempunyai kepribadian yang matang apabila mampu memberi asupa yang seimbang pada ruh, jasad dan akal.
“ sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk penciptaan” Qs. At Tiiin:4.
            Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk, untuk mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi. Allah mmbekali manusia dengan akal dan hawa nafsu, dengan keduanya membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Oleh karena itulah Allah memerintahkan para malaikat dan jin untuk bersujud memberikan penghormatan kepada Adam karena ia makhluk ciptaan Allah yang paling mulia QS 2:30-34.
            Dalam diri manusia terdapat beberapa unsur utama yaitu jasmani, rohani dan akal. Jasmani merupakan unsur lahiriah (materi) manusia, sedangkan dua lainnya merupakan unsur batiniyah (immateri). Unsur lahiriyah dan batiniyah adalah unsur yang saling membutuhkan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Jika jasmani sakit, maka rohani dan akal terganggu. Sebaliknya, jika rohani dan akal yang sakit maka jasmani akan terganggu pula.Seseorang yang terbaring sakit, maka ruhnya akan merasakan kesedihan dan akalnya akan memikirkan cara agar bisa cepat sembuh dari penyakitnya.

            Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, hakikat diri manusia merupakan perpaduan beberapa unsur yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Unsur-unsur dasar penciptaan manusia yang dimaksud adalah jasad, ruh, dan akal. Pandangan ini berbeda dengan pandangan kaum materialis yang mengatakan bahwa manusia hanyalah seonggok daging tanpa ada ruh dan unsur lainnya. Karena bagi kaum materialis, hakikat segala sesuatu itu hanyalah yang tampak oleh panca indera. Pandangan kaum materialis ini salah, karena pada kenyataannya ada unsur lain yang berperan dalam kehidupan manusia. Buktinya adalah ketika ruh meninggalkan jasad, maka jasad tidak dapat bergerak lagi dan tidak ada artinya. Oleh karena itulah, para ulama menyatakan bahwa peranan yang paling besar dalam diri manusia adalah ruh. Urutan berikutnya adalah akal, kemudian jasad. Meskipun peranan jasad berada di posisi terakhir, namun ia memegang peranan yang sangat penting yaitu sebagai wadah bagi ruh dan akal

B.      UNSUR RUH
1.      Pengertian Ruh
a.       Secara bahasa
Dalam al-Qâmûs al-Muhîth dan Mukhtâr al-Shahhâh kata “Rûh” berarti “sesuatu yang dengannya ada kehidupan”. Lalu kata “Rûhânî” berarti “sesuatu yang terdapat didalamnya ruh”. Dan menurut kamus-kamus bahasa Arab kata “Rûh” sama dengan kata “an-Nafs”.
b.      Secara istilah
Ruh adalah daya (sejenis makhluk/ciptaan) yang ditiupkan Allah kepada janin dalam kandungan (Surat Al-Hijr 29, Surat As-Sajadah 9, dan surat Shaad 27) ketika janin berumur 4 bulan 10 hari. Walaupun dalam istilah bahasa dikenal adanya istilah ruhani, kata ini lebih mengarah pada aspek kejiwaan, yang dalam istilah Al-Qur’an disebut nafsRuh merupakan sesuatu yang ghaib, dan kita tidak dapat mengatakan sesuatu tentangnya, kecuali dengan nash yang shahih, sebagaiman perkara ghaib lainnya, seperti: surga, neraka, malaikat, nikmat dan siksa kubur, hari kiamat dan lain-lain.
Menurut Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, ruh adalah jism (dzat) yang bentuk dan hakikatnya berbeda dengan jism manusia yang bisa ditangkap indra, ia adalah jism yang bersifat cahaya (nurani) yang sangat tinggi, ringan, bergerak dan melebur di dalam badan dan seluruh anggotanya, ia mengalir di dalam badan, layaknya aliran air di sungai atau layaknya api di dalam bara. Berfungsi pada badan dalam memberikan daya rasa, daya gerak dan daya kehendak (iradah).”
Berdasarkan QS.Al Isra’ ayat 85 bahwa ruh akan tetap menjadi rahasia yang kepastiannya hanya bisa diketahui oleh Allah semata. Namun ruh tidak bisa dipisahkan dengan hakikat kehidupan manusia karena hubungannya demikian erat, dan tanpanya seseorang tidak akan dapat melakukan banyak hal, dan lebih pentingnya lagi ruh merupakan unsur penting dalam diri manusia yang bisa  mengantarkannya pada kedekatan sang Pencipta.
Dengan adanya ruh manusia bisa merasakan dan menghirup nafas keimanan. Dan ketika seorang wanita muslimah pandai dalam memanfaatkannya, maka ia akan memilih tarbiyah dan mujahadah. Sehingga di dalam dirinya akan memperoleh ketinggian Ruhiyah, mencapai mahabbah/kecintaan Allah Ta’ala. Seperti penjelasan yang telah Allah sampaikan pada Surat Al Hadid ayat 28.
2.      Peranan Ruh
Ruh memiliki peran yang sangat penting. Karena ruh akan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam segala tindakan seseorang. Baik itu berupa ucapan atau perbuatan manusia. Apabila ruh itu baik dan shalih serta bertaqwa maka efek dan bekasnya akan bisa disaksikan berupa tampaknya amal yang baik dalam bentuk ucapan dan perbuatan manusia. Sebeliknya jika ruh ini jelek, kotor dan buruk, maka yang keluar dan tampak dari badan manusia adalah sesuatu yang jelek dan buruk.
3.  Santapan ruh
Untuk memupuk sensitifitas ruh, manusia memerlukan makanan yang bergizi berupa dzikir. Mengingat Allah, QS. Ar-Rad: 28. Betapa Al Qur’an pun telah memerintahkan manusia, sejak awal kenabian untuk membersihkan jiwanya. Manusia tidak akan berarti sama sekali kecuali dengan ruh yang suci. Manusia tidak akan lebih mulia dari makhluk lain, kecuali jika memiliki hati yang bersih.
Allah berfirman dalam QS. Thaha : 14, pada ayat ini dijelaskan bahwa sholat merupakan salah satu cara untuk dzikrullah (mengingat Allah). Selanjutnya pada QS. Al Anfaal:2, Allah SWT. berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal”.
Dalam berzikir kita kenal istilah zikrul lisani dan zikrul qolbiyaitu zikir secara lisan yang diikuti oleh hati (qolbu). Dari ketiga ayat di atas, terlihat dengan jelas bahwa mengingat Allah (zikrullah) itu bisa dilakukan dengan sholat yang khusyu, dengan mengingat sifat-sifat keagungan Allah, dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an secara lisan dan diikuti qolbu (hati). Hasil yang akan diperoleh dari mengingat Allah ini adalah tathmainnul qulub (hati yang tenteram), yaitu hati yang bersyukur di saat menerima rahmat Allah dan hati yang bersabar di saat mengadapi musibah.

C.    UNSUR JASAD
1.      Pengertian Jasad
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi jasad sebagai berikut: a. tubuh/ badan (manusia, hewan, tumbuhan); b. sesuatu yg berwujud (dapat diraba, dilihat, dsb);c. Kim bagian terbatas dr zat;
-- penempel organisme perairan yg menempel pd benda tumpangan spt batu dan tanaman air, tetapi tidak menyusup ke dl benda tumpangan itu;
-- renik barang hidup yg kecil-kecil;
Kata al-jasad disebut 4 kali dalam Al-Qur’an, yang berarti gambaran dan bentuk (QS:al-A’raf: 148, Thaaha: 88, al-Anbiya’: 8, Shaad: 344). Begitu juga kata al-jism disebut hanya 2 kali, sekali dalam bentuk mufrad dalam cerita tentang Thaluth (QS:al-Baqarah: 247), dan lainnya dalam bentuk jama’ tentang orang-orang munafiq (QS:al-Munafiqun: 4)..
Jasad merupakan bentuk lahiriah manusia, yang dalam Al-quran disebutkan  bahwa diciptakan dari tanah. Penciptaan dari tanah diungkapkan lebih lanjut melalui proses yang dimulai dari sari pati makanan, disimpan dalam tubuh sampai sebagiannya menjadi sperma atau ovum (sel telur), yang keluar dari tulang sulbi (laki-laki) dan tulang depan (saraib) perempuan (QS. Ath-Thariq: 5-7). Sperma dan ovum bersatu dan tergantung dalam rahim kandungan seorang ibu (‘alaqah), kemudian menjadi yang dililiti daging dan kemudian diisi tulang dan dibalut lagi dengan daging. Setelah ia berumur 9 (sembilan) bulan, ia lahir ke bumi dengan dorongan suatu kekuatan ruh ibu, menjadikan ia seorang anak manusia.
2.      Peranan Jasad
Jasad berfungsi sebagai wadah bagi ruh, kendaraan bagi ruh. Hubungan jasad dan ruh adalah ruh tanpa jasad, ia tidak akan dapat beramal. Amalan bisa dizahirkan apabila adanya jasad. Dan jasad tanpa ruh adalah mati.
3. . Santapan Jasad
Santapan jasad itu terdiri dari makanan, minuman, tidur, olahraga, seks dan pakaian. Islam mengajarkan agar manusia memakan makanan yang halalan thayyiba (halal dan baik untuk kesehatan). (QS. Al Baqarah:168, QS. Al Baqarah:174)
“Sesungguhnya, muslim yang kuat lebih disukai daripada muslim yang lemah.” [HR. Muslim]Inilah pula yang menjadi dasar, mengapa setiap muslim dianjurkan untuk menjaga segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya. Tak sekedar makanan maupun minuman yang enak dan dinilai bergizi saja yang dibutuhkan oleh tubuh. Lebih dari itu. Makanan yang halal, dari sisi wujud makanan itu sendiri, maupun yang halal cara mendapatkannya, akan membangun keseimbangan dalam tubuh seorang muslim. Ialah yang biasa disebut dengan makanan yang halal dan thoyyib. Itulah makanan yang akan membawa kebarokahan untuk diri kita. Makanan yang thoyyib [baik], enak dan bergizi tinggi, namun bila tercampur sesuatu yang haram, dapat merusak keseimbangan jasad. Demikian pula dengan makanan yang didapat dari rejeki yang syubhat maupun haram. Disamping itu, pola makan yang benar juga akan memengaruhi keseimbangan jasad kita. Jelas sekali Beliau SAW mencontohkan cara makan yang benar. Yaitu sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk nafas.
Sedangkan untuk istirahat, tidur, Allah SWT. menjelaskan dalam QS. Al Qashash: 71-73Sehubungan dengan olahraga, Allah SWT. berfirman dalam QS. Al Anfal:60Tentang seks Allah SWT. berfirman dalam QS. An Nuur: 24. Adapun hukum perkawinan ini dapat dilihat pada QS. An Nisaa’:32. Kebutuhan akan pakaian difirmankan Allah SWT dalam QS. Al A’raf:26 dan 31Untuk membahas bagaimana menjaga jasadagar tetap sehat dan kuat akan dibahas pada tema berikutnya tentang kewajiban muslimah terhadap dirinya.

D.    UNSUR AKAL
1.         Pengertian Akal
Akal menurut istilah ada dua pengertian :
a.       Pengetahuan-pengetahuan dasar yang ada pada setiap manusia
b.      Kesiapan bawaan yang bersifat instinktif dan kemampuan yang matang
Akal merupakan bagian dari indera yang ada dalam diri manusia yang bisa  ada dan bisa  hilang, sebagaimana sabda Nabi : “ ….Dan termasuk orang gila sampai ia kembali berakal…..” (HR. Abu Dawud )
Akal adalah daya pikir yang diciptakan Allah untuk manusia, kemudian diberi muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan oleh Allah Ta’ala.
2.         Peranan Akal
Fungsi akal, dalam hubungannya dengan upaya memahami Islam, memiliki beberapa fungsi yaitu:
a.        Sebagai alat yang strategis untuk mengungkap dan mengetahui kebenaran yang    terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rosul, dimana keduanya adalah sumber utama ajaran islam.
b.      Merupakan potensi dan modal yang melekat pada diri manusia untuk mengetahui maksud yang tercakup dalam pengertian Al-Qur’an dan Sunnah Rosul.
c.       Sebagai alat yang dapat menangkap pesan dansemangat Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan acuan dalam mengatasi dan memecahkan persoalan umat manusia dalam bentuk ijtihad.
d.      Untuk menjabarkan pesan yang terkandung dalam Al-Quran dan Sunnah dalam kaitannya dengan fungsi manusia sebagai khalifah Allah, untuk mengelola dan memakmurkan bumi dan seisinya.
e.       Sebagai tolak ukur akan kebenaran dan kebatilan.
f.       Sebagai alat untuk mencerna berbagai hal dan cara tingkah laku yang  benar.
g.      Sebagai alat penemu solusi ketika permasalahan  datang     
Namun demikian, bagaimana pun hasil akhir pencapaian akal tetaplah relatif . Untuk itu, diperlukan adanya koreksi, perubahan dan penyempurnaan terus-menerus.

3. Santapan Akal
Sesuatu yang menjadi pembeda antara manusia dan hewan adalah akalnya. Akal pula yang menjadikan manusia lebih mulia dari pada makhluk Allah yang lain. Bersama akal manusia dapat mengenal hakikat sesuatu, mencegah yang mungkar, berfikir untuk memberdayakan kekayaan Allah yang diberikan kepada manusia dalam tugasnya sebagai khalifah di muka bumi, dan lain-lain. Maka untuk menyeimbangkan akal, asupan terpenting adalah ilmu. Adapun ilmu yang paling sempurna adalah mempelajari Al Qur’an.
Ibn Rajab mengatakan, “Ilmu yang bermanfaat adalah penguasaan terhadap nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah, memahami maknanya dan mengambil atsar-atsar dari para sahabat nabi, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dalam menafsirkan makna Al Qur’an dan hadits. Termasuk perkara halal, haram, zuhud, caa melembutkan hati, pengetahuan, dan lain-lain. Berijtihad dalam masalah makna, dan pemahaman terhadap atsar tersebut. Ilmu yang demikian sudah cukup bagi orang ang berakal dan menyibukkan bagi orang yang mencari ilmu yang bermanfaat..
Ilmu yang benar akan diikuti proses selanjutnya dengan iman, kemudian dilanjutkan dengan gerak hati yang khusyuk kepada Allah. Ilmu merupakan dalil amal, sebagaimana ia juga merupakan dalil iman. Imam Bukhari turut meletakkan konsep dasar keilmuan dalam Jami’ush Shohih, bahwa “ilmu ibarat pintu, sebelum berucap dan beramal.”

           
E.     URGENSI KESEIMBANGAN RUH, JASAD DAN AKAL
Ketiga dimensi (jasad, akal, ruh) harus seimbang, dalam pengertian harus  diberi santapan agar ketiganya berjalan mengikuti sunahNya. Jika kita hanya memberikan santapan fisik saja tanpa santapan akal dan ruh, maka kita hanya memuaskan kehendak fisik/jasad  saja, tapi ruh kita sangat kering, sehingga hatipun tidak tenteram. Begitu pun halnya bila terlalu berat pada pemberian santapan akal saja, tanpa memperhatikan jasad dan ruh, maka manusia itu ibarat orang yang memiliki pengetahuan, tapi jasadnya sakit-sakitan dan hati pun tidak tenteram. Sebaliknya jika hanya dimensi ruh saja yang diperhatikan, tanpa memberikan makanan fisik dan akal berupa ilmu, terutama Al Maabaadi Al Islamiyah, maka cara berzikir pun kehilangan pedoman sehingga menjadilah manusia-manusia yang hanya memuaskan kebutuhan ruh semata, sementara jasad dan akalnya memiliki ketidakseimbangan. Dan kondisi ini tentu akan menyalahi fitrah dari Allah SWT.

F.   PENUTUP
Pemahaman tentang peranan fitrah manusia dalam memelihara pribadi sangat ditentukan oleh sikap tawazun yang diatur Islam, akan melahirkan tindakan pemenuhan konsumsi ruh, akal dan jasad sesuai bimbingan Alloh. Hal ini juga akan memotivasi peningkatan pendidikan atau tarbiyah pada ketiga aspek tersebut sehingga tercapai kebaikan dan “kesempurnaan”/keutuhan manusia yang diharapkan Alloh. Untuk skala umat, ketawazunan akan menempatkan umat lslam menjadi umat pertengahan/ ummatan wasathon [2:143].

H.    DAFTAR PUSTAKA
Abdul Muhid. Konsep Nafs dalam Al-Qur’an. Surabaya: Jurnal 338 Ilmu Dakwah Vol. 16 No. 1 April 2008.http://agorsiloku.wordpress.com/2010/09/21/konsep-nafs-dalam-al-qur’an/  
Abdul MujibFitrah dan Kepribadian Islam: Sebuah Pendekatan Psikologis. Jakarta: Dar al-Falah. 1999 dalam Tesis: Khafidhi Peranan Akal dan Qalb dalam Pendidikan Akhlaq (Studi Pemikiran Al-Ghazali).  Semarang: Program Pasca Sarjana Institut Agama Islam Negeri Walisongo. 2013.
Hasan bin Ali Al-Hijazy. Manhaj Tarbiyah Ibnu Qayyim. Terjemahan: Muzaidi Hasbullah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2001.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Manajemen Qalbu: Melumpuhkan Senjata Syetan. Terjemahan: Ainul Haris Umar Arifin Thayib. Jakarta: Darul Falah. 2005. Cetakan VI.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Obat Hati: Antara Terapi Ibnul Qayyim dan Ilusi Kaum Sufi. Terjemahan: Tajuddin. Jakarta: Darul Haq. 2007.
Ibnul Qoyyim. Ar-Ruh.  Pustaka Al-Kautsar
Siswati Ummu Ahmad. Spirit Muslimah Sejati. Pustaka Arafah

Zainal Arif. Konsep Pendidikan Islam Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar