KESEIMBANGAN RUH, JASAD DAN
AKAL
A.
PENDAHULUAN
Pada tulisan tentang kepribadian yang matang disebutkan
bahwa, muslimah yang mempunyai kepribadian yang matang apabila mampu memberi
asupa yang seimbang pada ruh, jasad dan akal.
“ sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam
sebaik-baik bentuk penciptaan” Qs. At Tiiin:4.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk, untuk
mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi. Allah mmbekali manusia dengan
akal dan hawa nafsu, dengan keduanya membedakan manusia dengan makhluk lainnya.
Oleh karena itulah Allah memerintahkan para malaikat dan jin untuk bersujud
memberikan penghormatan kepada Adam karena ia makhluk ciptaan Allah yang paling
mulia QS 2:30-34.
Dalam
diri manusia terdapat beberapa unsur utama yaitu jasmani, rohani dan akal.
Jasmani merupakan unsur lahiriah (materi) manusia, sedangkan dua lainnya
merupakan unsur batiniyah (immateri). Unsur lahiriyah dan batiniyah adalah
unsur yang saling membutuhkan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Jika
jasmani sakit, maka rohani dan akal terganggu. Sebaliknya, jika rohani dan akal
yang sakit maka jasmani akan terganggu pula.Seseorang yang terbaring sakit,
maka ruhnya akan merasakan kesedihan dan akalnya akan memikirkan cara agar bisa
cepat sembuh dari penyakitnya.
Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, hakikat diri manusia
merupakan perpaduan beberapa unsur yang saling berkaitan dan tidak dapat
dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Unsur-unsur dasar penciptaan
manusia yang dimaksud adalah jasad, ruh, dan akal. Pandangan ini berbeda dengan
pandangan kaum materialis yang mengatakan bahwa manusia hanyalah seonggok
daging tanpa ada ruh dan unsur lainnya. Karena bagi kaum materialis, hakikat
segala sesuatu itu hanyalah yang tampak oleh panca indera. Pandangan kaum
materialis ini salah, karena pada kenyataannya ada unsur lain yang berperan
dalam kehidupan manusia. Buktinya adalah ketika ruh meninggalkan jasad, maka
jasad tidak dapat bergerak lagi dan tidak ada artinya. Oleh karena itulah, para
ulama menyatakan bahwa peranan yang paling besar dalam diri manusia adalah ruh.
Urutan berikutnya adalah akal, kemudian jasad. Meskipun peranan jasad berada di
posisi terakhir, namun ia memegang peranan yang sangat penting yaitu sebagai
wadah bagi ruh dan akal
B. UNSUR RUH
1. Pengertian Ruh
a. Secara bahasa
Dalam al-Qâmûs al-Muhîth dan Mukhtâr
al-Shahhâh kata “Rûh” berarti “sesuatu yang dengannya ada kehidupan”. Lalu kata
“Rûhânî” berarti “sesuatu yang terdapat didalamnya ruh”. Dan menurut
kamus-kamus bahasa Arab kata “Rûh” sama dengan kata “an-Nafs”.
b. Secara istilah
Ruh adalah daya
(sejenis makhluk/ciptaan) yang ditiupkan Allah kepada janin dalam kandungan
(Surat Al-Hijr 29, Surat As-Sajadah 9, dan surat Shaad 27) ketika janin berumur
4 bulan 10 hari. Walaupun dalam istilah bahasa dikenal adanya istilah ruhani,
kata ini lebih mengarah pada aspek kejiwaan, yang dalam istilah Al-Qur’an
disebut nafs. Ruh merupakan sesuatu yang ghaib, dan kita tidak dapat
mengatakan sesuatu tentangnya, kecuali dengan nash yang shahih, sebagaiman
perkara ghaib lainnya, seperti: surga, neraka, malaikat, nikmat dan siksa
kubur, hari kiamat dan lain-lain.
Menurut Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, ruh
adalah jism (dzat) yang bentuk dan hakikatnya berbeda dengan jism manusia yang
bisa ditangkap indra, ia adalah jism yang bersifat cahaya (nurani) yang sangat
tinggi, ringan, bergerak dan melebur di dalam badan dan seluruh anggotanya, ia mengalir
di dalam badan, layaknya aliran air di sungai atau layaknya api di dalam bara.
Berfungsi pada badan dalam memberikan daya rasa, daya gerak dan daya kehendak
(iradah).”
Berdasarkan QS.Al
Isra’ ayat 85 bahwa ruh akan tetap menjadi rahasia yang kepastiannya hanya bisa
diketahui oleh Allah semata. Namun ruh tidak bisa dipisahkan dengan hakikat kehidupan manusia karena hubungannya
demikian erat, dan tanpanya seseorang tidak akan dapat melakukan banyak hal,
dan lebih pentingnya lagi ruh merupakan unsur penting dalam diri manusia yang
bisa mengantarkannya pada kedekatan sang Pencipta.
Dengan adanya
ruh manusia bisa merasakan dan menghirup nafas keimanan. Dan ketika seorang
wanita muslimah pandai dalam memanfaatkannya, maka ia akan memilih tarbiyah dan
mujahadah. Sehingga di dalam dirinya akan memperoleh ketinggian Ruhiyah,
mencapai mahabbah/kecintaan
Allah Ta’ala. Seperti penjelasan yang telah Allah sampaikan pada Surat Al Hadid
ayat 28.
2. Peranan Ruh
Ruh
memiliki peran yang sangat penting. Karena ruh akan memberikan pengaruh yang
sangat besar dalam segala tindakan seseorang. Baik itu berupa ucapan atau
perbuatan manusia. Apabila ruh itu baik dan shalih serta bertaqwa maka efek dan
bekasnya akan bisa disaksikan berupa tampaknya amal yang baik dalam bentuk
ucapan dan perbuatan manusia. Sebeliknya jika ruh ini jelek, kotor dan buruk,
maka yang keluar dan tampak dari badan manusia adalah sesuatu yang jelek dan
buruk.
3. Santapan ruh
Untuk memupuk sensitifitas ruh,
manusia memerlukan makanan yang bergizi berupa dzikir. Mengingat Allah, QS.
Ar-Rad: 28. Betapa Al Qur’an pun telah memerintahkan manusia, sejak awal
kenabian untuk membersihkan jiwanya. Manusia tidak akan berarti sama sekali
kecuali dengan ruh yang suci. Manusia tidak akan lebih mulia dari makhluk lain,
kecuali jika memiliki hati yang bersih.
Allah berfirman
dalam QS. Thaha : 14, pada ayat
ini dijelaskan bahwa sholat merupakan salah satu cara untuk dzikrullah
(mengingat Allah). Selanjutnya pada QS. Al Anfaal:2, Allah SWT. berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut
Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya,
bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal”.
Dalam berzikir kita kenal istilah zikrul
lisani dan zikrul qolbiyaitu zikir secara lisan yang diikuti oleh hati
(qolbu). Dari ketiga ayat di atas, terlihat dengan jelas bahwa mengingat Allah
(zikrullah) itu bisa dilakukan dengan sholat yang khusyu, dengan mengingat
sifat-sifat keagungan Allah, dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an secara lisan
dan diikuti qolbu (hati). Hasil yang akan diperoleh dari mengingat Allah ini
adalah tathmainnul qulub (hati yang tenteram), yaitu hati yang
bersyukur di saat menerima rahmat Allah dan hati yang bersabar di saat
mengadapi musibah.
C. UNSUR
JASAD
1. Pengertian Jasad
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
definisi jasad sebagai berikut: a. tubuh/ badan (manusia, hewan,
tumbuhan); b. sesuatu yg berwujud (dapat diraba, dilihat, dsb);c. Kim bagian
terbatas dr zat;
-- penempel organisme perairan yg menempel pd benda tumpangan spt batu dan tanaman air, tetapi tidak menyusup ke dl benda tumpangan itu;
-- renik barang hidup yg kecil-kecil;
-- penempel organisme perairan yg menempel pd benda tumpangan spt batu dan tanaman air, tetapi tidak menyusup ke dl benda tumpangan itu;
-- renik barang hidup yg kecil-kecil;
Kata al-jasad disebut 4 kali dalam
Al-Qur’an, yang berarti gambaran dan bentuk (QS:al-A’raf: 148, Thaaha: 88,
al-Anbiya’: 8, Shaad: 344). Begitu juga kata al-jism disebut
hanya 2 kali, sekali dalam bentuk mufrad dalam cerita tentang Thaluth
(QS:al-Baqarah: 247), dan lainnya dalam bentuk jama’ tentang orang-orang
munafiq (QS:al-Munafiqun: 4)..
Jasad merupakan
bentuk lahiriah manusia, yang dalam Al-quran disebutkan
bahwa diciptakan
dari tanah. Penciptaan dari tanah diungkapkan lebih lanjut melalui proses yang
dimulai dari sari pati makanan, disimpan dalam tubuh sampai sebagiannya menjadi
sperma atau ovum (sel telur), yang keluar dari tulang sulbi (laki-laki) dan
tulang depan (saraib) perempuan (QS. Ath-Thariq: 5-7). Sperma dan ovum bersatu
dan tergantung dalam rahim kandungan seorang ibu (‘alaqah), kemudian menjadi
yang dililiti daging dan kemudian diisi tulang dan dibalut lagi dengan daging.
Setelah ia berumur 9 (sembilan) bulan, ia lahir ke bumi dengan dorongan suatu
kekuatan ruh ibu, menjadikan ia seorang anak manusia.
2. Peranan Jasad
Jasad
berfungsi sebagai wadah bagi ruh, kendaraan bagi ruh. Hubungan jasad dan ruh
adalah ruh tanpa jasad, ia tidak akan dapat beramal. Amalan bisa dizahirkan
apabila adanya jasad. Dan jasad tanpa ruh adalah mati.
3. . Santapan Jasad
Santapan jasad itu terdiri dari
makanan, minuman, tidur, olahraga, seks dan pakaian. Islam mengajarkan agar
manusia memakan makanan yang halalan thayyiba (halal dan baik untuk kesehatan).
(QS. Al Baqarah:168, QS. Al Baqarah:174)
“Sesungguhnya, muslim yang kuat
lebih disukai daripada muslim yang lemah.” [HR. Muslim]. Inilah pula yang
menjadi dasar, mengapa setiap muslim dianjurkan untuk menjaga segala sesuatu
yang masuk ke dalam tubuhnya. Tak sekedar makanan maupun minuman yang enak dan
dinilai bergizi saja yang dibutuhkan oleh tubuh. Lebih dari itu. Makanan yang
halal, dari sisi wujud makanan itu sendiri, maupun yang halal cara
mendapatkannya, akan membangun keseimbangan dalam tubuh seorang muslim. Ialah
yang biasa disebut dengan makanan yang halal dan thoyyib. Itulah makanan yang
akan membawa kebarokahan untuk diri kita. Makanan yang thoyyib [baik], enak dan
bergizi tinggi, namun bila tercampur sesuatu yang haram, dapat merusak
keseimbangan jasad. Demikian pula dengan makanan yang didapat dari rejeki yang syubhat
maupun haram. Disamping itu, pola makan yang benar juga akan memengaruhi
keseimbangan jasad kita. Jelas sekali Beliau SAW mencontohkan cara makan yang
benar. Yaitu sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk
nafas.
Sedangkan untuk istirahat, tidur,
Allah SWT. menjelaskan dalam QS. Al Qashash: 71-73. Sehubungan
dengan olahraga, Allah SWT. berfirman dalam QS. Al Anfal:60. Tentang
seks Allah SWT. berfirman dalam QS. An Nuur: 24. Adapun hukum
perkawinan ini dapat dilihat pada QS. An Nisaa’:32. Kebutuhan akan pakaian
difirmankan Allah SWT dalam QS. Al A’raf:26 dan 31. Untuk membahas
bagaimana menjaga jasadagar tetap sehat dan kuat akan dibahas pada tema
berikutnya tentang kewajiban muslimah terhadap dirinya.
D. UNSUR AKAL
1. Pengertian Akal
Akal menurut istilah ada dua pengertian :
a.
Pengetahuan-pengetahuan dasar yang ada pada setiap manusia
b. Kesiapan bawaan yang
bersifat instinktif dan kemampuan yang matang
Akal merupakan bagian dari indera
yang ada dalam diri manusia yang bisa ada dan bisa
hilang, sebagaimana sabda Nabi : “ ….Dan termasuk orang gila sampai ia kembali
berakal…..” (HR. Abu Dawud )
Akal adalah daya pikir yang
diciptakan Allah untuk manusia, kemudian diberi muatan tertentu berupa kesiapan
dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna
bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan oleh Allah Ta’ala.
2. Peranan Akal
Fungsi akal, dalam hubungannya dengan upaya memahami Islam, memiliki beberapa fungsi yaitu:
a. Sebagai alat yang strategis untuk mengungkap dan mengetahui kebenaran yang terkandung
dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rosul, dimana
keduanya adalah sumber utama ajaran islam.
b. Merupakan potensi dan modal yang melekat pada diri manusia untuk mengetahui
maksud yang tercakup dalam
pengertian Al-Qur’an dan Sunnah Rosul.
c. Sebagai alat yang dapat menangkap pesan dansemangat Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan
acuan dalam mengatasi dan memecahkan persoalan umat manusia dalam bentuk ijtihad.
d. Untuk menjabarkan pesan yang
terkandung dalam Al-Quran dan Sunnah dalam kaitannya dengan fungsi manusia sebagai khalifah
Allah, untuk mengelola dan memakmurkan bumi dan seisinya.
e. Sebagai tolak ukur akan kebenaran dan kebatilan.
f. Sebagai alat untuk mencerna berbagai hal dan cara tingkah
laku yang benar.
g. Sebagai alat penemu solusi
ketika permasalahan datang
Namun demikian, bagaimana pun hasil akhir pencapaian akal
tetaplah relatif . Untuk itu, diperlukan adanya koreksi, perubahan dan
penyempurnaan terus-menerus.
3. Santapan Akal
Sesuatu yang menjadi pembeda antara
manusia dan hewan adalah akalnya. Akal pula yang menjadikan manusia lebih mulia
dari pada makhluk Allah yang lain. Bersama akal manusia dapat mengenal hakikat
sesuatu, mencegah yang mungkar, berfikir untuk memberdayakan kekayaan Allah
yang diberikan kepada manusia dalam tugasnya sebagai khalifah di muka bumi, dan
lain-lain. Maka untuk menyeimbangkan akal, asupan terpenting adalah ilmu.
Adapun ilmu yang paling sempurna adalah mempelajari Al Qur’an.
Ibn Rajab mengatakan, “Ilmu yang
bermanfaat adalah penguasaan terhadap nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah,
memahami maknanya dan mengambil atsar-atsar dari para sahabat nabi, tabi’in,
tabi’ut tabi’in, dalam menafsirkan makna Al Qur’an dan hadits. Termasuk perkara
halal, haram, zuhud, caa melembutkan hati, pengetahuan, dan lain-lain.
Berijtihad dalam masalah makna, dan pemahaman terhadap atsar tersebut. Ilmu
yang demikian sudah cukup bagi orang ang berakal dan menyibukkan bagi orang yang
mencari ilmu yang bermanfaat..
Ilmu yang benar akan diikuti proses
selanjutnya dengan iman, kemudian dilanjutkan dengan gerak hati yang khusyuk
kepada Allah. Ilmu merupakan dalil amal, sebagaimana ia juga merupakan dalil
iman. Imam Bukhari turut meletakkan konsep dasar keilmuan dalam Jami’ush Shohih,
bahwa “ilmu ibarat pintu, sebelum berucap dan beramal.”
E. URGENSI KESEIMBANGAN RUH, JASAD DAN AKAL
Ketiga dimensi (jasad, akal, ruh) harus seimbang, dalam
pengertian harus diberi santapan agar ketiganya berjalan mengikuti
sunahNya. Jika kita hanya memberikan
santapan fisik saja tanpa santapan akal dan ruh, maka kita hanya memuaskan
kehendak fisik/jasad saja, tapi ruh kita sangat kering, sehingga hatipun
tidak tenteram. Begitu pun halnya bila terlalu berat pada pemberian santapan
akal saja, tanpa memperhatikan jasad dan ruh, maka manusia itu ibarat orang
yang memiliki pengetahuan, tapi jasadnya sakit-sakitan dan hati pun tidak
tenteram. Sebaliknya jika hanya dimensi ruh saja yang diperhatikan, tanpa
memberikan makanan fisik dan akal berupa ilmu, terutama Al Maabaadi Al
Islamiyah, maka cara berzikir pun kehilangan pedoman sehingga menjadilah
manusia-manusia yang hanya memuaskan kebutuhan ruh semata, sementara jasad dan
akalnya memiliki ketidakseimbangan. Dan kondisi ini tentu akan menyalahi fitrah
dari Allah SWT.
F. PENUTUP
Pemahaman tentang peranan fitrah
manusia dalam memelihara pribadi sangat ditentukan oleh sikap tawazun yang
diatur Islam, akan melahirkan tindakan pemenuhan konsumsi ruh, akal dan jasad
sesuai bimbingan Alloh. Hal ini juga akan memotivasi peningkatan pendidikan
atau tarbiyah pada ketiga aspek tersebut sehingga tercapai kebaikan dan
“kesempurnaan”/keutuhan manusia yang diharapkan Alloh. Untuk skala umat,
ketawazunan akan menempatkan umat lslam menjadi umat pertengahan/ ummatan
wasathon [2:143].
H. DAFTAR PUSTAKA
Abdul Muhid. Konsep Nafs dalam Al-Qur’an.
Surabaya: Jurnal 338 Ilmu Dakwah Vol. 16 No. 1 April 2008.http://agorsiloku.wordpress.com/2010/09/21/konsep-nafs-dalam-al-qur’an/
Abdul Mujib. Fitrah
dan Kepribadian Islam: Sebuah Pendekatan Psikologis. Jakarta: Dar al-Falah. 1999
dalam Tesis: Khafidhi Peranan Akal dan Qalb dalam Pendidikan Akhlaq
(Studi Pemikiran Al-Ghazali). Semarang: Program Pasca Sarjana
Institut Agama Islam Negeri Walisongo. 2013.
Hasan bin Ali Al-Hijazy. Manhaj Tarbiyah
Ibnu Qayyim. Terjemahan: Muzaidi Hasbullah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
2001.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Manajemen Qalbu:
Melumpuhkan Senjata Syetan. Terjemahan: Ainul Haris Umar Arifin Thayib.
Jakarta: Darul Falah. 2005. Cetakan VI.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Obat
Hati: Antara Terapi Ibnul Qayyim dan Ilusi Kaum Sufi. Terjemahan: Tajuddin.
Jakarta: Darul Haq. 2007.
Ibnul Qoyyim. Ar-Ruh.
Pustaka Al-Kautsar
Siswati Ummu Ahmad. Spirit
Muslimah Sejati. Pustaka Arafah
Zainal Arif. Konsep Pendidikan Islam Menurut Ibnu Qayyim
al-Jauziyah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar