Jumat, 30 Januari 2015

KESEIMBANGAN  RUH, JASAD DAN AKAL
A.     PENDAHULUAN

Pada tulisan tentang kepribadian yang matang disebutkan bahwa, muslimah yang mempunyai kepribadian yang matang apabila mampu memberi asupa yang seimbang pada ruh, jasad dan akal.
“ sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk penciptaan” Qs. At Tiiin:4.
            Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk, untuk mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi. Allah mmbekali manusia dengan akal dan hawa nafsu, dengan keduanya membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Oleh karena itulah Allah memerintahkan para malaikat dan jin untuk bersujud memberikan penghormatan kepada Adam karena ia makhluk ciptaan Allah yang paling mulia QS 2:30-34.
            Dalam diri manusia terdapat beberapa unsur utama yaitu jasmani, rohani dan akal. Jasmani merupakan unsur lahiriah (materi) manusia, sedangkan dua lainnya merupakan unsur batiniyah (immateri). Unsur lahiriyah dan batiniyah adalah unsur yang saling membutuhkan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Jika jasmani sakit, maka rohani dan akal terganggu. Sebaliknya, jika rohani dan akal yang sakit maka jasmani akan terganggu pula.Seseorang yang terbaring sakit, maka ruhnya akan merasakan kesedihan dan akalnya akan memikirkan cara agar bisa cepat sembuh dari penyakitnya.

            Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, hakikat diri manusia merupakan perpaduan beberapa unsur yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Unsur-unsur dasar penciptaan manusia yang dimaksud adalah jasad, ruh, dan akal. Pandangan ini berbeda dengan pandangan kaum materialis yang mengatakan bahwa manusia hanyalah seonggok daging tanpa ada ruh dan unsur lainnya. Karena bagi kaum materialis, hakikat segala sesuatu itu hanyalah yang tampak oleh panca indera. Pandangan kaum materialis ini salah, karena pada kenyataannya ada unsur lain yang berperan dalam kehidupan manusia. Buktinya adalah ketika ruh meninggalkan jasad, maka jasad tidak dapat bergerak lagi dan tidak ada artinya. Oleh karena itulah, para ulama menyatakan bahwa peranan yang paling besar dalam diri manusia adalah ruh. Urutan berikutnya adalah akal, kemudian jasad. Meskipun peranan jasad berada di posisi terakhir, namun ia memegang peranan yang sangat penting yaitu sebagai wadah bagi ruh dan akal

B.      UNSUR RUH
1.      Pengertian Ruh
a.       Secara bahasa
Dalam al-Qâmûs al-Muhîth dan Mukhtâr al-Shahhâh kata “Rûh” berarti “sesuatu yang dengannya ada kehidupan”. Lalu kata “Rûhânî” berarti “sesuatu yang terdapat didalamnya ruh”. Dan menurut kamus-kamus bahasa Arab kata “Rûh” sama dengan kata “an-Nafs”.
b.      Secara istilah
Ruh adalah daya (sejenis makhluk/ciptaan) yang ditiupkan Allah kepada janin dalam kandungan (Surat Al-Hijr 29, Surat As-Sajadah 9, dan surat Shaad 27) ketika janin berumur 4 bulan 10 hari. Walaupun dalam istilah bahasa dikenal adanya istilah ruhani, kata ini lebih mengarah pada aspek kejiwaan, yang dalam istilah Al-Qur’an disebut nafsRuh merupakan sesuatu yang ghaib, dan kita tidak dapat mengatakan sesuatu tentangnya, kecuali dengan nash yang shahih, sebagaiman perkara ghaib lainnya, seperti: surga, neraka, malaikat, nikmat dan siksa kubur, hari kiamat dan lain-lain.
Menurut Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, ruh adalah jism (dzat) yang bentuk dan hakikatnya berbeda dengan jism manusia yang bisa ditangkap indra, ia adalah jism yang bersifat cahaya (nurani) yang sangat tinggi, ringan, bergerak dan melebur di dalam badan dan seluruh anggotanya, ia mengalir di dalam badan, layaknya aliran air di sungai atau layaknya api di dalam bara. Berfungsi pada badan dalam memberikan daya rasa, daya gerak dan daya kehendak (iradah).”
Berdasarkan QS.Al Isra’ ayat 85 bahwa ruh akan tetap menjadi rahasia yang kepastiannya hanya bisa diketahui oleh Allah semata. Namun ruh tidak bisa dipisahkan dengan hakikat kehidupan manusia karena hubungannya demikian erat, dan tanpanya seseorang tidak akan dapat melakukan banyak hal, dan lebih pentingnya lagi ruh merupakan unsur penting dalam diri manusia yang bisa  mengantarkannya pada kedekatan sang Pencipta.
Dengan adanya ruh manusia bisa merasakan dan menghirup nafas keimanan. Dan ketika seorang wanita muslimah pandai dalam memanfaatkannya, maka ia akan memilih tarbiyah dan mujahadah. Sehingga di dalam dirinya akan memperoleh ketinggian Ruhiyah, mencapai mahabbah/kecintaan Allah Ta’ala. Seperti penjelasan yang telah Allah sampaikan pada Surat Al Hadid ayat 28.
2.      Peranan Ruh
Ruh memiliki peran yang sangat penting. Karena ruh akan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam segala tindakan seseorang. Baik itu berupa ucapan atau perbuatan manusia. Apabila ruh itu baik dan shalih serta bertaqwa maka efek dan bekasnya akan bisa disaksikan berupa tampaknya amal yang baik dalam bentuk ucapan dan perbuatan manusia. Sebeliknya jika ruh ini jelek, kotor dan buruk, maka yang keluar dan tampak dari badan manusia adalah sesuatu yang jelek dan buruk.
3.  Santapan ruh
Untuk memupuk sensitifitas ruh, manusia memerlukan makanan yang bergizi berupa dzikir. Mengingat Allah, QS. Ar-Rad: 28. Betapa Al Qur’an pun telah memerintahkan manusia, sejak awal kenabian untuk membersihkan jiwanya. Manusia tidak akan berarti sama sekali kecuali dengan ruh yang suci. Manusia tidak akan lebih mulia dari makhluk lain, kecuali jika memiliki hati yang bersih.
Allah berfirman dalam QS. Thaha : 14, pada ayat ini dijelaskan bahwa sholat merupakan salah satu cara untuk dzikrullah (mengingat Allah). Selanjutnya pada QS. Al Anfaal:2, Allah SWT. berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal”.
Dalam berzikir kita kenal istilah zikrul lisani dan zikrul qolbiyaitu zikir secara lisan yang diikuti oleh hati (qolbu). Dari ketiga ayat di atas, terlihat dengan jelas bahwa mengingat Allah (zikrullah) itu bisa dilakukan dengan sholat yang khusyu, dengan mengingat sifat-sifat keagungan Allah, dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an secara lisan dan diikuti qolbu (hati). Hasil yang akan diperoleh dari mengingat Allah ini adalah tathmainnul qulub (hati yang tenteram), yaitu hati yang bersyukur di saat menerima rahmat Allah dan hati yang bersabar di saat mengadapi musibah.

C.    UNSUR JASAD
1.      Pengertian Jasad
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi jasad sebagai berikut: a. tubuh/ badan (manusia, hewan, tumbuhan); b. sesuatu yg berwujud (dapat diraba, dilihat, dsb);c. Kim bagian terbatas dr zat;
-- penempel organisme perairan yg menempel pd benda tumpangan spt batu dan tanaman air, tetapi tidak menyusup ke dl benda tumpangan itu;
-- renik barang hidup yg kecil-kecil;
Kata al-jasad disebut 4 kali dalam Al-Qur’an, yang berarti gambaran dan bentuk (QS:al-A’raf: 148, Thaaha: 88, al-Anbiya’: 8, Shaad: 344). Begitu juga kata al-jism disebut hanya 2 kali, sekali dalam bentuk mufrad dalam cerita tentang Thaluth (QS:al-Baqarah: 247), dan lainnya dalam bentuk jama’ tentang orang-orang munafiq (QS:al-Munafiqun: 4)..
Jasad merupakan bentuk lahiriah manusia, yang dalam Al-quran disebutkan  bahwa diciptakan dari tanah. Penciptaan dari tanah diungkapkan lebih lanjut melalui proses yang dimulai dari sari pati makanan, disimpan dalam tubuh sampai sebagiannya menjadi sperma atau ovum (sel telur), yang keluar dari tulang sulbi (laki-laki) dan tulang depan (saraib) perempuan (QS. Ath-Thariq: 5-7). Sperma dan ovum bersatu dan tergantung dalam rahim kandungan seorang ibu (‘alaqah), kemudian menjadi yang dililiti daging dan kemudian diisi tulang dan dibalut lagi dengan daging. Setelah ia berumur 9 (sembilan) bulan, ia lahir ke bumi dengan dorongan suatu kekuatan ruh ibu, menjadikan ia seorang anak manusia.
2.      Peranan Jasad
Jasad berfungsi sebagai wadah bagi ruh, kendaraan bagi ruh. Hubungan jasad dan ruh adalah ruh tanpa jasad, ia tidak akan dapat beramal. Amalan bisa dizahirkan apabila adanya jasad. Dan jasad tanpa ruh adalah mati.
3. . Santapan Jasad
Santapan jasad itu terdiri dari makanan, minuman, tidur, olahraga, seks dan pakaian. Islam mengajarkan agar manusia memakan makanan yang halalan thayyiba (halal dan baik untuk kesehatan). (QS. Al Baqarah:168, QS. Al Baqarah:174)
“Sesungguhnya, muslim yang kuat lebih disukai daripada muslim yang lemah.” [HR. Muslim]Inilah pula yang menjadi dasar, mengapa setiap muslim dianjurkan untuk menjaga segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya. Tak sekedar makanan maupun minuman yang enak dan dinilai bergizi saja yang dibutuhkan oleh tubuh. Lebih dari itu. Makanan yang halal, dari sisi wujud makanan itu sendiri, maupun yang halal cara mendapatkannya, akan membangun keseimbangan dalam tubuh seorang muslim. Ialah yang biasa disebut dengan makanan yang halal dan thoyyib. Itulah makanan yang akan membawa kebarokahan untuk diri kita. Makanan yang thoyyib [baik], enak dan bergizi tinggi, namun bila tercampur sesuatu yang haram, dapat merusak keseimbangan jasad. Demikian pula dengan makanan yang didapat dari rejeki yang syubhat maupun haram. Disamping itu, pola makan yang benar juga akan memengaruhi keseimbangan jasad kita. Jelas sekali Beliau SAW mencontohkan cara makan yang benar. Yaitu sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk nafas.
Sedangkan untuk istirahat, tidur, Allah SWT. menjelaskan dalam QS. Al Qashash: 71-73Sehubungan dengan olahraga, Allah SWT. berfirman dalam QS. Al Anfal:60Tentang seks Allah SWT. berfirman dalam QS. An Nuur: 24. Adapun hukum perkawinan ini dapat dilihat pada QS. An Nisaa’:32. Kebutuhan akan pakaian difirmankan Allah SWT dalam QS. Al A’raf:26 dan 31Untuk membahas bagaimana menjaga jasadagar tetap sehat dan kuat akan dibahas pada tema berikutnya tentang kewajiban muslimah terhadap dirinya.

D.    UNSUR AKAL
1.         Pengertian Akal
Akal menurut istilah ada dua pengertian :
a.       Pengetahuan-pengetahuan dasar yang ada pada setiap manusia
b.      Kesiapan bawaan yang bersifat instinktif dan kemampuan yang matang
Akal merupakan bagian dari indera yang ada dalam diri manusia yang bisa  ada dan bisa  hilang, sebagaimana sabda Nabi : “ ….Dan termasuk orang gila sampai ia kembali berakal…..” (HR. Abu Dawud )
Akal adalah daya pikir yang diciptakan Allah untuk manusia, kemudian diberi muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan oleh Allah Ta’ala.
2.         Peranan Akal
Fungsi akal, dalam hubungannya dengan upaya memahami Islam, memiliki beberapa fungsi yaitu:
a.        Sebagai alat yang strategis untuk mengungkap dan mengetahui kebenaran yang    terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rosul, dimana keduanya adalah sumber utama ajaran islam.
b.      Merupakan potensi dan modal yang melekat pada diri manusia untuk mengetahui maksud yang tercakup dalam pengertian Al-Qur’an dan Sunnah Rosul.
c.       Sebagai alat yang dapat menangkap pesan dansemangat Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan acuan dalam mengatasi dan memecahkan persoalan umat manusia dalam bentuk ijtihad.
d.      Untuk menjabarkan pesan yang terkandung dalam Al-Quran dan Sunnah dalam kaitannya dengan fungsi manusia sebagai khalifah Allah, untuk mengelola dan memakmurkan bumi dan seisinya.
e.       Sebagai tolak ukur akan kebenaran dan kebatilan.
f.       Sebagai alat untuk mencerna berbagai hal dan cara tingkah laku yang  benar.
g.      Sebagai alat penemu solusi ketika permasalahan  datang     
Namun demikian, bagaimana pun hasil akhir pencapaian akal tetaplah relatif . Untuk itu, diperlukan adanya koreksi, perubahan dan penyempurnaan terus-menerus.

3. Santapan Akal
Sesuatu yang menjadi pembeda antara manusia dan hewan adalah akalnya. Akal pula yang menjadikan manusia lebih mulia dari pada makhluk Allah yang lain. Bersama akal manusia dapat mengenal hakikat sesuatu, mencegah yang mungkar, berfikir untuk memberdayakan kekayaan Allah yang diberikan kepada manusia dalam tugasnya sebagai khalifah di muka bumi, dan lain-lain. Maka untuk menyeimbangkan akal, asupan terpenting adalah ilmu. Adapun ilmu yang paling sempurna adalah mempelajari Al Qur’an.
Ibn Rajab mengatakan, “Ilmu yang bermanfaat adalah penguasaan terhadap nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah, memahami maknanya dan mengambil atsar-atsar dari para sahabat nabi, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dalam menafsirkan makna Al Qur’an dan hadits. Termasuk perkara halal, haram, zuhud, caa melembutkan hati, pengetahuan, dan lain-lain. Berijtihad dalam masalah makna, dan pemahaman terhadap atsar tersebut. Ilmu yang demikian sudah cukup bagi orang ang berakal dan menyibukkan bagi orang yang mencari ilmu yang bermanfaat..
Ilmu yang benar akan diikuti proses selanjutnya dengan iman, kemudian dilanjutkan dengan gerak hati yang khusyuk kepada Allah. Ilmu merupakan dalil amal, sebagaimana ia juga merupakan dalil iman. Imam Bukhari turut meletakkan konsep dasar keilmuan dalam Jami’ush Shohih, bahwa “ilmu ibarat pintu, sebelum berucap dan beramal.”

           
E.     URGENSI KESEIMBANGAN RUH, JASAD DAN AKAL
Ketiga dimensi (jasad, akal, ruh) harus seimbang, dalam pengertian harus  diberi santapan agar ketiganya berjalan mengikuti sunahNya. Jika kita hanya memberikan santapan fisik saja tanpa santapan akal dan ruh, maka kita hanya memuaskan kehendak fisik/jasad  saja, tapi ruh kita sangat kering, sehingga hatipun tidak tenteram. Begitu pun halnya bila terlalu berat pada pemberian santapan akal saja, tanpa memperhatikan jasad dan ruh, maka manusia itu ibarat orang yang memiliki pengetahuan, tapi jasadnya sakit-sakitan dan hati pun tidak tenteram. Sebaliknya jika hanya dimensi ruh saja yang diperhatikan, tanpa memberikan makanan fisik dan akal berupa ilmu, terutama Al Maabaadi Al Islamiyah, maka cara berzikir pun kehilangan pedoman sehingga menjadilah manusia-manusia yang hanya memuaskan kebutuhan ruh semata, sementara jasad dan akalnya memiliki ketidakseimbangan. Dan kondisi ini tentu akan menyalahi fitrah dari Allah SWT.

F.   PENUTUP
Pemahaman tentang peranan fitrah manusia dalam memelihara pribadi sangat ditentukan oleh sikap tawazun yang diatur Islam, akan melahirkan tindakan pemenuhan konsumsi ruh, akal dan jasad sesuai bimbingan Alloh. Hal ini juga akan memotivasi peningkatan pendidikan atau tarbiyah pada ketiga aspek tersebut sehingga tercapai kebaikan dan “kesempurnaan”/keutuhan manusia yang diharapkan Alloh. Untuk skala umat, ketawazunan akan menempatkan umat lslam menjadi umat pertengahan/ ummatan wasathon [2:143].

H.    DAFTAR PUSTAKA
Abdul Muhid. Konsep Nafs dalam Al-Qur’an. Surabaya: Jurnal 338 Ilmu Dakwah Vol. 16 No. 1 April 2008.http://agorsiloku.wordpress.com/2010/09/21/konsep-nafs-dalam-al-qur’an/  
Abdul MujibFitrah dan Kepribadian Islam: Sebuah Pendekatan Psikologis. Jakarta: Dar al-Falah. 1999 dalam Tesis: Khafidhi Peranan Akal dan Qalb dalam Pendidikan Akhlaq (Studi Pemikiran Al-Ghazali).  Semarang: Program Pasca Sarjana Institut Agama Islam Negeri Walisongo. 2013.
Hasan bin Ali Al-Hijazy. Manhaj Tarbiyah Ibnu Qayyim. Terjemahan: Muzaidi Hasbullah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2001.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Manajemen Qalbu: Melumpuhkan Senjata Syetan. Terjemahan: Ainul Haris Umar Arifin Thayib. Jakarta: Darul Falah. 2005. Cetakan VI.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Obat Hati: Antara Terapi Ibnul Qayyim dan Ilusi Kaum Sufi. Terjemahan: Tajuddin. Jakarta: Darul Haq. 2007.
Ibnul Qoyyim. Ar-Ruh.  Pustaka Al-Kautsar
Siswati Ummu Ahmad. Spirit Muslimah Sejati. Pustaka Arafah

Zainal Arif. Konsep Pendidikan Islam Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah. 

Rabu, 28 Januari 2015

Kepribadian Yang Matang

KEPRIBADIAN YANG MATANG

Pada tulisan sebelumya telah di sampaikan makna musslimah ideal dengan beberapa karakter yang harus ada padanya. Satu karakter yang harus dimiliki seorang muslimah ideal adalah mempunyai kepribadian yang matang.

Schever Dan Lamm (1998, ahli sosiologi) mendefinisikan kepribadian sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri khas dan perilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi stadar atau baku, sehingga kalau dikatakan pola sikap, maka sikap itu sudah baku berlaku terus menerus secara konsisten dalam menghadapi situasi yang ia hadapi (putratatiratu.blogspot.com/2008/06/pengertian-kepribadian)

Adapun kepribadian yang matang adalah kemampuan seseorang dalam mengekspresikan emosi dan mengelola hubungan dengan orang lain, sehingga memiliki kemampuan dalam memecahkan berbagai masalah dengan bijaksana. Dan kepribadian itu harus tegak di atas dasar iman yang dibalut dengan ilmu dan keshalihan amal yang berujung pada terbentuknya karakter dan tabiat yang sholihah pula. 

Muslimah disebut memiliki kepribadian yang matang apabila memiliki kepribadian robbani artinya segala ucapan, sikap, perilaku, penampilan dan tindakannya selalu terkontrol di bawah bimbingan Allah Rabbul 'Alamin, sehingga ia mampu mengelola diri dalam menjalin hubungan dengan orang lain dan memahami hak dan kewajiban secara seimbang. Hal itu dapat terwujud jika ia memiliki kekuatan di bidang aqidah dan ibadah serta mampu menjaga diri di setiap langkah dan mengatasi persoalan hidup dan memiliki rasa percaya diri. (Ustadzah Siswati, aktivis dakwah muslimah)

Muslimah dikatakan memiliki kepribadian yang matang apabila dia mempunyai kemampuan dalam hal :
  1. Menjaga keseimbangan dalam memberikan asupan bagi ketiga unsur dalam dirinya, Dalam manhaj Tarbiyah ibnu Qoyyim menuliskan bahwa manusia terdiri dari tiga unsur yaitu ruh, jasad dan akal, maka seorang muslimah yang sadar akan hal ini harus mampu memberikan asupan yang seimbang bagi ketiga unsur tersebut. Unsur ruh harus diberikan asupan dengan menjalankan amalan-amalan yang mendekatkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, seperti shalat baik wajib ataupun sunah, shaum, tilawatil qur'an dan sebagainya, disamping itu muslimah harus menjaga diri dari kemaksiatan agar terhindar rasa jauh dari Rabbnya. Unsur akal juga harus dijaga asupannya dengan memabaca atau melihat hal-hal yang bermanfaat bagi akalnya dan menghindari bacaan atau tontonan yang merusak akal. Unsur jasad harus dijaga dengan mengkonsumsi makanan atau minuman yang halal dan thoyyib serta menghindari makanan dan minuman yang haram dan merusak jasad.
  2. Muslimah harus selalu menjaga hatinya agar selalu dalam kondisi salim. Dalam beberapa buku tazkiyatun nafs akan kita dapatkan bahwa hati merupakan organ yang sangat berpengaruh dalam menentukan sikap dan perilaku seseorang, dan kondisi hati manusia dibagi menjadi tiga, sehat, sakit dan mati. 
  3. Muslimah harus bisa menjaga emosi dan mengendalikan diri. Emosi tidak hanya marah saja, emosi ada yang positip (senang, takjub dll) ada yang negatif (marah, sedih dll). muslimah yang berkepribadian yang matang akan mampu menngendalikan diri ketika marah, sedih, takjub, gembira dll.
  4. Muslimah dalam bergaul mampu memilih dengan siapa mereka bergaul dan mampu menentukan sikap pada saat dia bergaul dengan siapa, mampu membedakan kondisi dia bergaul. Dimanapun dia berada dalam lingkungan sosial yang berbeda beda dia tetap bisa menyesuaikan diri dan dapat diterima di masyarakat sekitar.
  5. Muslimah dalam beramal mampu menghadirkan sosok idola, disini muslimah hendaklah mampu mencontoh perilaku Rasulullah (dalam hubungan dengan Allah, keluarga dan masyarakat). Begitu juga mencontoh para shahabiah, sehingga mampu mengambil langkah yang tepat dalam hidup yang kembali kepada generasi awal umat Islam (karena Rasulullah brsabda yang artinya sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelahku kemudian setelahku.
Itulah beberapa hal yang harus dimiliki seorang muslimah ketika dia ingin menjadi muslimah ideal. (masing-masing point akan diuraikan lebih lanjut dalam tulisan yang berikutnya insya Allah)


Selasa, 06 Januari 2015

hak-hak anak

HAK ANAK YANG HARUS DIPENUHI ORANG TUA

Tulisan ini dimulai dengan kisah ini terjadi saat Umar bin Khattab menjadi khalifah. Seorang bapak melaporkan kenakalan  yang dilakukan oleh anaknya. Ayah tersebut sedih memiliki anak yang durhaka, ini biasa terjadi dikalangan kita, kita sering mengeluh dengan kenakalan anak kita (dan pada masa pemerintahan Rasulullah dan para shahabatnya sudah biasa seorang kepala Negara mendengar keluhan rakyatnya dalam segala aspek kehidupan).
Umar : Seperti apa kelakuan anakmu?
Bapak : Anakku berbicara kasar dan membentak. Dia pernah menendangku. Dia juga tak segan-segan memukul. Dan masih banyak perbuatan durhaka yang lain.
Umar : Baiklah, kami akan bawa anakmu ke sini.
Selang beberapa waktu, sang anak hadir dalam ‘persidangan’ tersebut.
Umar : Anak muda! Kenapa kamu berani bertindak kasar kepada Ayahmu. Apakah kamu tidak tahu kalau Allah memerintahkan anak berbakti kepada orang tuanya.
Anak : Wahai Amirul Mukminin, jangan buru-buru menilaiku buruk. Aku akan jelaskan kepada Anda apa yang terjadi sebenarnya.
Umar : Katakan sekarang!
Anak : Wahai Amirul Mukminin, saya tahu bahwa seorang ayah memiki hak yang harus ditunaikan buah hatinya. Tapi, bukankah seorang anak juga memiliki hak yang harus dipenuhi ayahnya?
Umar : Benar.
Bapak : Lalu apa hak anak yang wajib ditunaikan ayahnya?
Umar : Ada tiga kewajiban. Pertama, memilihkan calon ibu yang baik, jangan sampai memilih wanita yang sifatnya tercela dan suka berbuat maksiat. Kedua, memberi nama yang indah dan baik. Ketiga, mengajarinya menghafalkan Al-Quran.
Anak : Amirul Mukminin! Demi Allah! Ayahku tidak menunaikan kewajiban tersebut satu pun!
Umar : Kenapa?
Anak : Ibu saya adalah budak hitam yang ayahku beli dengan harga hanya 2 dirham. Kemudian ibu saya hamil. Ketika saya lahir, ayah menamiku Ju’al (si hitam). Selain itu, ayahku tidak pernah mengajarkan Al-Quran kepadaku. Di sini saya ingin menjelaskan bahwa saya terlahir dari rahim seorang budak wanita dan ayahku tidak menghendaki aku terlahir ke dunia ini. Dia tidak mau memberiku nama yang baik seperti Abdullah atau Ahmad. Juga tidak pernah mengajarkan Al-Quran.
Perkataan itu membuat Umar menyimpulkan bahwa yang durhaka sebenarnya bukan sang anak, melainkan sang ayah.
Umar : Masalah kalian ini terjadi bukan karena ulah sang anak. Yang sebenarnya salah adalah engkau, sang Ayah. Engkau tidak bisa mendidik anakmu dengan benar sejak ia lahir. Kamu juga tidak memikirkan akibatnya nanti. Inilah akibat yang harus kamu tanggung.
1.       KENAPA HARUS MEMILIH IBU YANG BAIK
a.     Ketika Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَاناً ذَاكِرًا وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الآخِرَةِ
Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat.” (HR. Ibnu Majah no. 1856, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah no. 1505)
b.    Seorang ibu mempunyai kewajibana  mengandung dan menjaga janin sampai melahirkan. Ibu tidak hanya membesarkan fisik seorang bayi, tapi juga membentuk jiwa dan psikisnya. Kondisi dan perilaku ibu pada masa-masa itu sangat berpengaruh pada karakter anak di masa sekarang dan di masa depan.
c.     Ibu diciptakan memiliki karakter yang siap untuk menerima tanggung jawab mendidik anak. .
d.    Proses pemberian ASI kepada bayi merupakan sebuah bentuk interaksi  penuh kasih sayang antara ibu dan anak. Perilaku dan sifat-sifat ibu akan tertular secara intensif kepada anak melalui cara ini. Oleh karena itu, Rasulullah Saw bersabda, yang artinya "Tidak ada susu yang lebih baik bagi anak dari susu ibu." Dalam pendidikan akhlak, Islam memberi kedudukan istimewa kepada ibu dan mengingatkan manusia tentang jerih payah yang mereka tanggung sepanjang hidupnya. Surat Luqman ayat 14 berbunyi, "Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusuinya), dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu."
e.     Pengajaran anak terjadi dengan meniru perilaku kedua orang tuanya, terutama ibu. Orang-orang yang memiliki interaksi dengan anak, mereka akan menjadi teladan bagi anak tersebut. Anak-anak akan menyesuaikan perilakunya dengan orang-orang di sekitar mereka. Untuk itulah, kehadiran seorang ibu mendampingi anaknya akan membantu mereka menjalani kehidupan.

2.       MEMILIHKAN NAMA YANG BAIK

Adalah menjadi hak anak dan kewajiban yang mesti dipenuhi oleh orang tua memberikan nama yang baik kepada bayi yang baru dilahirkan.
a.       Seorang Muslim wajib percaya kepada hari kebangkitan dan perlu mengakui bahawa nama yang diberikan kepada anak di dunia akan kekal digunakan di akhirat. Abu Darda ada meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda:
إنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيامَةِ بأسْمائكُمْ وأسماءِ آبائِكُمْ فأحْسِنُوا أسْماءَكُمْ
                 Sesungguhnya kamu akan diseru/dipanggil pada hari Kiamat nanti dengan nama-nama kamu dan juga nama bapa-bapa kamu, maka perelokkanlah nama-nama kamu.” (Riwayat Imam Abu Daud dari Abu Dardak r.a.)
b.      Disunatkan memberi nama kepada bayi pada hari ketujuh kelahirannya sebagaimana yang terdapat dalam sabda Rasulullah SAW;
كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينٌ بِعَقِيقَةٍ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ، وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى
“              Setiap anak kecil (bayi) dipertaruhkan dengan suatu aqiqah; disembelih untuknya pada hari ke tujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama”. (Riwayat Imam Abu Daud, Tirmizi, an-Nasai dan Ibnu Majah dari Hasan r.a. dari Samurah bin Jundub r.a.)
                  Rasulullah SAW juga pernah memberi nama kepada bayi pada hari dilahirkan. Antaranya ialah hadis dari Abu Musa al-Asy’ari r.a. yang menceritakan;
وُلِدَ لِي غُلاَمٌ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَسَمَّاهُ: إِبْرَاهِيمَ، وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ
                 “Telah dilahirkan untukku seorang anak, lalu aku membawanya kepada Rasulullah SAW, maka baginda menamakannya Ibrahim dan baginda mentahniknya dengan sebiji buah tamar serta baginda mendoakan keberkatan untuknya.” (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim).
                   Maka, adalah menjadi sunnah, menamakan bayi pada hari ketujuh atau pada hari ia dilahirkan. Imam Nawawi dalam al-Azkar menegaskan; “Yang menjadi sunnah ialah menamakan bayi pada hari ketujuh dari hari kelahirannya atau menamakannya pada hari kelahirannya”. Manakala Imam Bukhari menjelaskan; “Hadis-hadis yang menyebutkan hari kelahiran dimengertikan bagi orang yang tidak berniat melakukan aqiqah dan adapun hadis-hadis yang menyebutkan hari ketujuh, maka dimengertikan bagi orang yang ingin melakukan aqiqah bagi anaknya..
c.       Disunatkan memberi nama-nama yang baik kerana Rasulullah SAW bersabda;
إنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيامَةِ بأسْمائكُمْ وأسماءِ آبائِكُمْ فأحْسِنُوا أسْماءَكُمْ
“                  Sesungguhnya kamu semua akan diseru/dipanggil pada hari Kiamat dengan nama-nama kamu dan nama-nama bapa kamu. Oleh demikian, perelokkanlah nama-nama kamu.” (Riwayat Imam Abu Daud dari Abu Dardak r.a.)
d.      Nama yang paling baik ialah Abdullah dan Abdurrahman sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW;
إنَّ أحَبَّ أسْمائكُمْ إلى اللّه عَزَّ وَجَلَّ عَبْدُ اللّه، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ
“           Sesungguhnya nama yang paling disukai oleh Allah dari nama-nama kamu ialah Abdullah dan Abdurrahman.” (Riwayat Imam Muslim dari Abdullah bin Umar r.a.)
              e. Menamai seperti nama para Nabi seperti Ibrahim, Hud, Soleh, Muhammad dan sebagainya. Sebagaimana sedia dimaklumi bahawa, Rasulullah SAW telah menamakan salah seorang anaknya dengan nama Ibrahim.
تَسَمَّوا بأسْماءِ الأنْبِياءِ، وَأحَبُّ الأسْماءِ إلى اللّه تَعالى عَبْدُ اللّه وَعَبْدُ الرَّحْمَن، وأصْدَقُها: حَارِثٌ وَهمَّامٌ، وأقْبَحُها: حَرْبٌ وَمُرَّةُ
“             Berilah nama dengan nama-nama para Nabi. Nama yang paling disukai oleh Allah ialah Abdullah dan Abdurrahman. Nama yang paling tepat (dengan hakikat manusia) ialah Harith dan Hammam, dan nama yang paling buruk ialah Harb dan Murrah.” (Riwayat Abu Daud, an-Nasai dan lain-lain dari Abi Wahb al-Jusyami r.a.)
3. MENDIDIK ANAK DENGAN AL QUR’AN

Pendidikan anak adalah perkara yang sangat penting di dalam Islam. Di dalam Al-Quran kita dapati bagaimana Allah menceritakan petuah-petuah Luqman yang merupakan bentuk pendidikan bagi anak-anaknya. Begitu pula dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kita temui banyak juga bentuk-bentuk pendidikan terhadap anak, baik dari perintah maupun perbuatan beliau mendidik anak secara langsung.
Seorang pendidik, baik orangtua maupun guru hendaknya mengetahui betapa besarnya tanggung-jawab mereka di hadapan Allah ‘azza wa jalla terhadap pendidikan putra-putri islam.
Tentang perkara ini, Allah azza wa jalla berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)
Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban”
Untuk itu -tidak bisa tidak-, seorang guru atau orang tua harus tahu apa saja yang harus diajarkan kepada seorang anak serta bagaimana metode yang telah dituntunkan oleh junjungan umat ini, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa tuntunan tersebut antara lain:
a.      Menanamkan Tauhid dan Aqidah yang Benar kepada Anak
Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa tauhid merupakan landasan Islam. Apabila seseorang benar tauhidnya, maka dia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, tanpa tauhid dia pasti terjatuh ke dalam kesyirikan dan akan menemui kecelakaan di dunia serta kekekalan di dalam adzab neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni yang lebih ringan daripada itu bagi orang-orang yang Allah kehendaki” (An- Nisa: 48)
Oleh karena itu, di dalam Al-Quran pula Allah kisahkan nasehat Luqman kepada anaknya. Salah satunya berbunyi,
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”.(Luqman: 13)
b.      Mengajari Anak untuk Melaksanakan Ibadah
Hendaknya sejak kecil putra-putri kita diajarkan bagaimana beribadah dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mulai dari tata cara bersuci, shalat, puasa serta beragam ibadah lainnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Al-Bukhari).
“Ajarilah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun (bila tidak mau shalat-pen)” (Shahih. Lihat Shahih Shahihil Jami’ karya Al-Albani).
Bila mereka telah bisa menjaga ketertiban dalam shalat, maka ajak pula mereka untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid. Dengan melatih mereka dari dini, insya Allah ketika dewasa, mereka sudah terbiasa dengan ibadah-ibadah tersebut.
c.       Mengajarkan Al-Quran, Hadits serta Doa dan Dzikir yang Ringan kepada Anak-anak
Dimulai dengan surat Al-Fathihah dan surat-surat yang pendek serta doa tahiyat untuk shalat. Dan menyediakan guru khusus bagi mereka yang mengajari tajwid, menghapal Al-Quran serta hadits. Begitu pula dengan doa dan dzikir sehari-hari. Hendaknya mereka mulai menghapalkannya, seperti doa ketika makan, keluar masuk WC dan lain-lain.
d.      Mendidik Anak dengan Berbagai Adab dan Akhlaq yang Mulia
Ajarilah anak dengan berbagai adab Islami seperti makan dengan tangan kanan, mengucapkan basmalah sebelum makan, menjaga kebersihan, mengucapkan salam, dll.
Begitu pula dengan akhlak. Tanamkan kepada mereka akhlaq-akhlaq mulia seperti berkata dan bersikap jujur, berbakti kepada orang tua, dermawan, menghormati yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda, serta beragam akhlaq lainnya.
e.       Membiasakan Anak dengan Pakaian yang Syar’i
Hendaknya anak-anak dibiasakan menggunakan pakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Anak laki-laki menggunakan pakaian laki-laki dan anak perempuan menggunakan pakaian perempuan. Jauhkan anak-anak dari model-model pakaian barat yang tidak syar’i, bahkan ketat dan menunjukkan aurat.
Tentang hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang meniru sebuah kaum, maka dia termasuk mereka.” (Shahih, HR. Abu Daud).

Uraian di atas hanya sebagian kecil kewajiban orang tua yang harus ditunaikan untuk anknya. Janganlah kita selulu menuntut anak untuk melaksankan kewajibananya secara baik, tetapi penuhilah hak anak dahulu. Semoga bisa bermanfaat, terutama bagi orangtua dan para pendidik. Wallahu a’lam bishsawab.

muslimah ideal

MUSLIMAH IDEAL
Oleh Sri widiarsi

Muslimah ideal adalah muslimah yang taat kepada Allah dalam setiap lini kehidupannya, Qs. An Nisa’:34, muslimah harus bisa menjadi perhiasan dunia Qs. Ali Imron: 14, sebagai tanah yang subur untuk menyemaikan benih yang unggul Qs. Al Baqarah:223 dan sebagai pakaian yang dapat melindung pemakainya Al Baqarah: 187. Untuk merealisasikan ayat ayat Allah di atas, seorang muslimah harus memiliki bebererapa karakter sebagai berikut :

1.       Berpendirian teguh
Seorang muslimah berpendirian teguh, berpendirian teguh di sini berarti dia harus mantap dengan apa yang diyakininya. Kayakinan ini berupa aqidah yang mengakar kuat di dalam jiwanya seperti yang digambarkan dalam Qs, ibrahim:24-25. Di situ Allah menggambarkan akidah yang kuat seperti pohon yang akarnya kuat menghujam ke dalam tanah, dahannya menjulang dan menghasilkan buahnya setiap waktu denga seizin allah.

2.       Santun dalam bersikap
Sopan santun disini adalah tingkah laku yang punya nilai natural, asli dan spontan. Muslimah yang santun adalah muslimah yang mampu menghiasi dirinya dengan akhlak karimah, ia tahu dan mengamalkan kewajibannya kepada Allah, kepada dirinya, kepada orang tuanya, kerabat, tetangga, teman, guru, pimpinan. Terhadap hartapun tak luput dari perhatiannya, wanita muslimah harus bijak mensikapi hartanya (darimana ia peroleh harta itu dan kemana melokasikan harta selalu ia cermati).

3.       Cerdas
Muslimah yang cerdas bukan karena tingginya pendidikan formal yang ia raih, maupun luasnyabpengalaman hidup, namun muslimah yang cerdas adalah muslimah yang mampu menilai dan melihat keadaan di sekitarnya untuk kemudian mengambil sikap yang tepat, ia mampu mengelola kemampuannya. Muslimah yang cerdas bukan karena tingginya pendidikan formal yang ia raih, maupun luasnya pengalaman hidupnya, ataupun pintarnya dia bicara di depan orang banyak.

4.       Aktif dan kreatif
Aktif dan kretif bagi seorang muslimah erat hubungannya dengan kecerdasan seseorang, aktif dan kretif di sini menunjukkan wujud real dari potensi yang dimiliki oleh seorang muslimah.

5.       Berkepribadian yang matang
Kepribadian yang matang adalah kemampuan seseorang dalam mengekspresikan emosi dan mengelola hubungan dengan orang lain, sehingga memiliki kemampuan dalam memecahkan berbagai masalah dengan bijaksana. Kepribadian ini harus tegak di atas dasar iman yang dibalut dengan ilmu dan keshahihan amal yang menghasilkan terbentuknya karakter dan tabiat yang shohihah.


6.       Piawai dalam mengatur pola hidup
Muslimah harus sadar bahwa sebagai manusia ia diciptakan oleh Allah terdiri dari tiga unsur : ruh, jasad dan akal dia harus mampu memberikan asupan yang seimbang terhadap tiga unsur tersebut.
7.       Berwawasan luas
Muslimah saat ini hidup di era globalisasi di mana arus informasi begitu derasnya, karena itu dibutuhkan kecakapan dan wawasan yang cukup untuk dapat menyaring berbagai informasi agar bermanfaat bagi dirinya.

8.       Disiplin
Disipli adalah sikap mental untuk melakukan hal-hal yang seharusnya, pada saat yang tepat dan benar-benar menghargai waktu. Sebagaimana Allah mengingatkan kepada kita dalam surat al ‘ashr, sebagai perintah Allah agar kita memperhatikan waktu kita agar kita tidak termasuk orang yang merugi, waktu ibarat pedang, apabila kita tidak menggunakan dengan bijaksana kita bisa terkenan sendiri.
9.       Tangguh dan memiliki daya juang yang tinggi.
Hidup ini memang perjuangan, muslimah harus memiliki kesiapan untuk berjuang sepenuh hati dengan segala konskwensi yang akan dihadapi. Muslimah sadar bahwa dunia adalah tempat ujian dan cobaan , kadang ujian berupa kenikmatan kadang berupa kesusahan. Seorang muslimah harus yakin Allah tidak akan menguji hambanya di luar kesanggupannya. Berapapun beratnya ujian yang menimoa seorang muslimah harus berjuang dengan segala kemampuan dan kesabaran untuk menjalani ujian yang menmpanya. Keikhlasan dan kesabaran harus selalu dijadikan teman setia, agar mampu menjalani segala persoalan hidupnya.

10.   Handal dalam mengatur rumah tangga

Sembilan karakter yang tersebut di atas harus dimiliki oleh muslimah secara umum baik dia belum menikah ataupun sudah menikah. Kriteria yang ke sepuluh ini adalah bagi yang sudah menikah. Peran wanita dalam rumah tangga sangatlah besar, maka benarlah sebua slogan di balik kesuksesan seorang laki-laki pasti selalu ada dua wanita hebat yabg mendukung mereka dari balik layar, wanita itu adalah ibu dan istri.
 masing-masing karakter akan dikupas pada tulisan selanjutnya insya Allah

dirangkum dari buku Spirit Muslimah Sejati yang ditulis ustadzah Siswati Ummu Ahmad